Riri Satria, Ketua JSM : Sepanjang 2025 Denyut Literasi Sastra di Indonesia Tetap Hidup, Beberapa Aspek Justru Menunjukkan Kesegaran Baru

Hal ini menunjukkan bahwa kerja artistik dan kerja teknokratis bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya saling melengkapi untuk menjaga keberlanjutan dunia kesenian dan kebudayaan itu sendiri.

Dengan kata lain, strategic planning dalam seni bukan sekadar soal manajemen, tetapi juga cara untuk menjaga struktur medan kesenian dan kebudayaan agar tetap produktif dan berkelanjutan.

Secara kodrati, tugas seniman adalah menciptakan karya, sedangkan budayawan melahirkan gagasan besar untuk menjaga kesinambungan kebudayaan bahkan peradaban.

Namun tanggung jawab tersebut tidak menghapus kebutuhan akan kerja-kerja teknokratis. Justru melalui perangkat teknokratislah arah masa depan dapat dirumuskan secara sistematis: bagaimana memastikan tujuan tercapai, bagaimana merancang tata kelola yang rapi, dan bagaimana mencegah persoalan menjadi tumpang-tindih atau “benang kusut”.

Selain itu, impact analysis menjadi instrumen penting untuk menilai apakah kegiatan seni dan budaya telah memberi manfaat, membawa kemaslahatan publik, serta mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki. Tanpa evaluasi yang terukur, kegiatan hanya akan berputar tanpa arah.

Bacaan Lainnya

Di Jakarta, peran Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) semakin penting. Namun, dari berbagai diskusi dalam Musyawarah Kesenian Jakarta (MKJ), muncul sejumlah pertanyaan strategis: Apakah DKJ bekerja hanya dalam ranah kesenian atau juga dalam lingkup kebudayaan yang lebih luas? Apakah DKJ harus menjadi pemikir strategis, atau sekadar operator kegiatan?

Bagaimana relasi DKJ dengan generasi muda, apakah Gen-Z merasa bahwa DKJ relevan bagi mereka? Bagaimana posisi DKJ di antara lembaga lain seperti Akademi Jakarta, BLUD TIM, dan Dinas Kebudayaan?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat diabaikan. Dalam teori kebijakan publik, isu-isu seperti ini termasuk dalam problem stream, yakni masalah nyata yang harus dipahami sebelum merumuskan kebijakan yang tepat.

Isu lain yang tak kalah penting adalah mengenai posisi kesenian rakyat. Apakah DKJ perlu turut membina seni rakyat? Jika ya, bagaimana mekanismenya? Di berbagai kota besar dunia, seni rakyat menjadi inti kebijakan budaya agar kebudayaan tidak menjadi elitis.

Selain itu, terdapat tantangan generation gap. Generasi muda hidup dalam budaya digital yang cair dan berbasis jejaring, bukan institusi formal. Tanpa jembatan strategis, DKJ berisiko kehilangan relevansinya di mata generasi baru.

DKJ tidak boleh direduksi menjadi pelaksana kegiatan atau event organizer. Marwah DKJ adalah menjadi strategic thinker bagi wilayah kesenian bahkan kebudayaan di Jakarta. Pengerdilan peran hanya akan menjauhkan lembaga dari mandat utama.

Proses-proses teknokratis seperti analisis kebutuhan, perencanaan, tata kelola, dan impact analysis adalah bagian dari good cultural governance. UNESCO poada tahun 2005 menegaskan bahwa keberlanjutan budaya mensyaratkan kebijakan dan strategi yang jelas, serta lembaga yang mampu menerapkan pengelolaan berbasis bukti (evidence-based cultural policy).

Oleh karena itu, seniman dan budayawan perlu dilengkapi tidak hanya dengan kreativitas, tetapi juga kemampuan teknokratis agar perjalanan masa depan dapat dirancang secara terukur dan akuntabel.

Seni adalah ruang imajinasi, tetapi institusi seni harus berpikir strategis. Setiap tantangan masa depan, teknologi, keberlanjutan, maupun pergeseran sosial, harus dijawab dengan strategi, bukan improvisasi.

DKJ memiliki peluang besar untuk menjadi garda depan pemikiran budaya Jakarta. Namun hal itu hanya dapat terwujud jika DKJ menegaskan kembali mandatnya, memperkuat tata kelola, dan membuka diri terhadap perubahan zaman.

Tantangan strategis membutuhkan jawaban strategis. Karena itu, tantangan dalam kesenian dan kebudayaan harus dijawab dengan pemikiran strategis yang dituangkan ke dalam perencanaan yang dapat diimplementasikan. Pengelolaan seni dan budaya pada dasarnya adalah pekerjaan teknokratis: memahami regulasi, membangun ekosistem, merancang kebijakan, dan memastikan tata kelola berjalan efektif.

Dalam konteks ini, muncul pertanyaan menarik, apakah anggota DKJ idealnya adalah seniman? Jika yang dikelola adalah aspek strategis dan teknokratis, maka diperlukan sosok seniman yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki visi strategis dan kompetensi teknokratis. Mereka bertugas melayani para seniman dan masyarakat luas, bukan sekadar mewakili kepentingan personal atau kelompok.

Pada akhirnya, kesenian dan kebudayaan bukan hanya urusan kreativitas, tetapi juga urusan visi, strategi, dan tata kelola. Tanpa perencanaan jangka panjang, tanpa kejelasan peran, dan tanpa respons terhadap perkembangan teknologi serta perubahan peradaban, kesenian berisiko kehilangan relevansinya.

“Memikirkan masa depan kesenian melalui kerangka teknokratis sekaligus sensitivitas artistik adalah tugas penting bagi siapa pun yang terlibat di dalamnya. DKJ, sebagai salah satu lembaga strategis, memiliki peran sentral untuk memastikan bahwa seni dan budaya Jakarta tidak hanya tumbuh, tetapi juga bertahan, berkembang, dan memberi makna bagi generasi kini dan mendatang,” pungkas Riri Satria.(Lasman)

Pos terkait