Menkes Budi: Indonesia Siap Jadi Pusat Layanan Jantung Berstandar Global

Menkes Budi bersama Perwakilan Kedutaan Besar Jepang, Mitsuru Kojima dan jajaran pimpinan RSJPD Harapan Kita meninjau progres pembangunan gedung Harapan Kita

JAKARTA – Proses pembangunan Gedung RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita memasuki tahap akhir dengan dilakukannya Topping Off Ceremony Gedung Harapan Kita – Tokushukai “Babak Baru Pelayanan Jantung Kelas Dunia melalui Kolaborasi Global” RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, pada Rabu (15/4/2026).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam pernyataannya menegaskan pembangunan RSJPD Harapan Kita menjadi 20 lantai, merupakan pengembangan fasilitas kesehatan yang ditargetkan menjadi pusat layanan jantung berstandar internasional di kawasan Asia.

“Pembangunan rumah sakit ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelayanan kesehatan, tetapi juga pusat pendidikan dan kolaborasi medis berskala internasional, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur,” ujar Menkes. Budi.

Dengan berbagai rencana pengembangan fasilitas, pemerintah menargetkan RSJPD Harapan Kita dapat menjadi salah satu pusat layanan kesehatan jantung terkemuka di Asia. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan dalam negeri sekaligus menekan angka pasien yang mencari pengobatan ke luar negeri.

Selain itu, Menkes juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan tenaga medis guna menghadapi tantangan kesehatan global, khususnya di bidang penyakit jantung. Karena itu program kerja sama tidak hanya focus pada peningkatan kapasitas layanan tetapi juga menyangkut sektor pendidikan tenaga medis.

Bacaan Lainnya

Program kerja sama internasional akan diperkuat, termasuk pengiriman dokter Indonesia untuk belajar di Jepang setiap tahun selama minimal satu tahun. Tidak hanya dokter, tenaga perawat juga akan dilibatkan dalam program pelatihan tersebut guna meningkatkan kompetensi secara menyeluruh.

“Belajar harus tinggi, ilmunya tinggi, skill-nya tinggi, dan yang paling penting kualitas pelatihannya juga tinggi, sehingga tenaga medis kita mampu mengobati dan melayani masalah kesehatan jantung masyarakat, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di seluruh dunia,” lanjutnya.

Ke depan, rumah sakit ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelayanan kesehatan, tetapi juga pusat pendidikan dan kolaborasi medis berskala internasional, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur.

Tekan Biaya Penyakit Jantung

Menkes Budi mengungkapkan bahwa beban pembiayaan penyakit jantung di Indonesia mencapai sekitar Rp17 triliun pada tahun 2025. Angka tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah memperkuat sistem deteksi dini hingga tingkat layanan kesehatan dasar.

Menkes menegaskan bahwa penanganan penyakit jantung tidak bisa hanya berfokus pada rumah sakit, melainkan harus dimulai sejak masyarakat masih dalam kondisi sehat. “Kalau orang sudah kena serangan jantung, itu biasanya sudah terlambat. Harusnya bisa dicegah sejak awal,” ujarnya.

Menurut Menkes, faktor utama penyebab penyakit jantung adalah tekanan darah tinggi, gula darah tinggi (diabetes), serta kebiasaan merokok. Oleh karena itu, pemerintah menugaskan jajaran kesehatan, termasuk pimpinan rumah sakit, untuk memperluas program skrining hingga ke puskesmas.

Program ini juga diperkuat dengan inisiatif pemeriksaan kesehatan yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

“Kalau sudah diketahui lebih awal, cukup diobati di puskesmas. Jangan sampai dibiarkan 3–5 tahun karena pasti berujung ke serangan jantung atau stroke,” jelasnya.

Menurut Menkes, faktor utama penyebab penyakit jantung adalah tekanan darah tinggi, gula darah tinggi (diabetes), serta kebiasaan merokok. Oleh karena itu, pemerintah menugaskan jajaran kesehatan, termasuk pimpinan rumah sakit, untuk memperluas program skrining hingga ke puskesmas.

Program ini juga diperkuat dengan inisiatif pemeriksaan kesehatan yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. “Kalau sudah diketahui lebih awal, cukup diobati di puskesmas. Jangan sampai dibiarkan 3–5 tahun karena pasti berujung ke serangan jantung atau stroke,” jelasnya.

Sebagai bagian dari strategi nasional, pemerintah akan meningkatkan kemampuan puskesmas dengan penyediaan alat kesehatan seperti EKG (elektrokardiogram). Dengan teknologi ini, tenaga medis di puskesmas dapat melakukan deteksi awal gangguan jantung.

Selain itu, puskesmas juga akan didorong untuk mampu melakukan tindakan awal seperti trombolisis (penghancuran bekuan darah) bagi pasien dengan indikasi serangan jantung ringan. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi rujukan ke rumah sakit, menekan beban pembiayaan BPJS Kesehatan dan mempercepat penanganan pasien di daerah

RS Berstandar Global untuk Semua Segmen

Gedung Harapan Kita – Tokushukai merupakan hasil kolaborasi strategis antara RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita dengan Tokushukai Medical Corporation Jepang, yang telah terjalin lebih dari dua dekade. Pembangunan gedung ini menjadi simbol nyata komitmen bersama dalam menghadirkan layanan kesehatan jantung kelas dunia di dalam negeri.

Menkes Budi menjelaskan gedung ini dirancang setinggi 20 lantai dengan 2 basement, dilengkapi fasilitas modern termasuk helipad untuk penanganan kegawatdaruratan, serta akan meningkatkan kapasitas layanan dengan penambahan tempat tidur secara signifikan. Ke depan, fasilitas ini juga akan menghadirkan teknologi medis terkini, termasuk layanan bedah jantung berbasis robotik.

Pos terkait