JAKARTA – Alzheimer Indonesia (ALZI) menutup rangkaian Bulan Alzheimer
Sedunia 2026 lewat acara “Bergerak Melawan Demensia: Investasi Otak Sehat Dari Sekarang!”
berlangsung di Gedung Yustinus, Unika Atma Jaya, Semanggi Jakarta, Rabu (30/9/2026)
Acara ini mempertemukan Orang Dengan
Demensia (ODD), keluarga pendamping, tenaga kesehatan, akademisi, media jurnalis dan berbagai mitra dengan satu pesan utama: aktivitas fisik adalah salah satu investasi paling terjangkau
untuk kesehatan otak, dan manfaatnya tidak berhenti ketika diagnosis ditegakkan.
September 2026 ini lebih dari 100 negara di dunia merayakan Bulan Alzheimer Sedunia
termasuk Indonesia, tema global tahun ini adalah #EarlyDiagnosisMatters, the earlier you
know, the more you can do, #PentingnyaDeteksiDIniDemensia, kenali lebih awal, siapkan
lebih baik.
Acara dihadiri Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, SpPD-KEMD, PhD yang menyampaikan sambutan kunci di bulan September bulan Alzheimer dunia
dan menegaskan bahwa demensia bukan lah proses normal dari penuaan dan pentingnya peran kita semua bekerja sama dalam membantu Orang Dengan Demensia dan caregiversnya di
Indonesia.
Deteksi Dini
Pentingnya deteksi dini melalui skrining untuk cluster lansia penduduk usia di atas 60
tahun diwujudkan dalam program pemerintah cek kesehatan gratis yang sudah menjangkau lebih dari 70 juta penduduk dimana 12 juta-nya adalah lansia. Hasil skrining lansia menunjukkan 30-36%
lansia terdeteksi memiliki indikasi gangguan kognitif yang berarti hampir 2 juta lansia di Indonesia
terancam mengalami penurunan fungsi otak.
Tingginya gangguan kognitif lansia berkitan erat dengan penyakit penyerta lainnya yang ditemukan saat CKG yaitu hipertensi, diabetes, obesitas, kesehatan gigi, hasil skrining massal CKG juga menunjukkan bahwa 96.7% lansia di Indonesia kurang melakukan aktivitas fisik yang cukup (bergerak) dalam kehidupan sehari harinya.
Aktivitas Fisik Sebagai Kunci Investasi Melawan Demensia
Penelitian menunjukkan hingga 45 persen kasus demensia dapat ditunda atau dicegah dengan menangani faktor risiko yang berkaitan dengan gaya hidup, termasuk kurangnya aktivitas fisik.
Manfaat gerak terbukti paling besar ketika dimulai pada tahap gangguan kognitif ringan, jauh sebelum seseorang kehilangan kemandiriannya.
“Aktivitas fisik bukan sekadar anjuran umum, tetapi bagian dari rencana perawatan yang bisa diresepkan dan diukur. Yang sering luput adalah bahwa manfaatnya tidak berhenti setelah diagnosis. Pada Orang Dengan Demensia, aktivitas fisik yang dirancang sesuai kemampuan akan menjaga kemandirian, suasana hati, dan kualitas hidup, baik bagi orang dengan demensia maupun pendampingnya,” ujar dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp.KO., Subsp. ALK(K), spesialis kedokteran
olahraga sekaligus Founder dan CEO Klinik Utama Eminence dan ResepGerak.ID.
Sebelum acara utama, peserta diberikan akses untuk mengikuti sesi Resep Gerak Assessment team Eminence, deteksi dini dari Prodia, dan pameran mitra lainnya seperti Hovicare, BCA, Hokben dan
lainnya.
Selain sesi ini, ada sekitar 30 Orang Dengan Demensia yang hadir dan difasilitasi oleh tim
ALZI dan didukung mitra Rukun Senior Living menjalani aktivitas kegiatan bermakna. Kurang lebih 350 peserta antusias berpartisipasi di acara ini dan sebanyak 10 – 20% peserta menjalani asesmen kebugaran dan skrining deteksi dini fungsi kognitif, dimana sebagian kecil dari peserta dianjurkan
untuk pemeriksaan lanjutan.
Cerita dari Camino de Santiago de Compostella, Spanyol
Salah satu cerita inspiratif terkait aktivitias fisik adalah cerita Prof Melani Budianta (Mild Cognitive
Impairment/hendaya kognitif ringan) yang didampingi Eka Budianta, Orang Dengan Demensia dan
dr Theresia Citraningtyas yang menempuh perjalanan ziarah Camino de Santiago di Spanyol sejauh
40 km kilometer pada Juni-Juli 2026 lalu didukung oleh Global Brain Health Initiative, Walk the Talk
Dementia Insitute, Alzheimer Disease International dan lainnya.
Perjalanan bersejarah itu ditempuh
dalam empat hari berjalan kaki bersama lebih dari 80 Orang Dengan Demensia, tenaga Kesehatan,
peneliti, praktisi, pemerhati demensia dari seluruh dunia.
Di sepanjang rute, Keluarga Budianta menghadapi tantangan yang akrab bagi banyak orang
diantaranya, kelelahan, dehidrasi, disorientasi dan lainnya. Yang membuat perjalanan itu mungkin
bukan kondisi fisik yang istimewa, melainkan persiapan yang bertahap, pendampingan yang tepat,
dan rute yang dipecah menjadi jarak harian yang masuk akal.
Prof Melani menegaskan bahwa setelah berjalan sepanjang 40 km beliau, suami dan anaknya juga mendapat kesempatan berbagi di symposium di Spanyol dan “panen” nya dari Camino adalah betapa Orang Dengan Demensia lainnya dari negara lain yang sudah didiagnosa lebih dari 8 tahun
masih aktif dan sehat dan justru menjadi pegiat untuk advokasi mengenai demensia dan hal tersebut menjadi sumber inspirasi baginya dan keluarga.
Cerita ini juga menjadi pengingat bahwa walaupun demensia mengubah cara seseorang menjalani hidup, tetapi tidak dengan sendirinya menghentikannya. Dengan dukungan dan ruang yang inklusif,
ODD dapat terus beraktivitas, berkarya, dan menyuarakan pengalamannya untuk menginspirasi
orang lain, termasuk generasi yang lebih muda.
Otak Yang Terus Dijaga.
“Kemampuan otak untuk beradaptasi, yang kita kenal sebagai cognitive reserve, tidak dibangun
dalam semalam. Aktivitas fisik, keterlibatan sosial, dan pengendalian faktor risiko vaskular seperti
hipertensi dan diabetes adalah investasi jangka panjang. Karena itu, ketika keluhan mulai muncul,
kita sebaiknya tidak menunggu sampai seseorang kehilangan kemandiriannya untuk memeriksakan
diri,” ujar Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), MD, PhD, Neurolog dan Rektor Unika Atma Jaya.
“Acara hari ini memperlihatkan bahwa dukungan bagi ODD tidak berhenti pada obat dan
pemeriksaan. Keluarga, komunitas, tempat kerja, dan ruang publik ikut menentukan apakah
seseorang dengan demensia tetap bisa bergerak dan terlibat. ALZI hadir agar ODD dan keluarga
tidak menjalani perjalanan ini sendirian,” ujar Imelda Theresia, Plt Direktur Eksekutif Alzheimer
Indonesia.
Jangan Maklum Dengan Pikun
Empat dari lima orang dan dua pertiga tenaga kesehatan masih keliru menganggap demensia
sebagai bagian wajar dari penuaan. Anggapan tersebut menunda diagnosis dan menutup akses
terhadap pengobatan serta dukungan yang dibutuhkan. Mengenali 10 gejala demensia, termasuk
kehilangan ingatan, kesulitan melakukan sesuatu yang sudah terbiasa dilakukan, dan masalah
berkomunikasi, cukup menjadi alasan untuk berbicara dengan dokter atau menghubungi Alzheimer
Indonesia.
Imelda Theresia, PLT Direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia menyampaikan
apreasiasinya terhadap seluruh team, relawan dan Koordinator Wilayah (Korwil) ALZI yang tersebar di lebih dari 20 kota di Indonesia dan 8 di luar negeri yang sudah berkontribusi meramaikan bulan Alzheimer dunia melalui lebih dari 60 events di Indonesia dan overseas demi meningkatkan
kepedulian dan pemahaman Masyarakat mengenai demensia Alzheimer dan pentingnya deteksi
dini dilakukan.
Bagi masyarakat yang memiliki kekhawatiran terhadap daya ingat diri sendiri maupun orang
terdekat, ALZI membuka layanan Careline ALZICare di 0811 822 594. Informasi mengenai 10
gejala demensia dan program pendampingan ALZI tersedia di www.alzi.or.id , sosial media ALZI:
Facebook, Instagram alzi_indonesia, tik tok, linkedin dan lainnya.
#PentingnyaDeteksiDini #JanganMaklumDenganPikun #EarlyDiagnosisMatters###
Tentang Alzheimer Indonesia (ALZI)
Alzheimer Indonesia (ALZI) adalah organisasi nirlaba yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup
Orang Dengan Demensia (ODD) dan caregiver atau pendampingnya di Indonesia. ALZI didukung
relawan dari semua usia dan tenaga kesehatan profesional multidisiplin, mulai dari dokter spesialis
saraf, geriatri, psikiatri, perawat, psikolog, hingga fisioterapis.
Program ALZI mencakup kegiatan
luring dan daring seperti NARAZI (Navigasi Perawatan ALZI), Home Visit, Caregivers Meeting
(Support Group), SERAZI (Sehat Bersama ALZI), Pelatihan Demensia Alzheimer (PDA), serta ALZI
Academy dan Healthy Aging Centre bersama Unika Atma Jaya. Informasi lebih lanjut tersedia di
ALZICare, website: http://www.alzi.or.id. Careline: 0811 822 594.
Tentang Alzheimer’s Disease International (ADI)
Alzheimer’s Disease International adalah sebuah federasi lebih dari 100 asosiasi demensia
Alzheimer di dunia dan berpusat di London UK serta memiliki kemitraan resmi dengan Badan
Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO). Visi ADI adalah preventif, pendampingan dan
inklusi hari ini dan pengobatan di masa depan. ADI percaya akan kombinasi unik dari Solusi global
dan kearifan local.
ADI bekerja dengan cara memberdayakan organisasi asosiasi di seluruh dunia
termasuk dengan Alzheimer Indonesia dalam mempromosikan pentingnya dukungan untuk Orang Dengan Demensia dan pendampingnya serta konsisten mengadvokasi di level global, regional dan
nasional akan pentingnya menciptakan dementia inclusive society di sekitar kita.
Untuk informasi
lebih lanjut kontak DY Suharya, Regional Director Asia Pacific: dy.suharya@alzint.org, 0816 86
3136. http://www.alzint.org.
Kontak Pers
Imelda Theresia, Plt Direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia.(*/Lasman )

















