JAKARTA – Pemerintah mendorong transformasi layanan kesehatan nasional melalui pengembangan precision health treatment berbasis teknologi genom sequencing. Inisiatif ini digagas Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan akan diperkuat melalui pembentukan konsorsium riset nasional yang melibatkan perguruan tinggi serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Dengan memahami genom, diagnosis dan pengobatan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Kita bisa periksa dengan pasti ketika ciri-ciri penyakit sudah muncul, lalu langsung tahu bagaimana cara mengobatinya dengan presisi. Ini yang akan mereformasi industri kesehatan di Indonesia,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin pada kegiatan Biomedical Genome Science Initiative (BGSI) Ecosystem Roadshow: Pengenalan BGSI kepada Akademisi dan Ekosistem Kesehatan Indonesia di kantor Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kamis (12/2).
Menurutnya, pengembangan genomik akan membawa perubahan besar dalam industri kesehatan Indonesia. Pendekatan kesehatan presisi tidak hanya relevan untuk manusia, tetapi juga berpotensi diterapkan pada sektor pertanian dan peternakan. Namun, dalam tahap awal, fokus diarahkan pada sektor kesehatan dengan menargetkan tiga penyakit utama, yakni stroke, penyakit jantung, dan kanker payudara.
“Harapannya, tiga penyakit ini menjadi pilot project bagaimana Indonesia bisa maju melalui teknologi genom sequencing,” ujar Menkes.
Menurut Menkes Budi, konsep precision health memungkinkan pemeriksaan dan pengobatan yang lebih personal. Selama ini, pasien dengan gejala serupa kerap mendapatkan obat yang sama, padahal penyebab penyakitnya bisa berbeda.
Sebagai ilustrasi, batuk dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Tanpa pemeriksaan presisi, pasien cenderung menerima obat umum. Dengan teknologi genomik, penyebab spesifik dapat diidentifikasi sehingga terapi yang diberikan lebih tepat sasaran dan efektif.
Tubuh manusia diketahui memiliki sekitar 3 miliar pasangan basa DNA. Ketika seseorang sakit, bisa terjadi perubahan atau mutasi pada bagian tertentu. Melalui pengumpulan dan perbandingan data genom dalam jumlah besar, peneliti dapat mengidentifikasi pola mutasi yang berkaitan dengan penyakit tertentu.
Kemajuan teknologi komputasi yang semakin murah dan cepat kini memungkinkan analisis data genom dalam skala besar. Indonesia menargetkan pengumpulan 400 ribu data genom hingga tahun 2030. Saat ini, jumlah yang telah terkumpul sekitar 12.500 data, dengan target peningkatan hingga 100 ribu sampel per tahun dalam beberapa tahun ke depan.
Bentuk Konsorsium Riset
Menkes menekankan bahwa riset genomik membutuhkan kerja sama lintas disiplin, mulai dari biologi, kimia, matematika, kecerdasan artifisial, hingga kedokteran. Karena itu, pembentukan konsorsium riset dapat mengintegrasikan kekuatan laboratorium, rumah sakit, universitas, serta peneliti BRIN.
“Kolaborasi ini dirancang untuk jangka panjang, diproyeksikan hingga 10–15 tahun, dan masuk dalam perencanaan pembangunan nasional.Selain itu, ditekankan pula riset genomik membutuhkan kerja sama lintas disiplin, mulai dari biologi, kimia, matematika, kecerdasan artifisial, hingga kedokteran,” terang Menkes Budi.
Dari sisi perencanaan, pemerintah memastikan program ini telah memiliki payung dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Pendekatan genomik dinilai sebagai langkah strategis untuk menekan pembiayaan penyakit kronis dan katastropik yang terus meningkat setiap tahun.
“Jika diagnosis dan terapi lebih tepat, pemborosan bisa dihindari. Itu akan membuat sistem keuangan kesehatan lebih stabil dan berkelanjutan,” ujar perwakilan lembaga perencana pembangunan nasional.
Perkuat Keamanan Data
Menanggapi kekhawatiran soal keamanan data genetik, Kemenkes menegaskan bahwa pelaksanaan pemeriksaan di dalam negeri justru memperkuat kontrol negara atas data. Seluruh data genomik diwajibkan tersimpan di pusat data nasional sesuai regulasi terbaru.
“Sebelumnya banyak sampel diperiksa di luar negeri sehingga kontrolnya terbatas. Sekarang data disimpan di dalam negeri dengan sistem keamanan negara,” jelas Menkes.
Selain diagnosis penyakit, teknologi ini juga mendukung pengembangan farmakogenomik, yakni penyesuaian obat berdasarkan profil genetik pasien. Perbedaan genetik antarindividu dapat memengaruhi efektivitas obat tertentu.
Sebagai contoh, terdapat gen bernama CYP2C19 yang memengaruhi respons terhadap obat Clopidogrel, yang umum digunakan pada pasien kardiovaskular. Studi menunjukkan sekitar 40 persen populasi Indonesia memiliki variasi genetik tertentu yang membuat obat tersebut kurang efektif.
Dengan pemeriksaan genetik terlebih dahulu, dokter dapat menentukan obat yang paling sesuai bagi pasien, sehingga meningkatkan keberhasilan terapi sekaligus mengurangi pemborosan biaya akibat pengobatan yang tidak efektif.
Langkah Strategis Jangka Panjang
Pemerintah menilai investasi di bidang genomik merupakan langkah strategis untuk memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mendorong kemandirian riset dan inovasi dalam negeri. Dalam jangka panjang, pendekatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan kesehatan, tetapi juga memperkuat ketahanan fiskal sektor kesehatan.








