JAKARTA– Puapala (Putera-puteri Pecinta Alam) SMAN 8 Jakarta – berdiri tahun 1972- pada awalnya menggarisbawahi hanya kegiatan percinta alam, kemudian berkembang menjadi lebih beragam, seperti pendakian gunung, panjat terbing, arung jeram, susur gua, dan perkemahan.
“Puapala diresmikan di Kandang Badak, Gunung Gede, tanpa upacara besar-besaran, dengan ketua pertama, Djoko Prayitno,” ujar Endang Mariani, mengenang keikutsertaannya ketika itu dalam peresmian berdirinya Puapala pada acara peluncuran dan bedah buku terbitan EXPA RBMM (Ruang Belajar Menjadi Manusia- Perjalanan Pecinta Alam) di SMAN 8 di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).
Pada saat musim telah berganti, dan para siswa anggota Puapala periode pertama tersebut telah lama meninggalkan SMAN 8, mereka ini berpikir mengapa kami tidak meneruskan perjuangan Puapala?
Apalagi, Puapala pada waktu berdirinya, disemangati oleh ungkapan seorang Kepala Suku Indian-Seattle, AS, pada 11 Maret 1854: “Pecinta alam atau pendaki gunung, mesti menyandarkan diri pada etos lingkungan, carry only memories, leave only footprint.” (Jika dikonstruksi dalam Bahasa Indonesia dewasa ini, rawatlah lingkungan sebaik mungkin).
Pertanyaan “mengapa kami tidak meneruskan perjuangan Puapala itu” kemudian menjadikan Puapala “berganti sosok”, yakni pada sekitar 1980, menjadi organisasi yang lebih serius dan dinamakan EXPA (Eks. Puapala).
Semenjak berganti sosok, EXPA berperilaku lebih profesional, misalnya dalam aktivitasnya sebagai Kawah Candradimuka, wadah pembinaan rasa cinta Tanah Air dan bangsa.
Berpengalaman di Dunia Pecinta Alam
Pada masa-masa awal berdirinya, EXPA masih banyak dibantu oleh mereka yang telah berpengalaman di dunia pecinta alam, seperti Herman Lantang, Rudi Badil, dan lain-lainnya.
Sebagai bukti keprofesionalannya, dalam rangka memicu semangat literasi di Indonesia, EXPA juga bersemangat dalam hal penerbitan buku.
Buku pertama yang diterbitkannya, adalah Expa, Ruang Belajar Menjadi Manusia: Perjalanan Pecinta Alam (RBMM), (Editor: Endang Mariani, Didot Mpu Diantoro,.dkk., Jakarta, Prenada, 2026).
Buku, yang ditulis oleh 27 orang penulis para anggota EXPA itu, dibedah dengan mengundang Prof. Dr. Wahyu Wibowo (penggiat literasi, dosen dan juga penyair).
Menurut Prof.Dr.Wahyu Wibowo-seorang jurnalis senior- yang paling menarik buku tersebut disajikan dalam topik “siapakah diri saya: pengalaman saya naik gunung”, yang oleh karena itu bersifat refleksi ke-27 penulisnya dengan alam, yang juga mencerminkan refleksi mereka denga prinsip filsafat manusia.
Dalam konteks ini, amat wajar jika EXPA memberi anak judul pada buku pertamanya itu, yaitu “Ruang Belajar Menjadi Manusia”.
Karena, artinya, buku tersebut ditujukan kepada siapa saja yang mau belajar menjadi manusia.
Belajar yang dimaksudkan adalah bukan hanya belajar dari alam, (karena sejak masih jadi anggota Puapala SMAN 8 mereka sudah akrab dengan alam), melainkan justru ketika mendirikan organisasi EXPA.
Belajar melalui persepsi ke-27 penulisnya tentang alam”, juga dimudahkan oleh gaya jurnalistik yang mereka pilih.
Bukan seperti halnya buku ilmiah, yang ditulis dengan “dingin”, teoretis, dan dengan diksi yang bikin mumet dan ruwet, buku pertama Expa ini ditulis dalam gaya jurnalistik, yang cerdas dan menghibur, namun sarat dengan filosofi siapa gue. (Lasman )



















