Kemenkes Akan Adopsi Program Patient Navigator Secara Nasional, Dimulai dari Rumah Sakit Rujukan Kanker

Penyerahan sertifikat kompetensi Patient Navigator kepada peserta program Patient Navigator gelombang 2

JAKARTA – RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) kembali memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pelayanan kanker yang berpusat pada pasien (patient-centered care), dengan berkolaborasi dengan Cancer Information and Support Center (CISC), melalui penyelenggaraan Patient Navigator Academy Batch 2, sebuah program pelatihan yang dirancang untuk mencetak Navigator pasien kanker (Lay Patient Navigator) yang berasal dari tenaga penyintas kanker / relawan, agar dapat berkompeten dalam mendampingi pasien dan keluarga sejak proses diagnosis, pengobatan, rehabilitasi hingga fase survivorship.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari inisiatif pengembangan Patient Navigation di Indonesia yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 2019 oleh Prof. Dr. dr. Soehartati A. Gondhowiardjo, Sp.Onk.Rad(K) sebagai upaya membantu pasien mengatasi berbagai hambatan selama menjalani pelayanan kanker. Pelatihan ini dimulai dari tanggal 31 Mei 2026 hingga kelulusannya diselenggarakan oleh Instalasi Pelayanan Onkologi Radiasi Terpadu (IPTOR) RSCM ini berada di bawah arahan Course Director dr. Angela Giselvania, Sp.Onk.Rad(K) dan bekerja sama dengan Cancer Information and Support Center (CISC) pada Sabtu (25/7/2026).

Bacaan Lainnya

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi dalam keterangan persnya menyampaika apresiasi atas inisiatif program Patient Navigator. Ia melihat program tersebut memiliki manfaat besar dalam membantu pasien mengatasi berbagai hambatan selama menjalani pengobatan kanker.

Karena itu, Kementerian Kesehatan akan mulai mengintegrasikan layanan Patient Navigator ke dalam jejaring pelayanan kanker nasional sebagai bagian dari layanan kanker di rumah sakit. Program yang dikembangkan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) bersama Cancer Information and Support Center (CISC) dan American Cancer Society tersebut dinilai mampu membantu pasien menjalani pengobatan secara tepat waktu sekaligus meningkatkan kepatuhan terhadap terapi.

“Kami berharap minimal semua rumah sakit pengampuan kanker nantinya memiliki pasien navigator. Kehadiran patient navigator akan membantu pasien, membantu fasilitas pelayanan kesehatan, memudahkan akses layanan, memberikan informasi yang benar, dan mempercepat seluruh proses pengobatan,” kata Nadia dalam acara kelulusan pelatihan Pasien Navigator bacth 2 di RSCM, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Nadia, program tersebut akan lebih dulu diterapkan di rumah-rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan melalui jejaring pengampuan kanker, sebelum diperluas ke rumah sakit lainnya di berbagai daerah. “Kami akan mulai dari rumah sakit vertikal melalui jejaring pengampuan kanker yang dikembangkan Kementerian Kesehatan. Setelah itu diharapkan dapat berkembang ke rumah sakit-rumah sakit lain,” ujarnya.

Kasus Kanker Terus Meningkat

Dalam kesempatan itu, Nadia mengungkapkan bahwa Indonesia menghadapi peningkatan signifikan jumlah kasus kanker berdasarkan estimasi global terbaru tahun 2024. Ia menyebut kanker payudara masih menjadi jenis kanker dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia. Jika pada estimasi tahun 2022 jumlah kasus baru kanker payudara mencapai sekitar 61 ribu kasus, maka pada estimasi tahun 2024 jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 93 ribu kasus, atau bertambah sekitar 30 ribu kasus.

“Kalau kita lihat data global terbaru, kanker yang nomor satu tetap kanker payudara. Tahun 2022 diperkirakan sekitar 61 ribu kasus, sekarang menjadi sekitar 93 ribu kasus. Artinya ada penambahan sekitar 30 ribu kasus baru,” jelas Nadia.

Selain kanker payudara, peningkatan tajam juga terjadi pada kanker paru. Pada 2022 jumlah kasus kanker paru diperkirakan mencapai sekitar 38 ribu kasus, sedangkan pada estimasi 2024 meningkat menjadi sekitar 58 ribu kasus. Peningkatan tersebut menggeser posisi kanker serviks yang sebelumnya menjadi kanker terbanyak kedua di Indonesia.

“Kanker paru sekarang menjadi kanker nomor dua di Indonesia. Karena itu dua jenis kanker ini akan menjadi perhatian kita agar dapat dideteksi lebih dini sehingga angka keberhasilan pengobatan meningkat,” katanya.

Pendampingan Dinilai Krusial

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. dr. Soehartati Argadikoesoema Gondhowiardjo, Sp.Onk.Rad, Subsp.T.P.L. (K), Spesialis Onkologi Radiasi RSCM menjelaskan bahwa perjalanan pengobatan pasien kanker merupakan proses yang panjang dan kompleks. Setelah diagnosis ditegakkan, pasien harus menjalani berbagai pemeriksaan untuk menentukan stadium penyakit sebelum mendapatkan terapi yang sesuai.

Selain menjalani operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi target, maupun terapi suportif, pasien juga sering menghadapi tekanan psikologis, masalah ekonomi, hingga kebingungan akibat informasi yang tidak akurat mengenai kanker. “Begitu seseorang didiagnosis kanker, perjalanan pengobatannya menjadi panjang. Banyak pasien mengalami kecemasan akibat informasi yang tidak benar. Padahal mereka harus menjalani terapi secara tepat waktu. Keterlambatan pengobatan akan berdampak terhadap hasil pengobatan,” ujar Prof. Soehartati.

Menurutnya, kebutuhan tersebut melahirkan gagasan menghadirkan Patient Navigator yang bertugas mendampingi pasien sejak awal pengobatan hingga terapi selesai. Pendamping membantu pasien menghadapi berbagai hambatan, mulai dari persoalan psikologis, emosional, sosial, hingga finansial yang berpotensi menghambat proses pengobatan.

Ia menegaskan bahwa keberadaan Patient Navigator bukan untuk menggantikan tenaga kesehatan ataupun mengambil keputusan medis. “Pasien navigator bukan berarti menggantikan fungsi dokter atau perawat, apalagi menentukan pilihan terapi bagi pasien. Tugas mereka adalah memberikan dukungan, membantu pasien memahami proses pengobatan, dan mendampingi pasien agar dapat menjalani terapi dengan baik,” tegasnya.

Menurutnya, masih terdapat anggapan bahwa pendamping pasien akan mencampuri keputusan medis. Padahal, fungsi utama mereka adalah menjadi penghubung antara pasien dengan fasilitas pelayanan kesehatan sehingga komunikasi berjalan lebih baik. “Navigator sesuai namanya adalah menavigasi pasien. Mereka membantu mengarahkan pasien, mempercepat proses pelayanan, dan mengomunikasikan apabila terdapat kendala di fasilitas pelayanan kesehatan,” tegasnya.

Diakui Prof Soehartati, panca pandemi Covid-19, model pembelajaran Patient Navigator Academy dilaksanakan dengan metode blended learning, yaitu perpaduan pembelajaran daring dan praktik tatap muka. Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperkuat kompetensi melalui diskusi interaktif, simulasi (role play), serta praktik langsung dalam pendampingan pasien, sehingga tidak hanya memahami teori, tetapi juga menguasai keterampilan komunikasi, koordinasi pelayanan, dan pemecahan masalah di lapangan.

Pelatihan dimulai dengan sesi Online setiap minggunya sejak 31 Mei 2026 dan diakhir dengan rangkaian offline selama 3 hari, 23 sampai 25 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Jakarta, Palembang, Batam, Semarang, Yogyakarta, dan Bandung. Para peserta berasal dari organisasi dan komunitas pendamping pasien kanker, seperti Cancer Information and Support Center (CISC), Lovepink Indonesia, Bandung Cancer Society, Pantura Cancer Community, dan Sahabat Lestari, sehingga diharapkan mampu memperluas jejaring pendampingan pasien kanker di berbagai wilayah.

Kurikulum Patient Navigator Academy ini diadaptasi dari modul Patient Navigation in Cancer Care” yang dikembangkan oleh American Cancer Society (ACS) dan ditambahkan dengan modul lokal yang menyesuaikan dengan sistem pelayanan kesehatan serta kebutuhan pasien kanker di Indonesia. Materi pelatihan mencakup onkologi multidisiplin, pembangunan program navigasi kanker, keterampilan komunikasi dan edukasi pasien, penggunaan alat pendukung navigasi, serta mereka diberikan kompetensi sebagai civitas hospitalia yang memenuhi standard JCI seperti pengenalan kode-kode emergensi rumah sakit,  pengendalian dan pencegahan infeksi, penggunaan APAR, serta Bantuan Hidup Dasar (BHD).

Melalui penyelenggaraan Patient Navigator Academy Batch 2, RSCM bersama para mitra komunitas berharap dapat membangun jejaring patient navigator yang semakin profesional, kompeten, dan berdaya dalam mendampingi pasien kanker, bukan hanya di Jakarta namun juga berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran Patient Navigator yang terlatih diharapkan mampu meningkatkan koordinasi pelayanan, memperkuat kepatuhan pasien terhadap pengobatan, mengurangi hambatan selama proses terapi, serta menghadirkan pengalaman pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi bagi pasien dan keluarganya.

Gratis dan Menjadi Bagian dari Pelayanan

Program Patient Navigator di RSCM telah menjadi bagian dari pelayanan rumah sakit. Pendamping yang telah menjalani pelatihan mengenakan seragam khusus dan bertugas membantu pasien yang membutuhkan pendampingan. Mereka tidak memberikan bantuan dalam bentuk dana, melainkan menghubungkan pasien dengan berbagai layanan pendukung seperti rumah singgah, transportasi, ambulans, hingga jejaring bantuan sosial.

RSCM juga menyediakan ruang khusus bagi Patient Navigator sehingga pasien maupun keluarga dapat berkonsultasi kapan saja apabila menghadapi kesulitan selama menjalani pengobatan.

Penelitian yang dilakukan tim RSCM menunjukkan bahwa pendampingan tersebut mampu meningkatkan kepatuhan pasien menjalani terapi karena berbagai hambatan nonmedis dapat diatasi lebih cepat.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara RSCM, Cancer Information and Support Center (CISC), dan American Cancer Society. Hingga saat ini sekitar 100 Patient Navigator telah dilatih melalui dua angkatan pelatihan yang menggabungkan modul internasional dengan materi lokal yang disesuaikan dengan kondisi pelayanan kanker di Indonesia.

Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Bandung, Semarang, Batam, Yogyakarta, Palembang, dan kota-kota lain yang diharapkan akan mengembangkan layanan serupa di rumah sakit masing-masing.

Nadia mengapresiasi seluruh organisasi pasien dan komunitas kanker yang selama ini terlibat dalam mendukung pendampingan pasien, termasuk CISC, Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), Lovepink, Bandung Cancer Society, serta berbagai komunitas penyintas lainnya. Ia berharap para lulusan pelatihan dapat menjadi penggerak layanan pendampingan pasien di daerah masing-masing.

“Mudah-mudahan patient navigator terus berkembang dan hadir di lebih banyak rumah sakit di seluruh Indonesia, mulai dari Bandung, Semarang, Palembang, Padang, Medan, Makassar, Nusa Tenggara Timur hingga Maluku. Dengan begitu, semakin banyak pasien kanker yang mendapatkan pendampingan dan dapat menjalani pengobatan secara optimal,” kata Nadia.

Pos terkait