JAKARTA– Tidak semua orang mampu mengubah penderitaan menjadi karya yang bernilai. Sebagian besar manusia akan memilih menyerah ketika tubuh digerogoti penyakit, ketika malam-malam panjang di rumah sakit dipenuhi rasa nyeri, atau ketika harapan tampak semakin jauh dari jangkauan.
Namun, kondisi tersebut justru melahirkan sesuatu yang berbeda bagi penyair dan sastrawan Indonesia, Pulo Lasman Simanjuntak
Dalam kurun Januari hingga Februari 2026, Pulo Lasman Simanjuntak menulis sejumlah puisi dari bawah “langit” rumah sakit di pinggiran Kota Jakarta.
Pengalaman menjalani perawatan medis tidak hanya menjadi catatan kesehatan semata, melainkan menjelma menjadi sumber inspirasi sastra yang kuat, tajam, dan penuh refleksi kemanusiaan.
Fenomena ini menarik untuk dicermati. Sebab, di tengah era digital yang dipenuhi konten instan dan hiburan cepat saji, Lasman-demikian panggilan akrabnya- justru menghadirkan puisi-puisi yang lahir dari ruang perawatan, lorong rumah sakit, instalasi gawat darurat, hingga ranjang pasien yang menjadi saksi pergulatan antara hidup dan kematian.
Rumah Sakit sebagai ruang kontemplasi
selama ini dikenal sebagai tempat penyembuhan. Namun bagi seorang penyair, ruang tersebut memiliki dimensi yang jauh lebih luas. Di dalamnya terdapat berbagai kisah manusia yang sedang berjuang melawan rasa sakit, kecemasan, ketidakpastian, bahkan kematian.
Pulo Lasman Simanjuntak menangkap realitas tersebut secara langsung. Ia menyaksikan infus yang menetes tanpa henti, suara mesin medis yang memecah kesunyian malam, aroma obat-obatan yang memenuhi udara, serta wajah-wajah tenaga kesehatan yang bekerja di bawah tekanan.
Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan menjadi bahasa puisi yang tidak sekadar indah, tetapi juga menghadirkan kesaksian sosial. Dalam perspektif sastra, karya-karya yang lahir dari pengalaman autentik seperti ini memiliki kekuatan dokumentatif yang sangat tinggi.
Melalui puisi, Pulo Lasman Simanjuntak tidak hanya menceritakan dirinya sendiri. Ia juga merekam denyut kehidupan para pasien, keluarga pasien, dokter, perawat, dan seluruh elemen yang hidup di lingkungan rumah sakit.
Sastra Sebagai Bentuk Perlawanan
Menariknya, puisi-puisi yang ditulisnya tidak terjebak pada ratapan atau keluhan semata. Sebaliknya, karya-karya tersebut menunjukkan semangat perlawanan terhadap keterbatasan fisik.
Dalam dunia sastra modern, pengalaman sakit sering kali menjadi sumber penciptaan yang kuat. Banyak sastrawan dunia menghasilkan karya besar ketika menghadapi penyakit atau masa-masa sulit dalam kehidupannya.
Pulo Lasman Simanjuntak tampaknya mengikuti jejak tersebut. Ia menjadikan rasa sakit sebagai bahan bakar kreativitas. Ia mengubah ketakutan menjadi metafora, mengolah kecemasan menjadi larik-larik puisi, dan mentransformasikan penderitaan menjadi refleksi yang dapat dinikmati publik.
Karena itulah, puisi-puisi yang lahir dari rumah sakit ini memiliki daya gugah yang kuat. Pembaca tidak hanya menikmati estetika bahasa, tetapi juga diajak memahami realitas kehidupan dari sudut pandang yang lebih dalam.
Penyair yang Konsisten Berkarya
Nama Pulo Lasman Simanjuntak bukanlah nama baru dalam dunia sastra Indonesia. Lahir di Surabaya pada 20 Juni 1961, ia telah menempuh perjalanan panjang sebagai penyair sekaligus wartawan.
Sepanjang kariernya, penyair -yang juga dikenal sebagai rohaniawan ini- telah menerbitkan tujuh buku antologi puisi tunggal dan sekitar lima puluh buku antologi puisi bersama para penyair di seluruh Indonesia. Karya-karyanya juga telah dimuat di 23 media cetak( koran, suratkabar mingguan, dan majalah) serta dipublikasikan pada lebih dari 300 media online (website) serta majalah digital di Indonesia maupun mancanegara.
Keberadaan karya-karyanya yang menembus berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Timor Leste, Bangladesh, dan India menunjukkan bahwa puisinya memiliki daya jangkau yang luas.
Lebih jauh lagi, beberapa puisinya bahkan telah mendapatkan apresiasi dalam bentuk musik. Puisi berjudul “ Menulis Syair Untuk Presiden Episode Dua” dan “Meditasi Batu” telah diangkat menjadi tembang puitik (art song) oleh komponis ternama Ananda Sukarlan.
Bahkan juga puluhan karya puisinya telah dirilis menjadi ‘puisi dalam lagu ‘ melalui channel youtube Penyair Wawan Hamzah Arfan (Cirebon, Jabae) dengan memanfaakan teknologi meta ai.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa karya sastra masih memiliki ruang penting dalam kehidupan modern.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa karya sastra masih memiliki ruang penting dalam kehidupan modern.
Ketika Penyakit Menjadi Metafora Kehidupan
Puisi-puisi yang ditulis selama masa perawatan menunjukkan kecenderungan simbolik yang kuat. Penyakit tidak hanya dipahami sebagai gangguan fisik, melainkan juga metafora atas berbagai persoalan kehidupan manusia.
Jamur kulit, ruang radiasi, ranjang rumah sakit, hingga infus menjadi simbol yang mewakili kegelisahan, ketidakpastian, dan perjuangan hidup.
Melalui simbol-simbol tersebut, Pulo Lasman simanjuntak berhasil menghadirkan pengalaman yang bersifat universal. Siapa pun yang pernah mengalami sakit atau mendampingi orang sakit akan mudah menemukan keterhubungan emosional dengan karya-karyanya.
Hal ini menunjukkan kematangan seorang penyair dalam mengolah pengalaman personal menjadi pengalaman kolektif.
Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak
JAMUR KULIT
jamur kulit mulai bergerak-
tak terlihat
mata telanjang
bahkan melebihi
kecepatan suara
dicumbu
gatal hebat
sampai ke pori-pori sajakku
meleleh perlahan
basah dan lembab
cuaca berubah
di atas ranjang
bertebaran racun bakteri
mengundang jamur kulit
ingin bersetubuh
setelah puasa
hawa napsu
rajin dioles
salep kesunyian
seperti eksim kegelisahan
meradang memerah
jamur kulit
malah menyusup liar
ke dalam dubur
diserbu ratusan cacing
berjoget ria di pentas
dengan seduhan air panas
o, tak kunjung sembuh
Jakarta, Minggu 8 Maret 2026
RUMAH SAKIT AWAL TAHUN
rumah sakit awal tahun
terjebak penyakit
dinihari disiram air garam
ditusuk lambung
bertubi-tubi
sampai terkapar
muntah darah
di ranjang maut
mau menjemput
paru-parunya sudah terinfeksi
terekam di layar radiasi
virus yang berakar
dari permukiman liar
di pinggiran kota jakarta
tiba-tiba aku panik
darimana sunyi ini
dapat mencair
(padahal aku baru sembuh
disiksa di atas tempat tidur orang sakit mau turun ke dunia orang mati)
kini aku kembali disergap
di ruang instalasi gawat darurat
sampai subuhhari
sampai ditampar matahari
membangunkan sepotong angan-angan
yang berkarat
(semalaman aku tak bisa bermimpi hanya suara bising lalu lalang suara mesin menyeramkan disiram infus bernanah)
sampai kapan
kabar celaka
selalu muncul
di atas jendela flamboyan
di teras kamar besi lavender
rumah sakit bertingkat
dibungkus air hujan
dibakar tubuh
setiap malam
Jakarta, Senin pagi 19 Januari 2026
PENYAIR BERJALAN TANPA KAKI KIRI
penyair berjalan tanpa kaki kiri
menuju poli
dindingnya saraf-saraf hati
atapnya terkelupas jadi gunung kapur
usia yang terkapar
sejak pagi tadi
di lantai pesakitan mau berdansa
sejak matahari terbit
sudah ditebar satu setengah bulan
siapa mencari luka jatidiri
penyair berjalan tanpa kaki kiri
sia-sia baca puisi
saat terapi
akan berakhir di ranjang operasi
lalu dengan nyanyian amarah
dibakarnya ruang radiasi
rumah sakit dengan diagnosa mengerikan
pedih
perih
kita harus melarikan diri, pesanmu
meninggalkan semua catatan medis ini
antara kecerdasan dan kedegilan
penyair harus terus berjalan tanpa kaki kiri
Jakarta, Selasa 5 November 2024
SAJAKKU TERKAPAR DI TELAPAK KAKI KIRI
1//
sajakku terkapar di telapak kaki kiri sejak kudaki tubuh laut yang kian tua tanpa ombak tanpa ikan yang berterbangan di dermaga sudut kota
lalu mendarat di seberang pulau diasingkan di atas mercusuar tegak berdiri dengan kidung bebatuan hitam ditulis ribuan tahun jadi keterasingan diri menyatu dengan syair-syair milik pujangga muncul dari bawah semenanjung tanah melayu
2//
sajakku terkapar di telapak kaki kiri di atas bebukitan dingin membeku nyaris ditiup angin musim kemarau digelar kemah pembantaian darah domba tanpa suara
usai ibadah dengan doa syafaat yang bercampur dengan asap dapur kenikmatan hari perhentian gempa bumi di negeri sendiri
diselesaikan dengan baca sepenggal kitab suci nyanyian harmonika tua dari sepasang tubuh lelaki yang lahir dari rahim permukiman hewan-hewan liar mabuk tiap dinihari
3//
sajakku terkapar di telapak kaki kiri membawa satu tekad kesembuhan abadi masa mendatang tanpa pengharapan hanya iman karang tegar tersembunyi dalam roh hati
Jakarta, Jumat 8 November 2024
Kesimpulan
Puisi-puisi yang lahir dari ruang rumah sakit menunjukkan bahwa sastra tetap memiliki fungsi penting sebagai media refleksi, dokumentasi, sekaligus perlawanan terhadap keadaan.
Pulo Lasman Simanjuntak membuktikan bahwa kreativitas tidak berhenti ketika tubuh mengalami keterbatasan. Justru dari ruang yang penuh kesunyian dan penderitaan, lahir karya-karya yang mampu menyentuh dimensi kemanusiaan paling dalam.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kehadiran puisi-puisi ini menjadi pengingat bahwa kata-kata masih memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, menguatkan, dan mengabadikan pengalaman hidup manusia.
Dari bawah “langit” rumah sakit di pinggiran Jakarta, Pulo Lasman Simanjuntak sekali lagi menunjukkan bahwa penyair sejati tidak pernah berhenti menulis, bahkan ketika rasa sakit sedang berbicara paling keras.(**)
Penulis : Stanley Arsenova- Fakultas Pendidikan Sastra Inggris Universitas Indraprasta (Unindra)-Jakarta




