Dalam konteks pubertas, Prof. Aman menekankan pentingnya pemberian hormon seks (estrogen) pada waktu yang tepat.“Terapi hormon seks sebaiknya tidak ditunda. Pada usia sekitar 11–12 tahun, idealnya sudah mulai dipertimbangkan,” katanya.
Ia juga meluruskan kekhawatiran yang sering muncul di kalangan orang tua terkait efek estrogen terhadap pertumbuhan tinggi badan. “Jangan terlalu takut bahwa pemberian estrogen akan langsung menutup lempeng pertumbuhan. Pada fase awal, justru bisa membantu meningkatkan pertumbuhan,” jelasnya.
Hal ini sejalan dengan pemahaman bahwa hormon estrogen memiliki efek awal yang merangsang pertumbuhan sebelum akhirnya menutup lempeng pertumbuhan tulang.
Menurut dr. Aman, dalam banyak kasus Turner Syndrome, terapi hormon pertumbuhan dan hormon seks perlu diberikan secara bersamaan dengan pengaturan dosis yang tepat. “Ini bukan pilihan salah satu, tapi bagaimana kita mengombinasikan terapi sesuai kebutuhan pasien,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengaturan dosis dan timing terapi harus dilakukan oleh dokter yang menangani, dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien.
Selain pertumbuhan dan pubertas, Prof. Aman juga menyoroti risiko jangka panjang berupa osteoporosis akibat rendahnya kadar estrogen. “Karena estrogen rendah, ada risiko ke depan untuk osteoporosis. Itu sebabnya terapi hormon ini penting dan sering kali perlu diberikan jangka panjang,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa terapi hormon tidak hanya bertujuan jangka pendek, tetapi juga untuk menjaga kesehatan tulang dan kualitas hidup di masa depan.
Dr. Aman mengingatkan bahwa terapi hormon pada Turner Syndrome bukan terapi sementara. Bukan terapi yang berhenti setelah satu tujuan tercapai. Dalam banyak kasus, terapi perlu dilanjutkan dalam jangka panjang, bahkan seumur hidup.
Ia mendorong orang tua untuk berdiskusi aktif dengan dokter agar memahami manfaat dan risiko terapi secara menyeluruh. (kenmaharani)








