Resmikan Sekolah Kebangsaan, Yudi Latif Sebut Pendidikan Kewarganegaraan Fondasi Utama Kehidupan Berbangsa

Yudi Latif didampingi Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo meresmikan Sekolah Kebangsaan

JAKARTA – Ketua di Yayasan Dana Darma Pancasila (DDP) Yudi Latif menekankan pentingnya pendidikan kewarganegaraan dan pembentukan manusia berkualitas sebagai fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan demokrasi dan memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal tersebut disampaikan Yudi Latif pada peluncuran Sekolah Kebangsaan sebagai rangkaian dari HUT ke-16 Aliansi Kebangsaan yang berlangsung di Auditorium Perpustakaan Nasional, Rabu (28/10/2026).

Menurutnya, kemerdekaan Indonesia harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia yang mampu menjalankan demokrasi berdasarkan nilai-nilai Pancasila. “Persoalan bangsa tidak hanya berkaitan dengan sistem politik, tetapi juga kualitas manusia yang menjalankannya. Sistem yang baik tidak akan menghasilkan tujuan yang diharapkan apabila masyarakat, terutama generasi muda, tidak mendapatkan pendidikan politik dan pembentukan karakter yang memadai,” ujar Yudi Latif.

Bacaan Lainnya

Ia mengingatkan bahwa pendidikan politik seharusnya menjadi salah satu fungsi penting partai politik. Namun, pendidikan tersebut dinilai belum berjalan optimal. Akibatnya, masyarakat belum sepenuhnya mendapatkan bekal untuk berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi secara bertanggung jawab.

Yudi Latif menjelaskan bahwa demokrasi tidak cukup hanya dibangun melalui pemilihan umum dan pembentukan sistem politik. Demokrasi juga membutuhkan warga negara yang memahami hak, kewajiban, etika, serta tanggung jawabnya dalam kehidupan publik.

Menurutnya, pendidikan Pancasila selama ini perlu diperkuat agar tidak hanya berhenti pada penghafalan sila-sila dan butir-butir pengamalannya. Nilai-nilai Pancasila harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pendidikan kewarganegaraan yang membentuk sikap, perilaku, dan tanggung jawab sosial.

Ia juga menyoroti pentingnya pembentukan kader politik yang berintegritas. Organisasi kemahasiswaan dan berbagai wadah pembinaan generasi muda diharapkan dapat menjadi tempat untuk mempelajari kepemimpinan, etika, dan praktik demokrasi yang sehat.

Dengan demikian, politik tidak hanya dipahami sebagai teknik untuk memperoleh kekuasaan, tetapi juga sebagai sarana pengabdian kepada masyarakat dan bangsa.

Rencana Pembentukan Sekolah Kebangsaan

Sebagai salah satu upaya memperkuat pemahaman kebangsaan, Yudi Latif memaparkan rencana pembentukan Sekolah Kebangsaan yang berfokus pada pembelajaran Indonesia secara menyeluruh. Sekolah ini dirancang dalam dua tingkatan, yaitu tingkat dasar dan tingkat lanjutan. Pada tingkat dasar, peserta akan mempelajari wawasan keindonesiaan yang mencakup alam, manusia, dan peradaban.

Materi tentang alam Indonesia meliputi keanekaragaman hayati, geografi, biologi, kelautan, hutan, mineral, serta potensi sumber daya alam. Peserta diharapkan memahami kekayaan geografis dan ekologis Indonesia sebagai modal penting dalam pembangunan nasional.

Pada aspek manusia, pembelajaran akan membahas sejarah, arkeologi, antropologi, serta keragaman asal-usul masyarakat Nusantara. Pemahaman tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran bahwa masyarakat Indonesia terbentuk melalui perjalanan sejarah yang panjang dan memiliki latar belakang yang beragam.

Sementara itu, aspek peradaban akan mengulas perkembangan pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan tradisi maritim Nusantara. Pembelajaran ini bertujuan membangun kembali pemahaman mengenai kontribusi masyarakat Indonesia dalam perkembangan peradaban serta meningkatkan kepercayaan diri bangsa.

Program tersebut juga akan membahas sejarah pemikiran politik Indonesia, termasuk berbagai tradisi intelektual dan ideologi yang turut membentuk gagasan kebangsaan.

Menanamkan Nilai Pancasila dalam Kepemimpinan

Pada tingkat lanjutan, Sekolah Kebangsaan akan berfokus pada pembangunan dan kepemimpinan Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Peserta tidak hanya mempelajari Pancasila secara teoretis, tetapi juga mengenali contoh penerapannya dalam praktik. Pembelajaran direncanakan mencakup berbagai bidang, seperti bisnis, pemerintahan, politik, dan kehidupan sosial.

Tokoh-tokoh yang dinilai memiliki pengalaman dan keteladanan dalam menerapkan nilai kebangsaan diharapkan dapat dilibatkan sebagai narasumber. Pengalaman mereka akan didokumentasikan dan dikembangkan menjadi bahan pembelajaran bagi peserta maupun masyarakat luas.

Melalui pendekatan tersebut, peserta diharapkan mampu memahami bahwa nilai Pancasila dapat diwujudkan dalam berbagai profesi dan bidang kehidupan, bukan hanya dalam pembelajaran di ruang kelas.

Salah satu ciri utama program Sekolah Kebangsaan yang direncanakan adalah keterlibatan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta direncanakan berasal dari setiap provinsi, dengan komposisi yang memperhatikan keterwakilan laki-laki dan perempuan. Selain itu, kelompok penyandang disabilitas juga direncanakan memperoleh kuota khusus agar program tersebut mencerminkan keberagaman masyarakat Indonesia.

Dengan melibatkan peserta dari berbagai latar belakang, sekolah ini diharapkan menjadi miniatur Indonesia yang mempertemukan beragam pengalaman, budaya, pemikiran, dan aspirasi.

Peserta juga direncanakan mengikuti diskusi kelompok, refleksi bersama, penyusunan makalah, presentasi, serta kunjungan ke sejumlah situs bersejarah dan lembaga penting. Kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu mereka memahami persoalan kebangsaan dari perspektif yang berbeda.

Melalui interaksi antarpeserta, program ini ingin menumbuhkan kesadaran bahwa perbedaan bukanlah penghalang persatuan. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila dilandasi penghormatan, pemahaman, dan tujuan bersama.

Mengembangkan Pengetahuan Lokal sebagai Potensi Bangsa

Selain Sekolah Kebangsaan, Yudi Latif juga menyampaikan gagasan mengenai pengembangan talenta berbasis pengetahuan lokal atau local knowledge.

Menurut gagasan tersebut, setiap daerah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang berkembang dari pengalaman masyarakat dalam menghadapi kondisi alam dan persoalan kehidupan sehari-hari. Pengetahuan itu dapat berupa teknik pengelolaan lingkungan, keterampilan tradisional, maupun cara masyarakat memanfaatkan sumber daya secara efektif.

Pengetahuan lokal perlu didokumentasikan, diteliti, dan dikembangkan agar tidak hilang seiring perubahan zaman. Dengan pendekatan ini, kearifan masyarakat daerah tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang berpotensi memberikan manfaat bagi pembangunan nasional.

Meski demikian, pengembangan program tersebut direncanakan dilakukan secara bertahap, dengan memprioritaskan pelaksanaan Sekolah Kebangsaan terlebih dahulu.

Yudi Latif menyadari bahwa pelaksanaan Sekolah Kebangsaan membutuhkan dukungan berbagai pihak, terutama dalam hal pembiayaan, transportasi, akomodasi, tenaga pengajar, dan penyediaan materi pembelajaran.

Kehadiran peserta dari seluruh wilayah Indonesia memerlukan perencanaan dan sumber daya yang memadai. Karena itu, dukungan dari berbagai kalangan, termasuk dunia usaha, akademisi, dan lembaga terkait, dinilai penting agar program dapat terlaksana secara berkelanjutan.

Program tersebut direncanakan berlangsung secara berkala dengan tingkatan pembelajaran yang berbeda. Pelaksanaannya diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem pendidikan kebangsaan yang lebih terarah.

Pos terkait