Teks foto : Penyair dan Sastrawan -yang juga Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) -Riri Satria sedang diwawancarai oleh Jurnalis Lasman Simanjuntak di area Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta belum lama ini.(Foto : Ist/dok pribadi)
JAKARTA– Sepanjang 2025 denyut literasi sastra di Indonesia tetap hidup, bahkan dalam beberapa aspek justru menunjukkan kesegaran baru.
Puisi, cerpen, dan prosa menemukan ruang-ruang alternatif: media sosial, komunitas daring, panggung baca puisi independen, hingga penerbitan antologi kolektif oleh komunitas.
” Sastra tidak mati, ia hanya berpindah habitat,” ujar Penyair dan Sastrawan Riri Satria dalam wawancara khusus secara tertulis di Jakarta, Sabtu (27/12/2025) tentang Refleksi Sastra di Indonesia sepanjang tahun 2025 dan memasuki tahun 2026.
Namun, lanjutnya, kendala utamanya masih berulang yaitu minimnya ekosistem pendukung yang berkelanjutan, bukan sekadar acara seremonial.
“Literasi sastra sering terjebak elitis, terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat, distribusi karya masih terbatas pada lingkar komunitas yang itu-itu saja,” kata Riri Satria, Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM).
Menurutnya, solusinya bukan hanya memperbanyak lomba atau festival, melainkan membangun ruang temu lintas generasi dan lintas disiplin, menguatkan peran komunitas sebagai simpul literasi lokal, mendorong sastra hadir dalam bahasa yang membumi, tanpa kehilangan kedalaman.
“Oleh karena itu menyambut 2026, tantangan utama sastra Indonesia bukan lagi sekadar melahirkan karya yang indah secara estetika, tetapi menjadikannya relevan secara sosial,” ucap pengamat ekonomi digital dan kreatif ini.
Beresiko Terasing di Lingkar Kecil
Dikatakannya lagi, sastra yang hanya berputar pada permainan bahasa dan metafora, tanpa bersentuhan dengan realitas hidup masyarakat, berisiko terasing di lingkar kecil pembacanya sendiri.
Padahal, sejak awal sejarahnya, sastra Indonesia lahir dari kegelisahan zaman dan pergulatan manusia nyata.
Relevansi sosial tidak berarti sastra harus berubah menjadi slogan atau propaganda.
“Sastra tetap bekerja melalui kehalusan, empati, dan daya sentuh batin,” kilah penyair yang karya puisinya diterbitkan lebih dari 50 buku puisi ini.
Ia menjadi penting ketika mampu memberi bahasa bagi pengalaman sehari-hari, menyuarakan yang terpinggirkan, serta menemani pembaca memahami luka, harapan, dan pertanyaan hidupnya.
Di tengah krisis sosial, budaya digital, dan kegelisahan generasi muda, sastra seharusnya hadir sebagai ruang refleksi bersama.
“Karena itu, menyambut 2026, sastra perlu lebih berani keluar dari ruang nyaman, mendekat ke masyarakat, berdialog dengan generasi baru, dan hadir di ruang-ruang publik,” katanya.
Selain itu menjaga keindahan tetap penting, tetapi keindahan yang hidup adalah keindahan yang bermakna, yang tidak hanya dikagumi, melainkan juga dirasakan dan dibutuhkan.
“Sastra adalah adalah salah satu pilar penjaga peradaban,” selanya.
Menjawab pertanyaan bagaimana dengan apresiasi pemerintah terhadap denyut sastra Indonesia dan masa depan sastrawan.
“Saya melihat pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan instansi terkait sudah mulai menunjukkan itikad baik, tetapi masih cenderung bersifat programatik dan administratif, belum sepenuhnya menyentuh kehidupan konkret sastrawan,” tegasnya.
Dukungan terhadap penerbitan antologi sastra, seperti yang dilakukan berbagai komunitas sastra adalah langkah positif.
” Namun ke depan, perlu dipikirkan skema subsidi dan pendanaan yang transparan dan berkelanjutan, bukan berbasis kedekatan, lalu pengakuan sastra sebagai kerja kebudayaan, bukan sekadar akivitas pelengkap. Sastra itu karya intelektual,” kata Riri Satria yang karya puisinya telah diterbitkan dalam buku antologi puisi tunggal seperti “Jendela (2016)”, Winter in Paris (2017)”, “Siluet”, “Senja”, dan “Jingga (2019)”.
Masa Depan Sastrawan
Ditanya lagi tentang masa depan sastrawan, Riri Satria mengakui Indonesia memang tertinggal dibanding negara seperti Malaysia yang memiliki konsep Sastrawan Negara.
“Kita perlu memikirkan bentuk penghargaan jangka panjang (residensi, jaminan sosial budaya, anugerah negara), pengakuan negara terhadap sastrawan sebagai arsip hidup kebudayaan bangsa, lalu yang tak kalah penting adalah penghargaan bukan soal kemewahan, tetapi martabat kebudayaan. Kata kuncinya martabat kebudayaan,” ucapnya.
Lalu bagaimana usulan untuk DPR RI tahun 2026 mendatang ?
“Payung hukum yang lebih kuat bagi ekosistem sastra dan literasi, bukan hanya industri kreatif.Penguatan anggaran kebudayaan yang benar-benar sampai ke komunitas akar rumput.Regulasi yang mendukung sastra masuk ke ruang publik dan pendidikan,” pungkasnya.
Terkait alih generasi, penyair dan sastrawan perlu keluar dari zona nyaman. Generasi Z hidup dalam dunia visual, cepat, dan dialogis.
Maka: Sastra perlu hadir dalam format baru seperti pembacaan puisi performatif, musikalisasi, konten digital.Bahasa sastra harus jujur dan relevan, bukan menggurui.
Sekolah dan kampus perlu menjadikan sastra sebagai ruang dialog, bukan sekadar hafalan.Sastra tidak boleh hanya “diajarkan”, tetapi dihidupkan.








