Generasi Z dalam dunia sastra menghadirkan paradoks yang menarik di mana mereka sering dianggap jauh dari sastra, tetapi justru sedang menciptakan bentuk sastra yang baru.
Generasi Z tumbuh di dunia digital yang serba cepat, visual, dan interaktif. Mereka jarang datang ke sastra melalui buku tebal atau kanon klasik, melainkan lewat kutipan pendek, puisi mikro, lirik lagu, spoken word, dan narasi personal di media sosial. Bagi mereka, sastra bukan selalu soal “karya besar”, tetapi soal kejujuran emosi dan keterhubungan pengalaman.
Karena itu, puisi Gen Z sering sederhana, langsung, bahkan terkesan “terlalu jujur” namun justru di situlah daya tariknya.
“Tantangannya, sastra Gen Z kerap dipandang dangkal atau tidak matang secara estetika oleh generasi sebelumnya. Padahal, ini lebih merupakan perbedaan medium dan zaman, bukan ketiadaan kualitas. Banyak di antara mereka sedang mencari bentuk, bahasa, dan keberanian bersuara. Jika diberi ruang dialog dan bukan penghakiman, bisa jadi mereka berpotensi memperkaya peta sastra Indonesia dengan perspektif baru tentang identitas, mental health, relasi, dan dunia digital,” katanya lagi.
Ke depan, peran sastrawan dan institusi sastra adalah menjembatani alih generasi, bukan menutup pintu.
Sastra perlu hadir di ruang yang akrab bagi Gen Z yaitu sekolah, kampus, panggung terbuka, dan platform digital, tentu saja tanpa kehilangan kedalaman. Jika sastra mau mendengar dan berdialog, Generasi Z bukan ancaman bagi sastra, melainkan masa depannya.
Puisi Dalam Lagu
Dalam wawancara tertulis ini, Riri Satria – dilahirkan di Padang 14 Mei 1970- ditanya juga bagaimana fenomena puisi yang menjelma menjadi lagu, baik melalui tangan komponis seperti Ananda Sukarlan maupun melalui bantuan kecerdasan buatan (AI).
Hal ini menandai satu hal penting yaitu puisi tidak pernah beku. Ia bukan artefak museum yang hanya layak dibaca dalam keheningan buku, melainkan makhluk hidup yang bisa berpindah medium, bernapas dalam bunyi, dan menemukan pendengarnya dengan cara baru. Ketika puisi menjadi musik, ia sedang memperluas wilayah pengaruhnya, keluar dari halaman kertas menuju ruang dengar dan rasa.
“Apa yang dilakukan Ananda Sukarlan lewat art song atau tembang puitik menunjukkan bahwa puisi dan musik memiliki akar yang sama ritme, jeda, serta emosi. Musik tidak “menghancurkan” puisi, justru menyingkap lapisan-lapisan makna yang mungkin tersembunyi di balik kata. Nada memberi tubuh pada metafora, tempo memberi napas pada larik. Buat saya, di titik ini, tafsir menjadi jamak dan itu bukan kelemahan sastra, melainkan kekuatannya,” ucapnya.
Kehadiran AI dalam proses ini membawa dinamika baru. AI mampu mengolah teks puisi menjadi lagu, memilih harmoni, bahkan menentukan suasana musikal dalam hitungan detik.
Namun, di sinilah batas penting perlu ditegaskan bahwa AI adalah alat, bukan pencipta makna. Mesin tidak memiliki ingatan masa kecil, tidak pernah patah hati, tidak mengenal takut, rindu, atau harap. Puisi lahir dari luka dan cinta manusia, sesuatu yang tidak bisa disimulasikan, hanya bisa ditiru, sesuatu yang tidak masuk ke dalam ranah AI sama sekali.
Karena itu, yang perlu dijaga bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan etikanya. Hak cipta harus dihormati.
Nama penyair tidak boleh hilang di balik kecanggihan algoritma. Puisi bukan sekadar “bahan baku” yang boleh diproses tanpa izin atau kesadaran moral. Teknologi seharusnya memperkaya pengalaman sastra, bukan mereduksi puisi menjadi sekadar konten.
Jika digunakan dengan bijak, AI justru bisa menjadi jembatan penting, terutama bagi generasi muda. Puisi yang dinyanyikan, divisualkan, atau diolah secara digital bisa menjangkau Gen Z yang hidup dalam budaya audio-visual. Dari lagu, mereka bisa kembali ke teks. Dari bunyi, mereka menemukan kata. Dari teknologi, mereka akhirnya bertemu sastra.
Pada akhirnya, puisi yang berubah menjadi lagu baik oleh manusia maupun dengan bantuan mesin, mengajarkan kita satu hal bahwa sastra yang hidup adalah sastra yang bersedia berdialog dengan zamannya, tanpa kehilangan martabat dan kemanusiaannya.
Teknologi boleh berkembang, medium boleh berubah, tetapi makna tetap berakar pada manusia. Dan selama akar itu dijaga, puisi akan selalu menemukan cara untuk hidup.
Soal Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)
Soal Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Riri Satria membahasnya agak panjang.
Banyak orang menganggap bahwa dunia seni bergerak melalui intuisi, spontanitas, dan inspirasi.Seolah-olah perencanaan strategis hanya milik perusahaan, pemerintah, atau lembaga bisnis.
“Padahal, di tengah perubahan zaman yang serba cepat, seni dan kebudayaan justru membutuhkan strategi lebih dari sebelumnya,” ucapnya.
Perencanaan strategis memang kerap diasosiasikan dengan dunia korporasi atau pemerintahan.
Kita terbiasa mendengar istilah strategic visioning, strategic planning, roadmap, dan berbagai perangkat teknokratis yang terkait pembangunan ekonomi, bisnis, dan administrasi negara.
Namun sesungguhnya, dunia kebudayaan bahkan dalam lingkup yang lebih kecil, yaitu kesenian tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan akan cara berpikir strategis tersebut. Seni dan budaya tidak berdiri di ruang hampa, keduanya bergerak dalam lanskap sosial, politik, teknologi, dan peradaban yang menuntut kemampuan membaca arah masa depan.








