Songsong 500 Tahun Jakarta, Dinas Kebudayaan Berkolaborasi dengan JPO Gelar Konser Satoe Indonesia

Konser kebangsaan Satoe Indonesia yang digelar di Teater Jakarta TIM

JAKARTA – Menyongsong 500 tahun Jakarta, Dinas Kebudayaan bekerja sama dengan Jakarta Philharmonic Orchestra menggelar pagelaran orkestra dengan tajuk Perayaan Kebangsaan “Satoe Indonesia” pada Sabtu (8/11/2025). Even yang digelar di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) tersebut menampilkan 54 musisi, 28 paduan suara, 5 penyanyi dan 1 grup band.

Konser ini menjadi bagian dari narasi kepemudaan dengan menghadirkan rentang sejarah peran pemuda mulai dari Sumpah Pemuda, perjuangan kemerdekaan sampai pemuda hari ini,  menjadi inti pesan untuk mengingatkan semua untuk senantiasa mencintai Indonesia

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam sambutannya mengatakan Jakarta sejak awal berdiri merupakan kota yang menjadi titik temu berbagai kebudayaan dunia, mulai dari Cina, India, Arab, hingga Eropa. Ini menjadikan Jakarta memiliki identitas sebagai kota global yang memadukan kekayaan sejarah, kebudayaan, dan kreativitas.

“Hari ini, kita menyaksikan bagaimana kebudayaan, khususnya seni musik orkestra, terus tumbuh dan menjadi denyut nadi kehidupan kota ini,” ujar Gubernur.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lanjut Gubernur, menempatkan kesenian dan kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan kota. Bukan hanya sebagai penggerak identitas dan warisan budaya, namun juga sebagai pendorong ekonomi kreatif dan penopang kesejahteraan masyarakat. Jakarta Philharmonic Orchestra adalah salah satu bagian sejarah penting kesenian ibukota yang telah hidup dan berkembang sejak awal abadk e-20. Para tokoh bangsa seperti Bung Hatta dan Gubernur Ali Sadikin telah memberi perhatian besar terhadap keberlangsungan orkestra ini.

Bacaan Lainnya

“Hari ini, dukungan tersebut terus berlanjut seiring tekad kita menjadikan Jakarta sebagai kota global peringkat 20 pada tahun2027,” kata Gubernur.

Melalui konser “Satoe Indonesia, Perayaan Kebangsaan Indonesia”, tidak hanya merayakan seni dan musik, namun juga merenungkan kembali jalan panjang perjuangan bangsa—dari ikrar sakral Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 hingga keberanian pemuda Surabaya mempertahankan kemerdekaan pada November 1945.

Menurut Gubernur, konser ini menjadi ruang perjumpaan seni yang inklusif bagi seluruh elemen masyarakat—pelajar, pecinta musik, hingga keluarga—untuk bersama-sama menyalakan semangat kebangsaan dan rasa cinta terhadap Indonesia.

Jakarta Philharmonic Orchestra (JPO) merupakan kelompok musik orkestra di Kota Jakarta yang memiliki sejarah panjang dari masa ke masa telah ada sejak 1904 dengan hadirnya Batavian Staff Orchestra, seiring perjalanan panjang Kota Jakarta. Kemudian pada 1912 berevolusi menjadi Bataviasche Philharmonic Orchestra, lalu berganti nama menjadi Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) Orchestra, sebuah grup orkes di era radio Hindia Belanda tahun 1934.

“Dinas Kebudayaan sebagai pengampu kegiatan kebudayaan menggarisbawahi pentingnya dukungan Pemerintah agar perkembangan dan peningkatan kualitas budaya terutama demi kepentingan kesejahteraan warga kota dan gerak ekonomi berbasis kesenian dan kebudayaan,” jelas Kepala Dinas kebudayaan Pemprov DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary

Diakui Miftahulloh, Jakarta Philharmonic Orchestra pada tahun ini menjadi bagian dari kegiatan Geber (Gerak Bersama) Budaya Jakarta, sebuah upaya untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam mengapresiasi karya seni budaya, baik yang bersifat tradisional maupun modern. Dengan cara seperti ini maka, seni dan budaya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas masyarakat.

Dalam kurang lebih 2 jam, di bawah conductor  Aminoto Kosin ditampilkan karya:-karya WR Supratman, Mochtar Embut, Ibu Soed, Ismail Marzuki, Alfred Simanjuntak, Titiek Puspa, Koes Plus, Guruh Soekarno Putra, Syaiful Bahri,  Bing Slamet  dan Gombloh yang dibawakan oleh Aimee Saras, Endah Laras, Gabriel Harvianto, Galabby Thahira, Lea Simanjuntak dan /Rif.

“Bagi Jakarta Philharmonic Orchestra ini adalah sebuah kebanggaan sekaligus tantangan karena kami mengemban branding Jakarta dalam nama orkestra kami.  Dari sini,  dalam kegiatan kami, rangkaian lagu-lagu Jakarta atau Betawi akan menjadi aransemen pembuka di setiap pagelaran. Visi kami adalah menjadikan lagu lagu Jakarta menjadi lagu dunia dan dimainkan oleh orkestra dunia serta Jakarta menjadi salah satu panggung orkestra di dunia,” jelas Aminoto Kosin, music director sekaligus conductor.

Pagelaran Perayaan Kebangsaan Satoe Indonesia ini adalah salah satu bentuk kolaborasi dan dukungan Dinas Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta untuk mendorong perkembangan berbagai kesenian di panggung nasional dan internasional.

Pos terkait