73 Juta Warga Telah Ikuti Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Fokus Tangani Penyakit Jantung, Ginjal, dan Diabetes

Menkes Budi Gunadi Sadikin

JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia melaporkan perkembangan terbaru pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. Hingga 31 Juli 2026, program tersebut telah menjangkau sekitar 73 juta penduduk di berbagai daerah di Indonesia.

Pemerintah menilai capaian tersebut menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan secara berkala. Namun demikian, Kemenkes menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah masyarakat yang menjalani pemeriksaan, melainkan juga dari keberhasilan penanganan terhadap penyakit yang ditemukan selama proses skrining.

Bacaan Lainnya

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa setelah fokus utama tahun sebelumnya adalah memperluas jangkauan pemeriksaan kesehatan, kini pemerintah mulai mengarahkan perhatian pada kualitas pelayanan setelah pemeriksaan dilakukan. “Program cek kesehatan gratis sebenarnya bertujuan menjaga masyarakat tetap sehat. Tahun lalu fokus kita memperluas pemeriksaan. Sekarang fokusnya mulai bergeser kepada apa yang dilakukan setelah hasil pemeriksaan keluar. Jika ditemukan masalah kesehatan, maka harus segera ditangani,” ujar Budi, Selasa (4/8/2026).

Menurutnya, masyarakat yang telah mengikuti pemeriksaan kesehatan harus memperoleh tindak lanjut berupa edukasi, pemantauan, hingga pengobatan apabila ditemukan faktor risiko maupun penyakit tertentu.

Lebih lanjut, Menkes Budi menjelaskan bahwa pemerintah akan memusatkan perhatian terhadap tiga kelompok penyakit yang menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia, yakni penyakit jantung, penyakit ginjal, dan stroke. Ketiga penyakit tersebut merupakan bagian dari penyakit tidak menular yang selama beberapa tahun terakhir mendominasi penyebab kematian masyarakat Indonesia.

Menurut Menkes Budi, penanganan penyakit tersebut tidak cukup hanya dengan meningkatkan pelayanan rumah sakit, tetapi harus dimulai dari deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan rutin. Karena itu, Program Cek Kesehatan Gratis dirancang agar masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat.

“Kita ingin penyakit ditemukan lebih awal sehingga dapat dicegah sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih serius,” katanya.

Banyak Penyakit Berbahaya Tidak Bergejala

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengendalian penyakit tidak menular adalah banyaknya penyakit yang berkembang tanpa menimbulkan keluhan. Hipertensi, diabetes, gangguan ginjal, hingga penyakit jantung sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal.

Akibatnya, banyak masyarakat baru mengetahui dirinya menderita penyakit setelah mengalami komplikasi berat. “Penyakit-penyakit tersebut adalah silent killer. Orang yang mengalami hipertensi sering kali tidak tahu dirinya hipertensi. Orang diabetes juga banyak yang tidak mengetahui dirinya menderita diabetes,” ujar Dante.

Kondisi tersebut membuat deteksi dini menjadi sangat penting. Karena, lanjut Wamenkes Dante, seseorang dapat terlihat sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa, padahal organ tubuhnya perlahan mengalami kerusakan akibat tekanan darah tinggi maupun kadar gula darah yang tidak terkontrol.

Kerusakan tersebut dapat terjadi pada ginjal, jantung, mata, saraf, hingga pembuluh darah tanpa disadari. Sebagai contoh, Dante mengutip hasil penelitian yang pernah dilakukan di Jakarta.Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa sekitar satu dari delapan penduduk Jakarta menderita diabetes.

Namun yang mengejutkan, hanya sebagian kecil yang telah mengetahui dirinya mengidap penyakit tersebut sebelum dilakukan pemeriksaan. Sebagian besar penderita baru mengetahui status kesehatannya setelah mengikuti pemeriksaan laboratorium.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang hidup bertahun-tahun dengan diabetes tanpa diagnosis. Padahal diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai komplikasi, antara lain gagal ginjal, penyakit jantung, stroke, gangguan penglihatan, kerusakan saraf, hingga amputasi akibat luka yang sulit sembuh. Karena itulah, pemerintah mendorong masyarakat agar memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis setiap tahun.

Selain penyakit tidak menular, Dante juga menyoroti perubahan pola hidup masyarakat Indonesia. Di mana Indonesia kini menghadapi dua persoalan besar secara bersamaan. “Di satu sisi masih terdapat masalah stunting pada anak-anak. Namun di sisi lain angka obesitas pada orang dewasa juga terus meningkat,” ujarnya.

Data menyebutkan, sekitar satu dari tiga orang Indonesia mengalami obesitas. Obesitas ini menjadi faktor risiko utama berbagai penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan metabolik lainnya.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan rutin diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk mengubah pola hidup masyarakat melalui edukasi mengenai pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pengendalian berat badan.

Pemerintah juga mengaitkan Program Cek Kesehatan Gratis dengan visi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Menurut Dante, kualitas kesehatan masyarakat menjadi salah satu syarat utama agar Indonesia memiliki generasi yang produktif pada masa mendatang.

Pemeriksaan kesehatan dilakukan mulai dari ibu hamil, bayi, balita, anak sekolah, remaja, dewasa hingga lanjut usia. Dengan demikian, setiap kelompok umur memperoleh pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Angka Harapan Hidup Terus Naik

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa angka harapan hidup masyarakat Indonesia terus mengalami peningkatan. Saat ini usia harapan hidup nasional telah mencapai sekitar 74 tahun, meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang berada di kisaran 72 tahun.

Namun demikian, Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga. Thailand misalnya telah mencapai usia harapan hidup sekitar 77–78 tahun. Malaysia berada di kisaran 75 tahun. Sementara Singapura telah mendekati 84 tahun.

Menurut Endang, peningkatan usia harapan hidup harus dibarengi dengan peningkatan kualitas kesehatan sehingga masyarakat dapat hidup lebih lama sekaligus tetap sehat dan produktif.

Endang kembali menegaskan bahwa, hingga 31 Juli sebanyak 73 juta masyarakat telah menjalani pemeriksaan kesehatan melalui Program CKG. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika dirinci berdasarkan kelompok umur, capaian tersebut meliputi:

  • Anak usia dini, yang terus mengalami peningkatan meskipun masih menjadi kelompok dengan cakupan terendah.
  • Usia sekolah, mencapai sekitar 14,6 juta peserta, meningkat sangat signifikan dibandingkan tahun lalu.
  • Kelompok dewasa, sekitar 43 juta peserta.
  • Lanjut usia, sekitar 9,7 juta peserta.

Pemerintah akan terus memperluas cakupan pemeriksaan terutama pada kelompok usia sekolah melalui kerja sama dengan satuan pendidikan.

Diakui Endang, ada daerah-daerah yang memiliki catatan cakupan CKG yang sangat baik. Lima provinsi dengan performa terbaik adalah Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Jawa Tengah, Banten dan Lampung

Selain itu, beberapa kabupaten dan kota juga berhasil mencatatkan persentase pemeriksaan tertinggi secara nasional. Keberhasilan tersebut dinilai sebagai hasil kolaborasi pemerintah daerah, puskesmas, serta tenaga kesehatan dalam menjangkau masyarakat.

Hasil Pemeriksaan: Hipertensi Masih Mendominasi

Endang menyebutkan data CKG menunjukkan bahwa hipertensi masih menjadi salah satu faktor risiko kesehatan terbesar. Dari sekitar 52 juta orang yang menjalani pemeriksaan tekanan darah 4,9 juta orang terdiagnosis hipertensi dan 5,5 juta orang berada pada kategori prehipertensi.

Data tersebut bermakna bahwa lebih dari sepuluh juta masyarakat telah memiliki tekanan darah di atas normal. Apabila tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal.

Selain mendeteksi hupertensi, pada CKG juga ditemukan kasus diabetes yang dukup banyak. Pemeriksaan gula darah menemukan 992 ribu orang menderita diabetes dan 1,9 juta orang mengalami prediabetes.

“Kelompok prediabetes menjadi perhatian khusus karena masih memiliki peluang besar untuk kembali normal apabila segera melakukan perubahan gaya hidup. Sebaliknya, tanpa pengendalian, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi diabetes,” ujar Endang.

Gangguan kesehatan lainnya yang banyak ditemukan pada program CKG yakni ditemukannya sekitar 11 juta masyarakat mengalami obesitas. Pemeriksaan profil lemak darah juga menemukan sekitar 205 ribu orang memiliki gangguan kolesterol.

Namun Kemenkes mengakui bahwa cakupan pemeriksaan kolesterol masih perlu ditingkatkan karena baru menjangkau sekitar separuh sasaran pemeriksaan.

Salah satu fokus evaluasi pemerintah adalah memastikan pasien yang telah terdiagnosis segera memperoleh pengobatan. Saat ini pemerintah menyediakan obat gratis selama 15 hari bagi pasien baru dengan hipertensi, diabetes, maupun kolesterol tinggi sebelum pengobatan dilanjutkan melalui BPJS Kesehatan.

Meski demikian, evaluasi menunjukkan belum semua pasien langsung mendapatkan terapi setelah hasil pemeriksaan keluar. Hal tersebut menjadi salah satu prioritas perbaikan pada pelaksanaan Program CKG berikutnya.

Pemeriksaan Harus Dilakukan Setiap Tahun

Analisis Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan seseorang dapat berubah dalam waktu satu tahun. Sebanyak sekitar 30 juta orang yang sebelumnya tidak mengalami hipertensi kembali menjalani pemeriksaan pada tahun berikutnya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 1 juta orang ternyata telah mengalami hipertensi. Temuan serupa juga terjadi pada kasus prediabetes yang berkembang menjadi diabetes.

Data tersebut kata Endang, menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak cukup dilakukan satu kali. “Kami mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis secara rutin setiap tahun agar penyakit dapat ditemukan sejak dini sebelum menimbulkan komplikasi,” tegasnya.

Melalui Program Cek Kesehatan Gratis, pemerintah berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya deteksi dini penyakit tidak menular. Dengan cakupan yang telah mencapai sekitar 73 juta peserta dan fokus yang kini beralih pada tata laksana serta pengobatan, Kementerian Kesehatan optimistis angka kematian akibat penyakit jantung, stroke, ginjal, dan diabetes dapat ditekan. Upaya ini juga diharapkan berkontribusi pada peningkatan usia harapan hidup masyarakat Indonesia serta mendukung terwujudnya Generasi Emas 2045 yang sehat, produktif, dan berdaya saing.

Pos terkait