Peluncuran dan Diskusi Dua Antologi Puisi LK.Ara, Syair Riwayat Sultanah Safiatuddin dan Restu 

JAKARTA– Peluncuran dan diskusi dua antologi puisi karya LK.Ara Syair Riwayat Sultanah Safiatuddin dan Restu (sebuah catatan perjalanan-red) akan berlangsung Sabtu, 28 Maret 2026 mulai pukul 14.15 WIB di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Lantai IV Gedung Panjang Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Octavianus Masheka, Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) kepada wartawan di Jakarta, Rabu pagi (25/3/2026) mengatakan acara sastra berupa peluncuran buku antologi, diskusi berhadiah buku dan uang tunai.

” Pulang membawa hadiah dan ilmu, ayo, kita ramaikan acara sastra ini,” ujarnya.

Dengan MC (Pembawa Acara) Rissa Churia (Penyair Perempuan Indonesia) dan Moderator Mustafa Ismail, acara ini akan dibuka dengan sambutan dari Nasruddin Djoko Surjono (Kadispusip DKI) serta menghadirkan nara sumber diskusi seperti Narudin Pituin (Penyair dan budayawan), LK.Ara (Penyair), Octavianus Masheka (Penyair dan Deklamator), dan Ine Hidayah (Maestro Sebuku Gayo).

Turut ambil bagian dalam pembacaan puisi berturut-turut Jose Rizal Manua (Penyair dan Deklamator), Imam Ma’arif (Penyair dan Deklamator), Ical Vrigar (Deklamator), Putra Gara (Penyair), Fanny Jonathan Poyk (Penyair), Willy Ana (Penyair), Farinnisa (Pembaca Puisi), dan Indar (Pembaca Puisi).

Bacaan Lainnya

Biografi Penyair L K Ara

L K Ara adalah seorang penyair dan pegiat seni budaya lahir di Takengon, Aceh tgl 12-11-1937. Ia dikenal melalui karya-karya puisi bernuansa religius, tasawuf, serta kuat mengangkat kearifan lokal tanah Gayo dan Aceh.

Dalam perjalanan kreatifnya, ia menempatkan puisi bukan sekadar sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai jalan perenungan spiritual, pengingat sejarah, dan jembatan sosial bagi masyarakat.

Sejak muda, L K Ara telah menunjukkan ketertarikan besar pada dunia sastra, khususnya puisi dan syair tradisi.

Ia tumbuh dalam lingkungan budaya yang kaya akan nilai adat, didong Gayo, kisah kepahlawanan, dan tradisi keislaman yang mendalam.

Pengaruh ini kemudian tampak jelas dalam gaya puisinya yang liris, reflektif, kadang satire tipis, namun tetap sarat pesan moral dan kebijaksanaan.

Dalam karier kepenyairannya, L K Ara telah menulis dan menerbitkan sejumlah buku puisi. Karya-karyanya sering menampilkan tema kehilangan, pencarian makna hidup, cinta ilahiah, kepedulian sosial, serta hubungan manusia dengan alam dan sejarah.

Ia juga aktif membaca puisi dalam berbagai forum seni dan pertemuan sastra, termasuk dalam kegiatan lintas budaya di dalam dan luar negeri.

Selain menulis, L K Ara turut berperan dalam pelestarian seni tradisi Aceh, khususnya budaya Gayo.

Ia kerap mengangkat tokoh, tempat, dan legenda lokal ke dalam puisinya, sehingga karya-karyanya menjadi dokumentasi kultural yang hidup. Baginya, puisi adalah cara menjaga ingatan kolektif agar tidak roboh oleh zaman.

Di usia lanjut, semangat berkaryanya tetap menyala. Ia juga memanfaatkan media digital, termasuk kanal YouTube, untuk membagikan puisi, refleksi budaya, dan dokumentasi seni tradisi kepada generasi muda.

Hal ini menunjukkan komitmennya bahwa sastra harus terus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan ruhnya.

Melalui perjalanan panjangnya, L K Ara dipandang sebagai salah satu suara penting dalam lanskap sastra Aceh kontemporer—seorang penyair yang menulis dengan hati, mengajar dengan pengalaman, dan merawat cahaya tradisi dalam kata-kata. ‎

Pada th 2019 ia menerima Anugerah Kebudayaan Republik Indonesia sebagai maestro Seni Tradisi Gayo.(Lasman)

Pos terkait