Ngobrol dengan Komponis dan Pianis Ananda Sukarlan di Hari Internasional Asperger, Rabu 18 Februari 2026

JAKARTA– Pada Rabu 18 Februari 2026 telah disahkan sebagai International Asperger’s Day untuk menghargai keunikan, kekuatan, dan potensi individu yang memiliki kondisi tersebut.

Tanggal ini dipilih untuk memperingati hari lahir Hans Asperger (18 Februari 1906), dokter anak Austria yang pertama kali mendeskripsikan ciri-ciri kondisi ini pada tahun 1940-an.

Di tengah pemahaman yang semakin berkembang bahwa neurodiversitas adalah bagian alami dari keragaman manusia, peringatan ini mengajak kita semua untuk menerima, menghilangkan stigma dan stereotip, serta mendukung inklusi penuh dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial bagi para individu di spektrum autisme, sehingga mereka dapat hidup dengan lebih bermartabat dan berkontribusi sesuai kemampuan mereka yang seringkali luar biasa.

Salah satu tokoh Indonesia penyandang Sindrom Asperger adalah Komponis & Pianis Ananda Sukarlan yang ditulis oleh harian Australia, Sydney Morning Herald sebagai “one of the world’s leading pianists, at the forefront of championing new piano music”.

Selain dianugerahi penghargaan tertinggi sipil dari Kerajaan Spanyol “Real Orden de Isabel la Católica”, Ananda Sukarlan juga pernah dianugerahi gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” oleh Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020.

Bacaan Lainnya

Ia juga seniman Indonesia pertama yang diundang Portugal tepat setelah hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal pada tahun 2000, dan juga telah dianugerahi banyak pengakuan swasta seperti Prix Nadia Boulanger dari Orleans, Perancis.

Ananda Sukarlan adalah salah satu dari 32 tokoh dalam buku “Heroes Amongst Us (Pahlawan di Antara Kita)”, yang ditulis oleh Dr. Amit Nagpal yang diterbitkan oleh OakBridge Publishing di India.

Ananda juga masuk sebagai salah satu dari 100 “Asia’s Most Influential” atau “Orang Asia Paling Berpengaruh” di dunia seni tahun 2020 oleh Majalah Tatler Asia.

Berikut obrolan dengan Komponis dan Pianis Ananda Sukarlan bersama Wartawan & Penyair Lasman Simanjuntak, yang dua puisinya telah digubah menjadi tembang puitik (karya vokal diiringi piano) oleh Ananda Sukarlan dan dipagelarkan antara lain di Glasgow (Skotlandia) oleh mezzo soprano dari Malaysia, Zoe Hong Yee Huay.

Lasman Simanjuntak (LS) : Anda telah sering menyatakan bahwa anda hipersensitif terhadap suara dan cahaya. Apakah dua hal tersebut mempengaruhi anda secara berbeda?

Ananda Sukarlan (AS) : Saya lebih memahami suara— tepatnya musik, yang saya anggap sebagai “suara yang dirapihkan”— daripada apa pun yang bersifat visual. Saya memang sangat terganggu dengan stimulasi berlebihan. Terlalu banyak rangsangan visual, misalnya lampu yang menyilaukan memang bikin saya tidak nyaman. Kalau bunyi, itu terutama mengganggu saat saya sedang menulis musik ; bunyi “noise’ masih sering ok, tapi begitu ada bunyi dengan nada / ‘pitch’ atau bahkan membentuk kurva melodik, itu mengganggu konsentrasi saya. Pada umumnya memang saya lebih suka kesunyian, saya tidak pernah menyetel musik “background”.

LS : Apakah mendengarkan musik membantu anda mengatasi efek dari Asperger? Jika ya, bagaimana?

AS : Saya rasa Asperger saya telah memengaruhi respons dan kebutuhan mendalam saya akan musik. Ketika saya belum sekolah sejauh yang saya ingat, dunia berasa benar-benar kacau dan tidak berarti bagi saya, tetapi semuanya bisa disatukan ketika saya mendengarkan musik. Hanya musik yang “masuk akal’ sementara segala sesuatu di sekitar saya tampak membingungkan dan menakutkan. Sepertinya saya terlahir dengan kemampuan untuk memahami musik, setidaknya sesuai keinginan saya sendiri, jauh sebelum saya mempelajarinya secara teknis.

LS : Apakah ini umum terjadi pada orang dengan sindrom ini?

AS : Asperger itu sangat luas. Ada pengidap yang memiliki indra penciuman yang sangat tajam. Ada yang sangat tertarik pada detail visual, misalnya pelukis Anfield Wibowo atau di Amerika Andy Warhol. Menurut pengamatan saya, para Aspie (sebutan untuk para pengidap Asperger’s Syndrome) sangat tertarik pada sebagian elemen kehidupan tetapi tidak menyadari sebagian besar sisanya. Kita dapat fokus pada satu hal dengan intensitas tinggi sementara seluruh dunia berlalu begitu saja.

LS : Anda telah berbicara tentang menjadi sistematis. Apakah anda lebih suka mendengarkan musik dengan cara tertentu?

AS : Saya dapat menikmati musik pada level apa pun, tapi saya justru terganggu dengan musik yang diputar sebagai latar belakang seperti di restoran atau hotel. Dengan berjalannya usia, saya telah belajar untuk mengabaikan musik yang tidak saya sukai.
Semua itu berubah jika saya sedang menonton sebuah konser (musik klasik). Di situ saya mendengarkan dengan sangat saksama dan mencerna banyak hal, memperlakukannya seolah-olah saya adalah seorang seniman yang sedang membuat sketsa kehidupan. Saya mendengarkan setidaknya dalam dua cara berbeda secara bersamaan: fokus detailnya (tiap not, melodi, harmoni, artikulasi dll), dan yang lebih penting lagi adalah memperhatikan struktur / bentuk keseluruhannya. Ini ibarat hutan dan pepohonan: memperhatikan keduanya untuk menikmati efek total dari sebuah pertunjukan. Saya bisa bosan dengan konser yang secara teknis sempurna tetapi tidak memiliki karakter, dan lebih menikmati pertunjukan yang agak ceroboh sana sini tetapi berkarakter, beridentitas kuat dan sangat menyentuh hati saya.

Pos terkait