King Lear Tadashi Suzuki Hadir Perdana di Jakarta, Pertemukan Tradisi Teater Jepang dan Aktor Indonesia

Direktur The Japan Foundation, Inami Kazumi (no 2 dari kiri) bersama Pendiri sekaligus Direktur Bumi Purnati Indonesia, Restu Imansari Kusumaningrum dan seniman Bambang memberikan keterangan pers rencana pagelaran King Lear

JAKARTA — Tragedi King Lear karya William Shakespeare dalam adaptasi dan arahan sutradara teater Jepang Tadashi Suzuki akan dipentaskan untuk pertama kalinya di Jakarta pada 16–17 September 2026. Pertunjukan tersebut akan berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta dan menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan panjang pertukaran seni dan budaya antara Jepang dan Indonesia.

Pementasan ini diproduksi oleh Suzuki Company of Toga (SCOT) dan Bumi Purnati Indonesia, bekerja sama dengan The Japan Foundation. Kehadirannya di Jakarta merupakan bagian dari program Partnership to Co-Create a Future with the Next Generation: WA Project 2.0, sebuah program The Japan Foundation yang mendorong pertukaran antarmasyarakat (people-to-people exchange) antara Jepang dan negara-negara di Asia Tenggara.

Bacaan Lainnya

Pementasan King Lear bukan sekadar membawa sebuah karya teater Jepang ke Indonesia. Pertunjukan ini merupakan hasil dari proses panjang pertukaran pengetahuan, pelatihan, perjalanan seniman, serta hubungan personal dan profesional yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Direktur The Japan Foundation, Inami Kazumi, menjelaskan bahwa kerja sama kebudayaan Jepang di Indonesia selama ini berjalan melalui sejumlah bidang utama, antara lain seni dan budaya serta pendidikan bahasa Jepang.

Dalam bidang pendidikan bahasa Jepang, The Japan Foundation turut terlibat dalam pengembangan kurikulum dan materi pembelajaran, pembinaan pengajar bahasa Jepang di Indonesia, serta penyelenggaraan berbagai ujian kemampuan bahasa Jepang. Pertukaran tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan masyarakat Jepang dan Indonesia melalui pendidikan.

Sementara dalam bidang seni dan budaya, The Japan Foundation secara rutin menjalankan berbagai program pertukaran dan kolaborasi. Salah satunya adalah Japanese Film Festival yang diselenggarakan setiap tahun di sejumlah kota di Indonesia. Selain itu, lembaga tersebut juga mendukung berbagai kerja sama dalam bidang seni pertunjukan dan visual art.

Menurut Inami, selama ini bentuk pertukaran seni antara Jepang dan Indonesia kerap dilakukan dengan pola membawa seniman atau kelompok seni dari satu negara ke negara lain. Namun, proyek King Lear memiliki karakter berbeda karena mempertemukan seniman kedua negara dalam sebuah proses penciptaan karya bersama.

“Untuk kali ini, kami dapat mempersembahkan sebuah karya kolaborasi, yaitu kerja sama antara bukan hanya Jepang dan Indonesia, tetapi juga antara seniman Indonesia dan Jepang,” ujar Inami dalam pemaparannya.

Ia menilai proses tersebut menjadi bagian penting dari semangat WA Project 2.0, yang tidak hanya bertujuan memperkenalkan karya seni Jepang kepada masyarakat Indonesia, tetapi juga membangun hubungan yang lebih setara melalui proses belajar bersama.

Salah satu karakter penting dari proses tersebut adalah keharusan bagi para aktor yang terlibat untuk datang ke Toga, Jepang, dan menjalani latihan dengan metode Suzuki secara langsung.

Metode tersebut merupakan sistem pelatihan aktor yang dikembangkan Tadashi Suzuki dan dikenal luas karena penekanannya pada kekuatan tubuh, kaki, pusat energi, suara, serta kemampuan aktor mempertahankan energi dan kehadiran di atas panggung.

Bagi para aktor yang terlibat, proses tersebut bukan latihan singkat. Mereka harus mengikuti pelatihan intensif dan mengalami langsung lingkungan kerja teater di Toga.

Perjalanan Panjang Bumi Purnati dan Tadashi Suzuki

Pendiri sekaligus Direktur Bumi Purnati Indonesia, Restu Imansari Kusumaningrum, mengatakan bahwa kerja sama dengan Tadashi Suzuki dan SCOT tidak lahir secara tiba-tiba. Pertemuan awal dan komunikasi antara Bumi Purnati dengan Suzuki berkembang sejak sekitar 2015. Sejak saat itu, hubungan tersebut terus dipelihara melalui pertemuan, pelatihan, diskusi, serta pengiriman aktor Indonesia untuk mengikuti proses latihan di Toga.

Restu menuturkan, sejak awal dirinya melihat bahwa hubungan dengan Suzuki tidak cukup dilakukan melalui pertunjukan semata. Diperlukan komitmen jangka panjang untuk mempelajari metode yang dikembangkan Suzuki secara langsung.

Pada 2016, komitmen tersebut mulai diwujudkan melalui program pelatihan yang melibatkan seniman dari berbagai daerah di Indonesia. Program tersebut kemudian berlangsung secara berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya.

“Komitmen kami bersama seniman Mas Bambang adalah melakukan training dan latihan. Kami memilih seniman-seniman dari seluruh Indonesia,” kata Restu.

Para seniman yang terlibat tidak hanya berasal dari Jakarta. Mereka datang dari berbagai daerah, antara lain Padang Panjang, Madura, Manado, dan Pontianak. Mereka menjalani pelatihan di Indonesia, kemudian mendapat kesempatan berangkat ke Toga untuk memperdalam metode Suzuki. Setelah kembali ke Indonesia, sebagian dari mereka kemudian mengembangkan komunitas dan sanggar masing-masing.

Bagi Restu, pola tersebut merupakan bagian penting dari upaya membangun ekosistem seni yang sehat. Sebab ekosistem seni yang sehat bukanlah ekosistem yang membuat seniman terus bergantung pada satu lembaga. Sebaliknya, seniman perlu memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri, membangun komunitas, serta mengembangkan pengetahuan yang mereka peroleh.

Karena itu, proses kerja sama dengan Suzuki tidak berhenti pada pengiriman aktor ke Jepang. Para aktor yang telah mengikuti pelatihan diharapkan membawa pengalaman tersebut kembali ke Indonesia dan mengembangkannya di lingkungan masing-masing.

Tidak Mudah Mendapatkan Kepercayaan

Restu mengatakan bahwa mendapatkan kesempatan untuk mempelajari metode Suzuki secara langsung bukan perkara mudah. Metode tersebut memiliki pendekatan dan disiplin tersendiri sehingga tidak dapat begitu saja diajarkan oleh siapa pun tanpa pemahaman dan persetujuan dari Suzuki.

Para aktor Indonesia yang mengikuti pelatihan juga harus menghadapi standar latihan yang sangat ketat. Mereka bukan hanya berlatih akting. Di Toga, para peserta juga mengalami kehidupan komunitas teater secara langsung. Mereka ikut merawat lingkungan, bekerja bersama, makan bersama, serta terlibat dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

Menurut Restu, pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dari pendidikan seorang seniman. Ia mengingat bagaimana para aktor dari berbagai negara hidup dan bekerja bersama di lingkungan SCOT. Para peserta tidak hanya datang untuk berlatih dan kemudian meninggalkan tempat latihan, tetapi ikut merasakan keseluruhan kehidupan yang menopang proses penciptaan teater.

Pengalaman tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi seniman Indonesia yang harus beradaptasi dengan disiplin dan pola kerja berbeda.

Restu menyebut Tadashi Suzuki sebagai sosok yang sangat selektif terhadap proyek yang ia pilih. Di usianya yang telah mencapai 90 tahun, Suzuki tetap mempertahankan komitmennya terhadap seni pertunjukan.

Bagi Restu, hubungan tersebut menjadi sangat berarti karena ia tidak hanya melihat Suzuki sebagai seorang sutradara, tetapi juga sebagai guru dan tokoh yang mendedikasikan hidupnya untuk seni pertunjukan.

King Lear dan Tantangan Memindahkan Peran Utama kepada Aktor Indonesia

Pementasan King Lear kali ini menghadirkan tantangan baru karena salah satu peran utama dipercayakan kepada aktor Indonesia, Jamaluddin Latif dari Yogyakarta. Keputusan tersebut bukan sekadar mengganti aktor Jepang dengan aktor Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana seorang aktor Indonesia dapat menjalankan karakter Shakespeare melalui sistem latihan dan metode tubuh yang dikembangkan Suzuki.

Tadashi Suzuki

Restu menjelaskan bahwa King Lear yang kini dipentaskan memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Tadashi Suzuki dan SCOT. Karya tersebut pertama kali diciptakan pada 1984 dan kemudian menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan artistik Suzuki.

Kini, lebih dari empat dekade setelah pertama kali diciptakan, karya tersebut kembali mengalami proses lintas budaya dengan melibatkan aktor dari Indonesia.

Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan juga mencerminkan keberagaman latar belakang para pemain. Selain bahasa Indonesia, pertunjukan akan menghadirkan bahasa Inggris serta bahasa-bahasa lain yang berkaitan dengan para aktor yang terlibat, termasuk Rusia dan Korea Selatan. Perbedaan bahasa tersebut menjadi tantangan sekaligus kekuatan pertunjukan.

Dalam hal ini, yang diuji bukan hanya kemampuan aktor mengucapkan dialog, tetapi bagaimana mereka dapat bekerja dalam satu sistem tubuh dan energi yang sama meskipun berasal dari latar budaya berbeda. “Bagaimana bisa bekerja sama tanpa banyak bertukar kata, tetapi menghayati karakter dan melakukannya dengan metode Suzuki di atas panggung,” ujar Restu.

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu inti dari proses produksi King Lear kali ini. Apakah metode yang sama dapat bekerja pada tubuh aktor dari Indonesia, Rusia, Jepang, maupun Korea Selatan? Pertanyaan tersebut sekaligus menjadi semacam eksperimen artistik yang mempertemukan tubuh, budaya, bahasa, dan pengalaman para aktor dalam satu panggung.

Bambang dan Pengalaman Menjalani Metode Suzuki

Bambang, salah satu seniman Indonesia yang telah lama mempelajari metode Suzuki, mengatakan pengalaman pertamanya mengikuti latihan Suzuki membuatnya menyadari bahwa pendekatan tersebut sangat berbeda dari metode latihan teater yang selama ini ia kenal.

Ia pertama kali mendapat kesempatan berhubungan dengan lingkungan SCOT dalam perjalanan yang berkaitan dengan peringatan 40 tahun kelompok tersebut.

Pada awalnya, Bambang melihat pendekatan Suzuki terutama sebagai sesuatu yang sangat fisikal. Namun, setelah mengikuti latihan secara langsung, ia menyadari bahwa latihan tersebut dibangun berdasarkan sebuah sistem yang sangat terstruktur.

Menurut Bambang, salah satu fondasi utama metode Suzuki adalah kesadaran terhadap kaki dan pusat energi tubuh. Kaki dilatih agar memiliki kekuatan seperti akar. Tubuh bagian bawah menjadi pusat tumpuan, sementara energi yang dihasilkan dari latihan tersebut kemudian diarahkan melalui tubuh, suara, dan mata.

Karena itu, gerakan yang tampak sederhana di atas panggung sebenarnya merupakan hasil dari latihan yang panjang dan berulang. Para aktor dituntut untuk mengulang gerakan berkali-kali. Durasi, jumlah repetisi, kecepatan, hingga konsistensi terus diuji.

Bagi Bambang, konsistensi menjadi salah satu kunci utama. Semakin sering sebuah gerakan diulang, semakin kuat tubuh menguasainya. Pada tahap tertentu, gerakan tersebut tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang dipikirkan oleh aktor, tetapi menjadi bagian dari respons tubuh.

Namun, latihan tidak berhenti pada kekuatan kaki. Energi yang telah dibangun kemudian harus diarahkan kepada penonton. Karena itu, mata dan suara menjadi bagian penting dari metode tersebut.

“Mata dan suara itulah yang menjadi medium energi sebagai alat untuk menyampaikan pesan,” jelas Bambang.

Ia mengatakan, itulah salah satu hal yang paling mengesankan dari metode Suzuki. Ketika seorang aktor berbicara atau bergerak di panggung, yang ditampilkan bukan hanya karakter secara psikologis, tetapi juga energi tubuh yang sangat kuat.

Dari Tubuh Menuju Kesadaran

Pengalaman Bambang juga membuatnya melihat metode Suzuki sebagai sesuatu yang lebih luas daripada sekadar teknik fisik. Menurutnya, latihan tersebut perlahan membawa aktor kepada kesadaran terhadap tubuh, disiplin, lingkungan, serta cara menjalani kehidupan sehari-hari.

Bambang bahkan melihat adanya dimensi spiritual dalam proses tersebut. Ia mengaitkannya dengan latar belakangnya sebagai orang Indonesia dan pengalaman hidupnya di lingkungan pesantren. Baginya, disiplin tubuh yang dibangun melalui latihan secara tidak langsung berhubungan dengan cara seseorang memahami dirinya sendiri.

Latihan tidak hanya membentuk aktor agar mampu tampil di atas panggung. Ia juga membentuk cara seseorang bekerja, berinteraksi, menjaga lingkungan, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Pengalaman tersebut semakin kuat ketika Bambang melihat bagaimana para aktor di Toga menjalankan kehidupan komunitas mereka. Lingkungan teater yang luas tidak dikelola oleh jumlah pekerja yang besar. Para aktor justru terlibat langsung dalam berbagai pekerjaan yang mendukung keberlangsungan kehidupan teater.

Bambang melihat hal itu sebagai pengalaman yang berharga bagi seniman Indonesia yang mendapat kesempatan tinggal dan belajar di Toga.

Pertukaran Budaya yang Tidak Satu Arah

Lebih jauh, Bambang menilai pertukaran budaya yang berlangsung selama bertahun-tahun antara Jepang dan Indonesia tidak semestinya dilihat sebagai proses satu arah. Menurutnya, bukan berarti Jepang datang ke Indonesia hanya untuk mengajarkan metode mereka kepada seniman Indonesia. Sebaliknya, proses tersebut juga memungkinkan Jepang belajar dari pengalaman dan karakter tubuh seniman Indonesia.

Ia mengingat salah satu pengalaman ketika Tadashi Suzuki melihat karakter tubuh aktor Indonesia sebagai sesuatu yang menarik dan memiliki kemungkinan tertentu dalam penerapan metodenya.

Bambang mencontohkan kebiasaan masyarakat Indonesia dalam posisi jongkok yang dalam konteks tertentu membuat tubuh aktor Indonesia memiliki karakter fisik yang berbeda dengan aktor Eropa. Perbedaan tersebut kemudian dapat menjadi sumber inspirasi bagi proses artistik Suzuki.

Dengan demikian, hubungan yang dibangun melalui program pertukaran tersebut tidak hanya menghasilkan transfer pengetahuan dari Jepang kepada Indonesia, tetapi juga memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman secara timbal balik.

Dalam proses tersebut, tubuh menjadi semacam bahasa bersama. Bahasa verbal bisa berbeda. Latar belakang budaya bisa berbeda. Sistem pendidikan dan pengalaman teater pun berbeda. Namun, ketika para aktor berada di atas panggung, mereka bertemu melalui tubuh, ritme, energi, suara, dan kehadiran.

Satu Dekade Menuju Panggung Jakarta

Perjalanan menuju pementasan King Lear di Jakarta pada September 2026 dengan demikian tidak berlangsung dalam waktu singkat. Ia merupakan hasil dari hubungan yang dibangun sejak sekitar 2015, pelatihan yang dilakukan secara bertahap sejak 2016, perjalanan seniman Indonesia ke Toga, kedatangan mentor Jepang ke Indonesia, serta komunikasi yang terus dipelihara antara Bumi Purnati, SCOT, dan berbagai pihak terkait.

Selama periode tersebut, sejumlah aktor Indonesia mendapat kesempatan mempelajari metode Suzuki secara langsung. Sebagian kemudian kembali ke Indonesia dan mengembangkan komunitas mereka sendiri.

Kini, pengalaman lebih dari satu dekade tersebut mendapatkan bentuk baru melalui sebuah karya Shakespeare yang telah berusia ratusan tahun.

King Lear sendiri merupakan salah satu tragedi terbesar William Shakespeare, dengan kisah mengenai seorang raja tua yang membagi kerajaannya kepada anak-anaknya, kemudian mengalami pengkhianatan, kehilangan kekuasaan, dan kehancuran keluarga.

Namun, dalam tangan Tadashi Suzuki, karya tersebut tidak sekadar diperlakukan sebagai teks klasik. Tubuh aktor, suara, ruang, energi, dan hubungan antarpemain menjadi bagian dari cara cerita tersebut dihidupkan kembali.

Bagi Restu, justru di situlah kekuatan karya ini. Ia melihat bagaimana sebuah karya Shakespeare dapat terus hidup ketika dibaca dan ditafsirkan dari perspektif yang berbeda. King Lear dapat hidup di Jepang, Indonesia, Rusia, Korea Selatan, maupun berbagai tempat lain karena manusia yang berada di dalamnya menemukan pengalaman yang bersifat universal.

“Shakespeare mestinya merasa bangga di alamnya bahwa karya ini hidup di seluruh dunia,” ujar Restu.

Lebih dari Sekadar Pertunjukan

Pementasan King Lear di Jakarta pada 16–17 September 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda pertunjukan teater. Di satu sisi, ia menghadirkan karya besar Shakespeare melalui visi salah satu sutradara teater Jepang paling berpengaruh, Tadashi Suzuki. Di sisi lain, pementasan ini menjadi hasil nyata dari proses panjang pertukaran seniman antara Jepang dan Indonesia.

Para aktor yang terlibat tidak hanya membawa karakter ke atas panggung. Mereka juga membawa pengalaman latihan, disiplin tubuh, budaya, bahasa, dan perjalanan panjang yang mempertemukan mereka dengan tradisi teater berbeda.

Bagi Bumi Purnati Indonesia, SCOT, dan The Japan Foundation, proses tersebut menunjukkan bahwa kerja sama kebudayaan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih dalam daripada pertukaran pertunjukan. Kerja sama tersebut dapat melahirkan pengetahuan baru, membangun jaringan seniman, membentuk komunitas, dan membuka kemungkinan bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan hubungan yang telah dibangun.

Setelah satu dekade perjalanan, King Lear akhirnya tiba di Jakarta. Panggung Gedung Kesenian Jakarta pada 16–17 September nanti akan menjadi titik pertemuan antara Shakespeare, Tadashi Suzuki, SCOT, seniman Indonesia, dan pengalaman panjang pertukaran budaya Jepang–Indonesia.

Sebuah karya yang lahir dari tragedi tentang kekuasaan dan kehilangan itu kini mendapatkan kehidupan baru melalui tubuh para aktor dari berbagai latar budaya—menunjukkan bahwa teater, pada akhirnya, dapat menjadi ruang tempat manusia dari berbagai tempat bertemu, belajar, dan menciptakan sesuatu bersama.

Pos terkait