Dr. Edy Panjaitan Presentasikan Musik Piano Indonesia di Konferensi Musik Klasik di New York

Teks Foto : Dr.Edy Panjaitan (kiri) bersama Presiden dari American Musicological Society Greater New York Chapter, Jeff Dailey.(Foto : Ist/Kir/Lasman)

JAKARTA-Dr. Edy Panjaitan adalah seorang pianis dan ahli musik yang baru-baru ini meraih gelar Ph.D. dalam Seni Interdisipliner (Jalur Artist – Scholar), dengan fokus Musikologi/Etnomusikologi dan Piano Performance dari Ohio University.

Ia mendalami piano di bawah bimbingan Prof. Christopher Fisher dan melakukan penelitiannya di bawah supervisi Prof. Garret Field.

Karya ilmiah dan artistiknya menjembatani dunia pertunjukan dan penelitian, dengan minat musikologi yang berpusat pada repertoar piano oleh komponis Indonesia terkemuka Ananda Sukarlan.

Serta lanskap musik klasik Indonesia yang berkembang dan seni global. Pendekatan interdisiplinernya mencerminkan komitmen yang kuat untuk mengintegrasikan praktik pertunjukan dengan penyelidikan budaya dan etnomusikologi.

Bacaan Lainnya

Pada Sabtu tanggal 9 Mei lalu ia diundang oleh American Musicological Society (AMS) di New York University, New York City untuk memaparkan karya-karya piano terpenting Ananda Sukarlan.

AMS adalah sebuah organisasi nirlaba yang didirikan tahun 1934 dan kini beranggotakan sekitar 3000 tokoh musik dari 40 negara.

“Ananda Sukarlan diakui sebagai salah satu pianis-komposer paling berpengaruh di Indonesia, yang kontribusinya telah secara signifikan membentuk musik klasik kontemporer dan pendidikan musik baik secara nasional maupun internasional. Di antara karya-karya terpentingnya adalah rangkaian lengkap Rapsodia Nusantara, kumpulan 44 komposisi piano yang menunjukkan sintesis luar biasa antara idiom musik Indonesia dan tradisi klasik Barat”, demikian Edy Panjaitan membuka presentasinya.

Tokoh Asia Paling Berpengaruh

Ananda Sukarlan telah didaftar sebagai salah satu “100 Asian Most Influential” atau 100 Tokoh Asia paling berpengaruh dalam bidang seni oleh majalah Tatler Asia (Hong Kong).

Selain dianugerahi penghargaan tertinggi untuk warga sipil dari Kerajaan Spanyol “Real Orden de Isabel la Católica”, Ananda Sukarlan juga pernah dianugerahi gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” oleh Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020.

Ia juga seniman Indonesia pertama yang diundang Portugal tepat setelah hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal pada tahun 2000.

Studi ini meneliti Rapsodia Nusantara secara keseluruhan, dengan perhatian khusus pada tuntutan teknik virtuoso dan artistiknya.

“Saya berpendapat bahwa Rapsodia Nusantara mewakili bentuk nasionalisme pianistik di mana teknik virtuoso dan desain komposisi berfungsi sebagai strategi estetika untuk mengubah repertoar musik Indonesia menjadi literatur piano klasik global. Dengan menganalisis bagaimana unsur-unsur musik tradisional Indonesia diubah dalam kerangka pianistik Barat, studi ini menyoroti kemampuan komposer untuk membangun identitas musik yang unik yang berakar secara budaya dan beresonansi secara global. Penelitian ini berfokus pada pendekatan estetika Sukarlan, mengeksplorasi baik teknik pianistik maupun dimensi komposisi yang mendefinisikan siklus tersebut,” demikian papar Edy Panjaitan di ajang prestisius ini.

Melalui lensa kritis dan interpretatif, tesis ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang repertoar klasik Indonesia sekaligus menawarkan wawasan tentang keahlian komposisi Sukarlan.

” Tesis ini mengusulkan kerangka interpretatif yang dapat bermanfaat bagi pianis, komposer, dan pendidik dalam mendekati karya penting ini,” lanjut Edy Panjaitan.

Leluhur Masyarakat Batak Toba

Dr. Panjaitan menerima Penghargaan Peningkatan Mahasiswa (Student Enhancement Award) untuk melakukan penelitian etnografi tentang ritual penggalian tulang leluhur masyarakat Batak Toba, dengan fokus khusus pada musik gondang sabangunan.

Penelitian etnografi hibrida yang dilakukannya berlangsung di Sianjur Mulamula, sebuah situs leluhur yang memiliki makna budaya dan sejarah yang mendalam.

Ia juga memperoleh sertifikat sebagai konduktor (dirigen) pascasarjana di bawah bimbingan Profesor Jose Rocha.

Dr. Panjaitan menampilkan perdana album debutnya, Odyssey, dalam resital piano solo dan mempersembahkan pemutaran perdana dunia komposisi instrumental etnik orisinalnya, Bonapasogit, di Festival New Music Pellegrini dan Konferensi dan Festival Seni Global Internasional.

Dr. Panjaitan telah menerima kelas master dan bimbingan dari pianis dan pendidik ternama internasional, termasuk Lilya Zilberstein, Ewa Pobłocka, Rena Shereshevskaya, Elena Margolina-Hait, Michal Tal, Sondra Tammam, Fei-Fei Dong, dan Ananda Sukarlan.

Edy Panjaitan menulis di Instagramnya : “am deeply honored and excited to present my newest research, the complete set of 44 piano works from Rapsodia Nusantara, the monumental masterpiece by Indonesian Maestro, Ananda Sukarlan at this conference. The American Musicological Society Greater New York Chapter has been an inspiring and supportive community for both scholars and artists.”

Para intelektual musik yang berpartisipasi menampilkan presentasi mereka selain Dr. Panjaitan adalah Tristan Wilson (pemain viola, komponis dan musikolog dari Detroit, Michigan), Joseph S. Kaminski (College of Staten Island), Dr. Juliet Pascal Glazer (Boston College), MyungJin Oh (Rutgers University) dan Carol Kitzes Baron (SUNY Stonybrook).(Lasman)

Pos terkait