RSAB Harapan Kita Luncurkan Implementasi TeleNICU dan TelePEDIATRIX, Perkuat Akses Layanan Klinis Ibu dan Anak

Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan, Obrin Parulian (tengah) didampingi Dirut RSAB Harapan Kita Reni Wijaya (kiri)

JAKARTA – Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita meluncurkan implementasi TeleNICU dan TelePEDIATRIX sebagai bagian dari upaya memperkuat pelayanan klinis serta memperluas akses konsultasi dan peningkatan kompetensi rumah sakit dalam menangani kasus ibu dan anak. Implementasi tersebut diarahkan untuk memperkuat jejaring pelayanan kesehatan, khususnya dalam penanganan bayi baru lahir dan pasien anak yang membutuhkan penilaian serta tindakan medis secara cepat.

Sistem ini juga diharapkan dapat membantu rumah sakit di berbagai daerah memperoleh dukungan dalam pengambilan keputusan klinis tanpa harus selalu merujuk pasien ke rumah sakit pusat.

Bacaan Lainnya

Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan, Obrin Parulian, mengatakan penguatan sistem pelayanan menjadi bagian penting dalam menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang cepat dan berkualitas.

Menurutnya, pembangunan sistem pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas, tetapi juga peningkatan sumber daya manusia, kompetensi tenaga kesehatan, serta kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan sesuai kebutuhan pasien.

Salah satu fokus yang ditekankan adalah penanganan bayi baru lahir. Dalam kondisi tertentu, bayi membutuhkan penilaian dan stabilisasi terlebih dahulu sebelum ditentukan apakah perlu mendapatkan penanganan lanjutan atau dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap.

“Menilai kondisi bayi baru lahir seperti apa, apa yang perlu dilakukan untuk menstabilkannya, menjadi salah satu bagian penting dari proses pelayanan yang diperkuat melalui sistem tersebut,” kata Obrin.

Proses stabilisasi tersebut diharapkan dapat dilakukan sedini mungkin di fasilitas kesehatan tempat pasien pertama kali mendapatkan pertolongan. Setelah kondisi pasien dinilai dan ditangani sesuai kemampuan fasilitas kesehatan, tenaga medis dapat melakukan konsultasi dengan rumah sakit rujukan untuk menentukan langkah selanjutnya.

Dengan pola tersebut, keputusan rujukan tidak semata-mata didasarkan pada kebutuhan memindahkan pasien, tetapi juga mempertimbangkan kondisi klinis pasien dan kesiapan rumah sakit penerima.

Obrin menambahkan, penguatan layanan juga dilakukan melalui mentoring sebagai bagian dari peningkatan kompetensi dan kapasitas rumah sakit. Melalui mekanisme tersebut, rumah sakit yang memiliki kemampuan lebih dapat memberikan pendampingan kepada rumah sakit lain dalam menghadapi kasus-kasus tertentu.

Rumah sakit pusat kemudian berperan sebagai koordinator dan pusat pengembangan kompetensi. Jejaring tersebut diharapkan mampu membantu tenaga kesehatan di daerah dalam mengambil keputusan klinis secara tepat.

“Bagaimana daerah konsultasi mampu membantu keputusan klinis di rumah sakit,” lanjutnya.

Ketimpangan layanan masih menjadi tantangan

Direktur Utama RSAB Harapan Kita, Reni Wigati, mengatakan penguatan sistem pelayanan ibu dan anak penting dilakukan karena capaian kesehatan secara nasional belum sepenuhnya menggambarkan kondisi yang sama di seluruh wilayah Indonesia.

Reni menjelaskan bahwa Indonesia telah mengalami penurunan angka kematian ibu dan bayi. Namun, kesenjangan antardaerah masih menjadi tantangan dalam menyediakan akses pelayanan kesehatan yang setara.

Ia menyebut angka kematian bayi di Indonesia telah mengalami penurunan. Dalam bahan yang disampaikan, angka tersebut disebut turun dari sekitar 26 kematian per 1.000 kelahiran pada 2010 menjadi sekitar 12 per 1.000 kelahiran pada 2020.

Namun, capaian nasional tersebut tidak secara otomatis berarti seluruh daerah memiliki tingkat kematian dan akses layanan yang sama.

“Angka itu adalah angka Indonesia sebagai keseluruhan negara, namun kalau kita lihat angka-angka di berbagai regional itu berbeda,” ujar Reni.

Perbedaan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya membangun jejaring pelayanan kesehatan yang mampu menjangkau rumah sakit di berbagai daerah.

Menurut Reni, masyarakat yang tinggal jauh dari pusat layanan kesehatan rujukan tetap membutuhkan kesempatan memperoleh pelayanan dengan standar yang memadai. Karena itu, peningkatan kemampuan rumah sakit daerah menjadi bagian penting dari upaya memperkecil kesenjangan pelayanan.

Mengubah waktu tunggu menjadi kesempatan pelayanan

Salah satu gagasan yang dikembangkan RSAB Harapan Kita adalah memanfaatkan waktu tunggu pasien untuk melakukan komunikasi dan koordinasi dengan rumah sakit lain.

Sebagai salah satu pusat layanan nasional, RSAB Harapan Kita setiap hari menerima banyak pasien anak dan ibu yang membutuhkan layanan lanjutan. Kondisi tersebut membuat waktu tunggu menjadi salah satu bagian yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan persiapan pelayanan.

Reni mengatakan, pasien yang datang tidak semestinya hanya menunggu hingga mendapatkan giliran pelayanan. Dalam proses tersebut, komunikasi dengan rumah sakit asal atau rumah sakit yang merujuk pasien dapat dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi pasien dan kebutuhan penanganannya.

Dengan komunikasi lebih awal, rumah sakit pengirim dapat mempersiapkan pelayanan sebelum pasien tiba atau mendapatkan keputusan lebih lanjut dari rumah sakit rujukan.

Konsep tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pelayanan sekaligus memperkuat koordinasi antar-fasilitas kesehatan.

“Kalau waktu mereka menunggu itu bisa kita lakukan sesuatu, kita lihat dampaknya pasien bukan hanya sekadar menunggu antrean masuk,” kata Reni.

Teknologi Perkuat Jejaring Pelayanan

Dalam implementasinya, RSAB Harapan Kita juga mengembangkan sejumlah aplikasi dan sistem komunikasi untuk mendukung koordinasi antara tenaga kesehatan dan rumah sakit. Sistem tersebut diharapkan dapat membantu proses konsultasi klinis, komunikasi kondisi pasien, serta pemberian rekomendasi penanganan sesuai kebutuhan.

Dengan dukungan teknologi, jarak antara rumah sakit pusat dan fasilitas kesehatan di daerah diharapkan tidak lagi menjadi hambatan utama dalam memperoleh konsultasi dari tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi tertentu.

Penguatan sistem berbasis kompetensi juga memungkinkan rumah sakit daerah memperoleh dukungan ketika menghadapi kasus yang membutuhkan pertimbangan lebih lanjut.

Dalam konteks pelayanan bayi baru lahir, misalnya, tenaga kesehatan di fasilitas awal dapat melakukan penilaian terhadap kondisi bayi, memberikan stabilisasi sesuai kemampuan, kemudian berkomunikasi dengan rumah sakit rujukan untuk menentukan apakah pasien membutuhkan rujukan dan bagaimana persiapan yang harus dilakukan.

Bukan sekadar sistem baru

Reni menegaskan bahwa implementasi Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita meluncurkan implementasi PRD-Q dan PRD-X sebagai bagian dari upaya memperkuat pelayanan klinis serta memperluas akses konsultasi dan peningkatan kompetensi rumah sakit dalam menangani kasus ibu dan anak.

Implementasi tersebut diarahkan untuk memperkuat jejaring pelayanan kesehatan, khususnya dalam penanganan bayi baru lahir dan pasien anak yang membutuhkan penilaian serta tindakan medis secara cepat. Sistem ini juga diharapkan dapat membantu rumah sakit di berbagai daerah memperoleh dukungan dalam pengambilan keputusan klinis tanpa harus selalu merujuk pasien ke rumah sakit pusat.

Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan, Obrin Parulian, mengatakan penguatan sistem pelayanan menjadi bagian penting dalam menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang cepat dan berkualitas.

Menurutnya, pembangunan sistem pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas, tetapi juga peningkatan sumber daya manusia, kompetensi tenaga kesehatan, serta kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan sesuai kebutuhan pasien.

Salah satu fokus yang ditekankan adalah penanganan bayi baru lahir. Dalam kondisi tertentu, bayi membutuhkan penilaian dan stabilisasi terlebih dahulu sebelum ditentukan apakah perlu mendapatkan penanganan lanjutan atau dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap.

“Menilai kondisi bayi baru lahir seperti apa, apa yang perlu dilakukan untuk menstabilkannya,” menjadi salah satu bagian penting dari proses pelayanan yang diperkuat melalui sistem tersebut.

Proses stabilisasi tersebut diharapkan dapat dilakukan sedini mungkin di fasilitas kesehatan tempat pasien pertama kali mendapatkan pertolongan. Setelah kondisi pasien dinilai dan ditangani sesuai kemampuan fasilitas kesehatan, tenaga medis dapat melakukan konsultasi dengan rumah sakit rujukan untuk menentukan langkah selanjutnya.

Dengan pola tersebut, keputusan rujukan tidak semata-mata didasarkan pada kebutuhan memindahkan pasien, tetapi juga mempertimbangkan kondisi klinis pasien dan kesiapan rumah sakit penerima.

Obrin menambahkan, penguatan layanan juga dilakukan melalui mentoring sebagai bagian dari peningkatan kompetensi dan kapasitas rumah sakit. Melalui mekanisme tersebut, rumah sakit yang memiliki kemampuan lebih dapat memberikan pendampingan kepada rumah sakit lain dalam menghadapi kasus-kasus tertentu.

Rumah sakit pusat kemudian berperan sebagai koordinator dan pusat pengembangan kompetensi. Jejaring tersebut diharapkan mampu membantu tenaga kesehatan di daerah dalam mengambil keputusan klinis secara tepat.

“Bagaimana daerah konsultasi mampu membantu keputusan klinis di rumah sakit,” menjadi salah satu tujuan yang ditekankan dalam pengembangan sistem tersebut.

Ketimpangan layanan masih menjadi tantangan

Direktur Utama RSAB Harapan Kita, Reni Wigati, mengatakan penguatan sistem pelayanan ibu dan anak penting dilakukan karena capaian kesehatan secara nasional belum sepenuhnya menggambarkan kondisi yang sama di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam sambutannya pada peluncuran implementasi PRD-Q dan PRD-X, Reni menjelaskan bahwa Indonesia telah mengalami penurunan angka kematian ibu dan bayi. Namun, kesenjangan antardaerah masih menjadi tantangan dalam menyediakan akses pelayanan kesehatan yang setara.

Ia menyebut angka kematian bayi di Indonesia telah mengalami penurunan. Dalam bahan yang disampaikan, angka tersebut disebut turun dari sekitar 26 kematian per 1.000 kelahiran pada 2010 menjadi sekitar 12 per 1.000 kelahiran pada 2020.

Namun, capaian nasional tersebut tidak secara otomatis berarti seluruh daerah memiliki tingkat kematian dan akses layanan yang sama.

“Angka itu adalah angka Indonesia sebagai keseluruhan negara, namun kalau kita lihat angka-angka di berbagai regional itu berbeda,” ujar Reni.

Perbedaan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya membangun jejaring pelayanan kesehatan yang mampu menjangkau rumah sakit di berbagai daerah.

Menurut Reni, masyarakat yang tinggal jauh dari pusat layanan kesehatan rujukan tetap membutuhkan kesempatan memperoleh pelayanan dengan standar yang memadai. Karena itu, peningkatan kemampuan rumah sakit daerah menjadi bagian penting dari upaya memperkecil kesenjangan pelayanan.

Mengubah waktu tunggu menjadi kesempatan pelayanan

Salah satu gagasan yang dikembangkan RSAB Harapan Kita adalah memanfaatkan waktu tunggu pasien untuk melakukan komunikasi dan koordinasi dengan rumah sakit lain.

Sebagai salah satu pusat layanan nasional, RSAB Harapan Kita setiap hari menerima banyak pasien anak dan ibu yang membutuhkan layanan lanjutan. Kondisi tersebut membuat waktu tunggu menjadi salah satu bagian yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan persiapan pelayanan.

Reni mengatakan, pasien yang datang tidak semestinya hanya menunggu hingga mendapatkan giliran pelayanan. Dalam proses tersebut, komunikasi dengan rumah sakit asal atau rumah sakit yang merujuk pasien dapat dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi pasien dan kebutuhan penanganannya.

Dengan komunikasi lebih awal, rumah sakit pengirim dapat mempersiapkan pelayanan sebelum pasien tiba atau mendapatkan keputusan lebih lanjut dari rumah sakit rujukan.

Konsep tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pelayanan sekaligus memperkuat koordinasi antar-fasilitas kesehatan.

“Kalau waktu mereka menunggu itu bisa kita lakukan sesuatu, kita lihat dampaknya pasien bukan hanya sekadar menunggu antrean masuk,” kata Reni.

Teknologi untuk memperkuat jejaring pelayanan

Dalam implementasinya, RSAB Harapan Kita juga mengembangkan sejumlah aplikasi dan sistem komunikasi untuk mendukung koordinasi antara tenaga kesehatan dan rumah sakit.

Sistem tersebut diharapkan dapat membantu proses konsultasi klinis, komunikasi kondisi pasien, serta pemberian rekomendasi penanganan sesuai kebutuhan.

Dengan dukungan teknologi, jarak antara rumah sakit pusat dan fasilitas kesehatan di daerah diharapkan tidak lagi menjadi hambatan utama dalam memperoleh konsultasi dari tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi tertentu.

Penguatan sistem berbasis kompetensi juga memungkinkan rumah sakit daerah memperoleh dukungan ketika menghadapi kasus yang membutuhkan pertimbangan lebih lanjut.

Dalam konteks pelayanan bayi baru lahir, misalnya, tenaga kesehatan di fasilitas awal dapat melakukan penilaian terhadap kondisi bayi, memberikan stabilisasi sesuai kemampuan, kemudian berkomunikasi dengan rumah sakit rujukan untuk menentukan apakah pasien membutuhkan rujukan dan bagaimana persiapan yang harus dilakukan.

Bukan sekadar sistem baru

Reni menegaskan bahwa implementasi TeleNICU dan TelePEDIATRIX bukan semata-mata memperkenalkan sesuatu yang sepenuhnya baru. Menurutnya, sistem tersebut merupakan bagian dari implementasi dan penguatan berbagai sistem pelayanan kesehatan yang sebelumnya telah dibangun.

“Tujuan akhirnya adalah memastikan sistem yang telah dikembangkan dapat memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat,” jelas Reni.

RSAB Harapan Kita sebagai rumah sakit yang berfokus pada pelayanan ibu dan anak memiliki posisi strategis dalam pengembangan jejaring tersebut. Pengalaman dan kompetensi yang dimiliki rumah sakit diharapkan dapat dibagikan kepada fasilitas kesehatan lain sehingga peningkatan kapasitas tidak hanya terjadi di rumah sakit pusat.

“Ini bukan sesuatu yang baru, tetapi justru merupakan implementasi dari beberapa sistem yang sudah dibangun,” ujar Reni.

Mendorong pemerataan akses pelayanan

Pemerataan akses menjadi salah satu pesan utama dalam peluncuran implementasi tersebut. Penurunan angka kematian ibu dan bayi secara nasional perlu diikuti dengan upaya memastikan masyarakat di berbagai wilayah memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pelayanan berkualitas.

Kesenjangan geografis menjadi persoalan tersendiri bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Tidak semua pasien dapat dengan mudah mencapai rumah sakit rujukan nasional. Dalam kondisi tertentu, perjalanan menuju rumah sakit dengan fasilitas dan tenaga ahli yang sesuai dapat memerlukan waktu cukup panjang.

Karena itu, penguatan kapasitas rumah sakit daerah dan dukungan konsultasi jarak jauh dapat menjadi bagian dari strategi untuk mempercepat pengambilan keputusan klinis.

Sistem tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran rumah sakit daerah, melainkan memperkuat kemampuan tenaga kesehatan setempat melalui konsultasi, pendampingan, serta peningkatan layanan.

Pos terkait