Tinjau Pasien Transplantasi Hati di RS Fatmawati, Wamenkes Dante: Biaya Rp600 Juta Ditanggung BPJS Kesehatan!

Wamenkes Dante Saksono memberrikan keterangan pers usai meninjau pasien transplantasi hati di RS Fatmawati

JAKARTA – Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, meninjau langsung pasien transplantasi hati di RS Fatmawati, Jumat (10/4/2026). Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan keberhasilan prosedur sekaligus mendorong pengembangan layanan transplantasi organ di Indonesia.

Dalam keterangannya, Dante menjelaskan bahwa transplantasi hati menjadi terapi terakhir bahkan satu-satunya bagi pasien dengan kondisi penyakit hati kronis yang sudah parah, seperti sirosis akibat infeksi hepatitis atau konsumsi alkohol.

“Kalau fungsi hati tidak lagi mampu mengeluarkan racun dari tubuh, maka kondisi pasien bisa menjadi fatal. Oleh karena itu, transplantasi menjadi solusi penyelamat hidup,” ujarnya.

Diakui Wamenkes Dante, transplantasi hati di RS Fatmawati ini merupakan kasus ketiga yang dilakukan di rumah sakit milik pemerintah, setelah sebelumnya dilakukan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dan RSUP Dr. Sardjito.

Dante juga menegaskan bahwa biaya transplantasi hati yang mencapai sekitar Rp600 juta sepenuhnya ditanggung oleh BPJS Kesehatan.“Ini bentuk komitmen pemerintah agar masyarakat bisa mendapatkan layanan kesehatan canggih tanpa harus ke luar negeri,” katanya.

Bacaan Lainnya

Pasien yang menjalani transplantasi adalah seorang pria, dengan donor dari anaknya sendiri yang berusia 26 tahun. Berdasarkan hasil pemantauan, kondisi pasien saat ini stabil dan masih dalam pengawasan di ruang ICU. Demikian juga pendonor hati, dalam kondisi stabil.

Transplantasi hati dari donor hidup sangat memungkinkan untuk terus dikembangkan di masa depan. Pendonor hati akan pulih total dengan hati yang kembali tumbuh sempurna setelah 6 bulan pascaoperasi.

Kolaborasi Internasional dan Transfer Ilmu

Proses transplantasi dilakukan melalui kerja sama dengan Seoul National University Hospital, di bawah supervisi ahli transplantasi, K.W. Lee, yang telah menangani lebih dari 2.000 kasus transplantasi hati. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tim medis Indonesia melalui transfer pengetahuan dan keterampilan. Pemerintah berharap ke depan tenaga medis dalam negeri dapat melakukan prosedur ini secara mandiri.

Ahli transplantasi hati asal Korea Selatan, K.W. Lee, dalam pernyataannya menyampaikan apresiasi tinggi terhadap perkembangan program transplantasi hati di RS Fatmawati. Ia menilai kemajuan yang dicapai dalam waktu relatif singkat menunjukkan komitmen kuat pemerintah Indonesia di bidang kesehatan.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Lee memperkenalkan dirinya sebagai perwakilan dari Seoul National University Hospital, dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang transplantasi hati serta telah menangani lebih dari 2.000 kasus.

“Saya sangat senang ketika menerima undangan dari RS Fatmawati sekitar dua setengah tahun lalu, terutama karena ahli bedah utama di sini merupakan dokter yang pernah saya latih. Hal ini membuat kolaborasi menjadi lebih mudah dan efektif,” ujarnya.

Prof. Lee menekankan bahwa salah satu keunggulan program transplantasi di Indonesia adalah inisiatifnya yang datang langsung dari pemerintah, berbeda dengan banyak negara lain seperti India dan Vietnam yang umumnya digerakkan oleh sektor swasta.“Ini sangat penting karena menunjukkan komitmen nasional dalam membangun sistem layanan transplantasi yang berkelanjutan,” tambahnya.

Sejak dimulainya kerja sama, tim medis Indonesia telah melalui berbagai tahapan, mulai dari kunjungan awal hingga pelaksanaan kelas pelatihan (master class) yang dimulai sekitar satu tahun lalu.

Meski baru menangani tiga kasus transplantasi, Prof. Lee mengaku terkesan dengan perkembangan yang terjadi. “Saya melihat banyak kemajuan. Saat ini, RS Fatmawati sudah menyelesaikan pelatihan dasar. Selanjutnya adalah belajar dari kasus nyata dan meningkatkan kemampuan ke teknologi yang lebih maju,” jelasnya.

Prof. Lee juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan transplantasi hati di Indonesia melalui transfer ilmu dan pengalaman.

“Saya berharap pemerintah Indonesia terus memberikan dukungan terhadap program ini. Saya juga berkomitmen untuk melakukan yang terbaik dalam kerja sama ini,” katanya.

Direktur Medik dan Keperawatan RS Fatmawati dr. Muhammad Azhari Taufik Sp.An-TI, Subsp. TI (K) menyampaikan bahwa rumah sakit telah menyiapkan klinik khusus transplantasi organ untuk melayani konsultasi masyarakat.

Ke depan, program transplantasi akan terus dikembangkan dengan memilih kasus-kasus yang relatif sederhana terlebih dahulu sebagai bagian dari proses pembelajaran (learning curve).

Dengan dukungan pemerintah dan kolaborasi internasional, RS Fatmawati diharapkan dapat menjadi pusat unggulan transplantasi organ di Indonesia. Selain itu, keberhasilan ini membuka peluang lebih luas bagi pasien dalam negeri untuk mendapatkan layanan medis berkualitas tinggi tanpa harus berobat ke luar negeri.

Pos terkait