RSCM Memulai Babak Baru Penanganan Gagal Jantung di Indonesia, Lakukan Implantasi LVAD Pertama sebagai Harapan bagi Pasien Stadium Akhir

Direktur Utama RSCM, DR. Dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes menerima secara simbolis donasi Left Ventricular Assist Device (LVAD)

JAKARTA – Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mencatat tonggak sejarah baru dalam layanan kesehatan Indonesia dengan memulai program implantasi Left Ventricular Assist Device (LVAD), sebuah alat bantu pompa jantung mekanis yang diperuntukkan bagi pasien gagal jantung stadium lanjut. Program ini diharapkan menjadi solusi bagi pasien yang selama ini memiliki pilihan terapi yang sangat terbatas akibat minimnya donor jantung untuk transplantasi.

Direktur Utama RSCM DR. Dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes menjelaskan bahwa pengembangan layanan gagal jantung sebenarnya telah dimulai sejak bertahun-tahun lalu. Bahkan, RSCM menjadi salah satu institusi pertama di Indonesia yang menyusun proposal mengenai transplantasi jantung dan sistem donor organ sebagai bagian dari pengembangan pelayanan kardiovaskular nasional.

Bacaan Lainnya

Namun, hingga kini pelaksanaan transplantasi jantung masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait ketersediaan donor. Tidak seperti organ lain, jantung hanya dapat didonorkan oleh pendonor yang telah memenuhi kriteria kematian batang otak sesuai ketentuan medis dan hukum yang berlaku. Kondisi tersebut menyebabkan jumlah donor jantung sangat terbatas sehingga banyak pasien gagal jantung stadium akhir tidak memperoleh kesempatan menjalani transplantasi.

“Selama ini kami bermimpi menghadirkan layanan transplantasi jantung di Indonesia. Namun kenyataannya, tantangan terbesar adalah ketersediaan donor. Karena itu, kehadiran LVAD menjadi harapan baru bagi pasien yang sebelumnya hampir tidak memiliki pilihan terapi,” ujar Direktur Utama RSCM pada agenda Left Ventricular Assist Device (LVAD) Donation Ceremony yang digelar bersama HeartSPAN.ai, divisi layanan ketahanan jantung (heart longevity) dari Borderless Healthcare Group (BHG), Jumat (31/7/2026).

Melalui kolaborasi ini, RSCM menerima donasi perangkat Left Ventricular Assist Device (LVAD) yang akan memperkuat layanan kardiovaskular berteknologi tinggi bagi pasien dengan gagal jantung stadium lanjut.

Mengusung tema “Celebrating a Milestone in Advanced Heart Failure Care through Global Partnership and Medical Innovation”, kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni penyerahan perangkat, tetapi juga menandai dimulainya kolaborasi strategis dalam pengembangan ekosistem pelayanan LVAD di Indonesia melalui pemanfaatan teknologi medis mutakhir, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta kolaborasi internasional.

Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, dokter spesialis bedah jantung, dokter spesialis jantung, serta tenaga kesehatan multidisiplin RSCM telah mengikuti pelatihan di Fuwai Hospital, Beijing, salah satu pusat layanan jantung terbesar di dunia. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan Indonesia dalam seleksi pasien, prosedur implantasi, hingga tata laksana pasien pasca pemasangan LVAD sesuai standar internasional.

Dr. Supriyanto menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah penting dalam menghadirkan layanan terapi gagal jantung yang lebih komprehensif bagi masyarakat Indonesia. “Kami menyambut baik kesempatan untuk menghadirkan solusi penanganan gagal jantung yang lebih maju di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat membantu menurunkan angka kematian akibat gagal jantung yang masih tinggi, sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap terapi inovatif tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri.” tutur Dr. Supriyanto.

Ia menjelaskan gagal jantung merupakan salah satu masalah kesehatan dengan angka kejadian yang terus meningkat. Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD) 2019, Indonesia memiliki prevalensi gagal jantung sekitar 900–1.000 kasus per 100.000 penduduk dan menjadi negara dengan angka mortalitas gagal jantung tertinggi di Asia, yaitu sekitar 34,1%.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengembangan terapi yang lebih komprehensif bagi pasien gagal jantung stadium lanjut.  Salah satu terapi untuk pasien gagal jantung stadium lanjut adalah Left Ventricular Assist Device (LVAD), yaitu alat bantu pompa jantung yang dipasang melalui operasi untuk membantu ventrikel kiri memompa darah ke seluruh tubuh. Teknologi ini telah terbukti meningkatkan kualitas hidup serta memperpanjang harapan hidup pasien dengan gagal jantung stadium lanjut.

Pada tahap awal implementasi, RSCM akan melakukan pemasangan LVAD pertama kepada seorang pasien perempuan berusia 45 tahun dengan fungsi pompa jantung sebesar 14 %, yang mengalami sesak napas saat aktivitas ringan dan telah beberapa kali menjalani perawatan akibat gagal jantung. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan layanan gagal jantung lanjut di RSCM serta membuka harapan baru bagi pasien yang membutuhkan terapi mekanik jantung.

Menurut Dr. Supriyanto, tindakan ini bukan sekadar prosedur medis pertama, tetapi juga menjadi simbol kesiapan Indonesia memasuki layanan terapi jantung berteknologi tinggi.

“Besok akan menjadi sejarah bagi rumah sakit kami. Ini merupakan langkah awal menuju pelayanan baru yang akan membantu pasien gagal jantung lanjut memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik,” ungkap Direktur Utama.

Apa Itu LVAD?

LVAD atau Left Ventricular Assist Device merupakan pompa mekanis yang ditanamkan ke dalam tubuh untuk membantu bilik kiri jantung memompa darah ke seluruh tubuh.

Pada pasien gagal jantung berat, kemampuan bilik kiri memompa darah menurun drastis karena otot jantung telah mengalami kerusakan permanen. Dalam kondisi normal, pasien seperti ini menjadi kandidat transplantasi jantung. Namun ketika donor tidak tersedia, LVAD dapat mengambil alih sebagian besar fungsi pompa jantung sehingga sirkulasi darah tetap berjalan dengan baik.

Alat tersebut bekerja secara terus-menerus dengan bantuan baterai eksternal yang dihubungkan melalui kabel kecil dari dalam tubuh. Alat ini menggantikan fungsi pompa bilik kiri sehingga pasien tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari tanpa harus menunggu donor jantung.

Pada awal pengembangannya, LVAD hanya digunakan sebagai bridge to transplant, yaitu terapi sementara bagi pasien sambil menunggu donor jantung tersedia.

Namun perkembangan teknologi membuat fungsi LVAD berubah secara signifikan. Kini perangkat tersebut dapat digunakan sebagai destination therapy, yakni terapi jangka panjang bahkan seumur hidup bagi pasien yang tidak memungkinkan menjalani transplantasi. Daya tahan perangkat generasi terbaru jauh lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.

Perangkat terbaru juga memiliki ukuran yang jauh lebih kecil dibandingkan generasi sebelumnya yang dikembangkan di Amerika Serikat. Ukurannya memungkinkan alat dipasang bahkan pada pasien anak.

Menurut tim medis, di Tiongkok perangkat serupa telah berhasil ditanamkan pada pasien berusia delapan tahun dengan hasil yang sangat baik.

Indonesia Masih Tertinggal

Dalam kesempatan tersebut, tim RSCM juga membandingkan perkembangan terapi LVAD di Indonesia dengan sejumlah negara lain.

Kuwait, misalnya, telah memasang hampir 2.000 perangkat LVAD kepada pasien gagal jantung. Tingginya angka penggunaan tersebut berkaitan dengan tingginya prevalensi gagal jantung di negara tersebut.

Sementara di Indonesia, pengalaman penggunaan LVAD masih sangat terbatas. Sebelumnya pernah dilakukan pemasangan perangkat serupa menggunakan teknologi dari Amerika Serikat, namun hasilnya belum optimal.

Karena itu, implantasi LVAD di RSCM diharapkan menjadi awal pengembangan pusat layanan gagal jantung modern di Indonesia.

Salah satu tantangan terbesar dalam penggunaan LVAD adalah biaya perangkat yang sangat tinggi. Menurut Direktur Utama RSCM, harga satu unit LVAD setara dengan harga sebuah mobil mewah. Oleh karena itu, keberhasilan program perdana ini tidak terlepas dari dukungan para mitra internasional dan lembaga filantropi yang memberikan donasi perangkat.

“Nilai alat ini sangat besar. Kami bersyukur mendapatkan dukungan donor sehingga pasien Indonesia dapat memperoleh terapi yang sebelumnya sulit diakses,” katanya.

Perawatan Setelah Operasi Menjadi Kunci

Tim dokter menegaskan bahwa keberhasilan implantasi LVAD tidak hanya ditentukan oleh proses operasi, tetapi juga oleh perawatan pascaoperasi yang membutuhkan kerja sama multidisiplin.

Pasien harus menjalani pemantauan ketat terhadap fungsi alat, penggunaan baterai eksternal, pencegahan infeksi, hingga edukasi mengenai cara merawat perangkat selama menjalani kehidupan sehari-hari.

“Operasi hanyalah awal. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana pasien dapat hidup bertahun-tahun dengan perangkat ini secara aman.”

Karena itu, berbagai disiplin ilmu seperti dokter spesialis jantung, bedah jantung, anestesi, perawat, ahli ekokardiografi, rehabilitasi medik, hingga tenaga teknis perangkat medis harus bekerja secara terpadu.

RSCM juga menegaskan bahwa pengembangan layanan LVAD merupakan bagian dari persiapan menuju pelaksanaan transplantasi jantung di Indonesia.

Rumah sakit tersebut telah memiliki pusat transplantasi organ, namun transplantasi jantung masih menunggu kesiapan regulasi, sistem donor organ nasional, serta berbagai aspek etik dan hukum.

Dengan hadirnya LVAD, pasien yang sebelumnya diperkirakan memiliki harapan hidup sangat pendek kini memiliki peluang bertahan hidup lebih lama sambil menunggu perkembangan terapi di masa depan.

Selain LVAD, para dokter juga menyoroti perkembangan penelitian terapi regeneratif seperti penggunaan sel punca (stem cell) yang diharapkan suatu saat mampu memperbaiki otot jantung yang rusak.

Apabila teknologi tersebut berkembang, bukan tidak mungkin fungsi jantung pasien dapat pulih sehingga perangkat LVAD dapat dilepas di masa mendatang.

Meski demikian, saat ini LVAD tetap menjadi salah satu terapi paling efektif bagi pasien gagal jantung stadium akhir yang tidak memiliki donor jantung.

RSCM berharap keberhasilan implantasi perdana ini dapat menjadi awal pembentukan pusat pelatihan nasional sehingga dokter bedah jantung dari berbagai daerah di Indonesia dapat mempelajari teknik pemasangan serta tata laksana pasien LVAD.

Dengan demikian, akses terhadap terapi gagal jantung berteknologi tinggi diharapkan semakin luas dan mampu meningkatkan angka harapan hidup pasien gagal jantung di Indonesia.

Pos terkait