Perang Timur Tengah, Prof.Wahyu Wibowo dan Komponis Ananda Sukarlan Membidiknya Melalui Puisi ‘Jelang April 2026’ Karya Pulo Lasman Simanjuntak

JAKARTA– Perang di Timur Tengah nyaris akan memasuki waktu satu bulan.Telah banyak jatuh korban manusia dan harta benda, serta kerugian ekonomi lainnya.

Bahkan perang -semula hanya melibatkan negara Amerika Serikat , Israel, dan Iran-kini dampaknya mulai dirasakan beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia.8

Nah, dari sinilah Penyair Pulo Lasman Simanjuntak mendapat inspirasi untuk “memotret” perang tersebut dengan menulis puisi berjudul “Jelang April 2026”.

Puisi yang berisikan pergumulan batin rohani dan kegelisahan sang penyair- bila perang tak kunjung terselesaikan- apa nanti yang bakal terjadi dikemudian hari.

Pada kesempatan ini Prof.Wahyu Wibowo (Dosen, Penyair, dan Pengamat Sastra) dan Komponis Ananda Sukarlan (Pianis dan Musisi Klasik Indonesia & Internasional) mencoba mengkritisi dan membidiknya melalui puisi karya Pulo Lasman Simanjuntak berjudul “Jelang April 2026 ” yang terdiri dari lima bait, dan ditulis pada Kamis 26 Maret 2026.

Bacaan Lainnya

Puisi

Pulo Lasman Simanjuntak

JELANG APRIL 2026

jelang april 2026
semalaman aku terus dihajar
mimpi-mimpi mengerikan
bersama sajakku
makin terkapar

mungkinkah mimpi-mimpi itu
jadi kenyataan
karena perang rudal
tak kunjung terselesaikan

bahkan telah membakar
semua pengharapan
angan-angan
dalam kesusahan
dan pencobaan

aku harus bersabar, pesanmu
di atas kendaraan kemenangan
usianya telah mencapai ribuan
perjalanan
paling menegangkan
menuju tanah kanaan

sebab hanya Tuhan
selalu ada di depan
sehingga jiwaku
makin tenang
seperti tak tergoyahkan

Jakarta, Kamis 26 Maret 2026

**/Pulo Lasman Simanjuntak, karya puisinya telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal dan 50 buku antologi bersama para penyair di seluruh Indonesia.Karya puisinya sejak tahun 1980 s/d tahun 2026 telah dimuat di 23 media cetak (koran, suratkabar mingguan, dan majalah), serta dipublish (tayang) pada 300 media online (website) dan majalah digital di Indonesia dan Malaysia.

Prof.Wahyu Wibowo : Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (UNAS)

Dengan menyebut kata-kata ‘sebab hanya Tuhan selalu ada di depan, sehingga jiwaku makin tenang’, kian menebalkan citra imanen dalam diri Pulo Lasman Simanjuntak (Penyairnya).

“Bahwa walau ada perang rudal yang tak terselesaikan, ia harus tetap meyakini pesan-Nya di atas kendaraan kemenangan,” ujar Prof.Wahyu Wibowo ketika diminta komentarnya tentang puisi berjudul ” Jelang April 2026″ di Jakarta, Minggu (29/3/2026).

Dikatakannya lagi oleh Prof.Wahyu Wibowo- yang mengajar mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Filsafat Bahasa di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional- Penyair Pulo Lasman Simanjuntak dengan keimanenannya itu, selalu merasakan harapan yang terbakar, yang meremuklantakkan semua sajak-sajaknya tentang Tanah Pembebasan.

” Impian tentang Tanah itulah yang makin menebalkan dirinya sebagai penyair romantik, yang kata Chairil ‘serupa Ashaveros ketika mendaki bukit’. Bukit yang tak kunjung selesai didaki, bukit yang berulangkali menyebabkan sajak-sajaknya terkapar: sebuah makna perlokutif yang memancing jejak-jejak yang hermeneutis,” pungkasnya.

Ananda Sukarlan, Komponis dan Pianis Musik Klasik Indonesia : 

Puisi ini sangat menyentuh karena mengeksploitasi tema yang berat (trauma, perang, iman) dengan perjalanan emosinya yang kuat: dari kegelapan mimpi dan realitas perang menuju harapan cahaya ketenangan rohani.

“Yang paling “menonjok” untuk saya sebagai komponis / musisi adalah kontras antara mimpi buruk yang mengerikan dengan ketenangan akhir yang “tak tergoyahkan”.Ini mencerminkan pengalaman spiritual banyak orang di tengah krisis, bahwa ketakutan tetap ada, tapi iman mencegah untuk putus asa,” ujar Komponis dan Pianis Ananda Sukarlan di Jakarta, Minggu (29/3/2026).

Menurutnya , dari segi konstruksi, ini sangat simfonik, karena puisi ini berhasil menciptakan suasana gelap, cemas, dan tegang di awal, lalu bergerak secara perlahan menuju harapan akan ketenangan spiritual.

Perpindahan emosi dari ketakutan → kekhawatiran → keputusasaan → penerimaan dan ketenangan ini cukup jelas terasa.

” Ini salah satu kekuatannya, yang bisa saya bandingkan dengan Simfoni no. 2 Jean Sibelius atau Simfoni no. 3 Alexander Scriabin yang “dipadatkan”. Selain itu puisi ini mendokumentasikan situasi perang Donald Trump yang tega membunuh ribuan (mungkin akan menjadi jutaan) orang dan mengacaukan dunia hanya demi mengalihkan isu dokumen dan barang bukti Jeffrey Epstein,” pungkasnya..(*/Eykel Lasflorest) 

 

Pos terkait