Tanggapan Sastri Bakry atas Pernyataan Sikap Maman S. Mahayana dan Resolusi BRICS

Respons Tentang Resolusi BRICS

Sastri Bakry memahami dan menghargai Resolusi BRICS yang menyerukan pentingnya pembentukan panitia independen di bawah pemerintah Indonesia untuk menyeleksi calon sastrawan penerima penghargaan di masa mendatang.

“Gagasan itu konstruktif, dan saya secara pribadi mendukung penguatan sistem yang lebih terstruktur, dengan catatan bahwa pembentukan lembaga baru tidak boleh mengintervensi otoritas BRICS sebagai badan internasional yang telah menetapkan mekanisme tetap,” pesannya.

Bahwa koordinasi harus tetap berjalan melalui kanal resmi BRICS agar tidak terjadi tumpang tindih peran dan legitimasi.

Komitmen terhadap sastra Indonesia dan diplomasi budaya saya ingin menegaskan bahwa seluruh langkah yang saya ambil dalam kapasitas sebagai koordinator BRICS Literature Network semata-mata bertujuan.

Bacaan Lainnya

Mengangkat sastra Indonesia ke panggung internasional dengan cara yang bermartabat.
Menjaga agar proses diplomasi budaya berjalan konstruktif, saling menghormati, dan tidak menimbulkan gesekan di antara insan sastra tanah air jika memaksakan kehendak.

Membangun jembatan antara nilai-nilai lokal Indonesia dengan semangat persahabatan global yang diusung BRICS.

“Saya tidak memiliki kepentingan pribadi dalam proses ini, melainkan bertindak sesuai tanggung jawab moral dan profesional sebagai perwakilan resmi BRICS di Indonesia,” akuinya.

Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam komunitas intelektual. Terutama dalam proses pengambil keputusan. Namun, kita semua berkewajiban memastikan bahwa perbedaan itu tidak di ujung pada saat keputusan telah diambil dewan juri sehingga dapat menimbulkan perpecahan atau memperlemah posisi Indonesia dalam percaturan budaya global.

“Saya mengajak seluruh pihak yang terlibat, baik para sastrawan, akademisi, maupun lembaga kebudayaan, untuk menyalurkan pandangan melalui dialog dan kolaborasi yang produktif dan konstruktif.Mari kita jaga nama baik sastra Indonesia, dengan menempatkan etika, profesionalitas, dan tanggung jawab budaya di atas kepentingan personal,” pungkasnya.(Lasman)

Pos terkait