Kembangkan Pengobatan Berbasis Genom, Pemerintah Bentuk Konsorsium Riset Nasional

Menkes Budi bersama Ketua DEN Luhut Panjaitan, Kepala BRIN Arif Satria, dan Menristekdikti Brian Yuliarto pada kegiatan Biomedical Genome Science Initiative (BGSI) Ecosystem Roadshow: Pengenalan BGSI kepada Akademisi dan Ekosistem Kesehatan Indonesia di kantor Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kamis (12/2).

Melalui kolaborasi lintas lembaga dan dukungan perencanaan jangka panjang, Indonesia menargetkan menjadi salah satu negara yang mampu memanfaatkan teknologi genomik secara optimal untuk pelayanan kesehatan yang lebih presisi, personal, dan berkelanjutan

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menjelaskan dukungannya terhadap rencana pembentukan konsorsium riset yang melibatkan Kemenkes, peneliti dari perguruan tinggi, maupun dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Menurutnya, BGSI merupakan program nasional yang bertujuan membangun ekosistem riset genomik Indonesia melalui pengelolaan biobank, data genomik, serta tata kelola yang terintegrasi dan terbuka bagi berbagai pemangku kepentingan. Hingga saat ini, lebih dari 15.000 sampel telah melalui proses sequencing, lebih dari 1.900 hasil targeted sequencing telah dikembalikan, dan lebih dari 20 nota kesepahaman (MoU) telah ditandatangani untuk memperluas kolaborasi.

Genom sendiri adalah informasi genetik yang terdapat di dalam sel setiap makhluk hidup. Melalui teknologi sequencing, para ilmuwan dapat memahami bagaimana suatu penyakit terjadi, bagaimana tubuh seseorang merespons penyakit, hingga bagaimana terapi dapat dirancang lebih tepat sasaran. Pendekatan ini dikenal sebagai precision medicine atau kesehatan presisi.

“Kita perlu bekerja sebagai satu tim. Kita tentukan bersama proyek riset prioritas secara terfokus, melibatkan perguruan tinggi, rumah sakit, BRIN, serta terbuka untuk kolaborasi dengan peneliti internasional,” tegas Menteri Brian.

Bacaan Lainnya

Pos terkait