Puisi Pilihan Terbaik Tahun 2026 Karya Pulo Lasman Simanjuntak

Puisi
 
Pulo Lasman Simanjuntak
 
DRESS CODE, NYAWAKU CEMAS DI UJUNG AKHIR TAHUN 
 
dress code, nyawaku cemas
di ujung akhir tahun ini-
seperti api penyiksaan 
membakar otak depan
sungguh keterlaluan 
 
penyair tanpa sayap burung rajawali
terbang di atas tanah perjanjian 
singgah di gedung-gedung plaza tua 
pusat perbelanjaan ibukota
gemerlap asesoris natal
tak ditemukan 
gaun ibadah 
ketika matahari sudah terbenam 
masih diliputi kegelisahan
 
dress code,menjelma jadi ujian iman
sangat brutal 
kering 
keras 
 
membaca kitab suci
membaca buku roh nubuat
tentang pandai besi dan ahli tembikar 
terperangkap 
dalam sarang burung liar
bernyanyi tanpa kidung matahari 
 
dress code, akankah sajak ini diselesaikan
dengan amarah bebatuan
kepada sepasang pengantin
yang lahir membawa janin
untuk dikubur tanpa roh pertobatan
 
dress code, sesungguhnya hanya jubah kebenaran
yang harus digunakan
ketika masih bergulat dengan mata uang
bercumbu dengan dewa mamon
dalam lembaran mata uang
makin terpuruk 
hari-hari buruk 
 
dress code, menempuh perjalanan panas
membara ketakutan 
membawa oma tua
sepanjang malam 
nyaris tergelincir 
amukan berakhir 
di pintu gua kegelapan
sambil menunggu
tutup dan buka bahtera 
bukan kematian kekal
 
Jakarta, Minggu 28 Desember 2025
 
RUMAH SENGKETA LUAR KOTA
 
rumah sengketa luar kota
masih berdiri 
makin menua
nyaris mata kirinya
buta-
dihuni sepasang pengantin
tak punya spermatozoa
 
dulu rumah sengketa ini
dibangun dengan tiang-tiang 
pondasi batu  berhala
kini hanya terdengar 
suara koor masa kanak-kanak
makin mengerikan 
 
teriakan melengking
perempuan yang menularkan
penyakit persungutan
paling menyebalkan
 
gentengnya dari tanah iman
pagarnya air mata penderitaan 
kamarnya dipenuhi ranjang kematian 
 
seperti nyanyian putus asa 
kapan berakhir
nafas kehidupan
dari bawah tanah 
kekekalan 
 
sampai hari ini 
kita masih jadi pejalan kaki
sepanjang ribuan kilometer
menyusuri angan-angan kumal 
 
terus mendaki
ke negeri-negeri 
sampai cakrawala ketiga
tanpa ada airmata
tanpa ada matahari 
tanpa ada duka cita
rajin terbang dengan dua sayap
kian kemari 
bersembunyi di taman kaca pohon kehidupan
 
o, ternyata, 
rumah sengketa luar kota 
masih ada di sini 
 
Jakarta, Senin 1 Desember 2025
 
GURU DALAM PUISIKU
 
guru dalam puisiku
ia sesosok pejuang mulia
yang mengajarkan aku melek
untuk berhitung cepat
untuk menulis huruf-huruf kapital 
dan angka-angka digital
untuk persiapan masa depan
sampai aku punya 
sandang dan pangan 
 
guru dalam puisiku 
telah mengajarkan aku
untuk  lebih pintar 
dari mesin-mesin kecerdasan
sejak belum punya kecemasan
sampai menutup akhir zaman 
 
guru dalam puisiku
lihatlah anakmu yang dulu lugu
kini akal budiku
sudah dapat terbang
hingga tiba di awan kemuliaan 
 
guru dalam puisiku
llihatlah anakmu yang dulu jenaka
kini sudah pandai mengajar
menulis sebuah puisi 
seperti pujangga dan pewarta
 
guruku juga adalah pahlawan 
tanpa tulisan 
tanpa lukisan
tanpa perang
dan tanpa tanda jasa 
 
Jakarta, Kamis  20 November 2025
 
SAJAKKU TERBANG BERSAMA POHON NATAL
 
sajakku terbang liar
bersama pohon natal
padahal tadi malam 
baru kunikmati 
perkawinan memanjang
 
dengan sepucuk bunga matang 
dibalut gaun merah 
bertebaran di atas kasur hitam
nafas-nafas kehidupan 
kembali menggairahkan
 
sajakku terbang bersama pohon natal 
tak ada kado 
tak ada sinterklas 
hanya kecupan salju
bintang-bintang bertebaran
lalu menyatu dengan alam liar
 
di sini 
aku seperti pengembara asing
hiruk.pikuk orang-orang lalu lalang
membawa koper kemewahan
kepelesiran kemiskinan
 
sambil ucapkan; haleluya, telah datang
raja damai 
putera gembala agung
membawa obor iman
kasih dan pengharapan 
 
Pacific Place, Hotel Ritz Carlton, Jakarta Minggu 30 November 2025
 
HUJAN DERAS
 
hujan deras 
mengejar diriku 
sejak subuh hari
telah menjelma jadi mata air
aliran sungai tangisan 
tak berkesudahan
 
tengoklah sampai langit ketiga
makin menghitam
bobot tubuhmu terlihat kian kurus
digerogoti ribuan kuman dan virus
seperti terbungkus kecemasan
perbuatan masa lalu
tak punya malu
 
hujan deras kadang disertai petir 
suaranya meledak
seperti amarah hewan liar
masuk mezbah baal
sungguh sangat mengerikan
 
biarkan hujan deras ini 
terus bertumbuh
seperti benih yang ditabur
di hamparan tanah kekal
 
sampai juru kabar surga datang
membawa satu pengharapan 
keabadian yang memanjang
 
Jakarta, Rabu 1 Maret 2023
 
HARI PERHENTIAN DIBUNGKUS AIR HUJAN
 
hari perhentian dibungkus air hujan
seperti aku tak punya 
pengharapan 
berkobar-kobar dalam pelayanan
menetes air
sepanjang sungai kehidupan
 
aku terus bertukar cakap 
setelah kemarau 
cuaca makin terbakar
dengan air rawa 
yang juga kepahitan
jadi kemelaratan
pada awal
tahun-tahun paling mencemaskan
 
haruskah tubuhku terbang sendirian
ke tingkap langit keempat
sambil minta hujan 
jadi berkat kenyataan
 
membasahi mata kiriku
berkemas menuju
pembaringan 
tempat mimpi-mimpi teduh
tak mungkin berubah lagi
 
oh, kesunyian ini 
sungguh melelahkan
 
Jakarta, Minggu, 15 Januari 2023
 
BADAI BERSAYAP 
 
puisiku bersilancar terang
ke bumi akhir zaman
terbungkus amarah merah
menyala-nyala
 
angan-angan terbang
kian kemari
membelah bencana
silih berganti
 
” tengoklah, ini peristiwa paling memalukan
di wajah kaum perempuan puisimu jadi 
terhina untuk dibacakan,” teriakmu sambil terus berdansa dengan tubuh mau meledak di bangku rumah ibadah
 
aku terjaga
karena telah bercerita
kepada penjaga pintu mata uang
disodorkan tangisan purba
 
hari ini kembali puisiku
terjebak dalam ribuan kantong
orang-orang miskin menyebar
dalam peta perjalanan 
bangsa persungutan
 
aku harus bangkit
memunguti satu per satu
badai bersayap
yang selalu datang
silih berganti
 
biarlah namaku 
dicatat
dalam kitab kehidupan
 
Jakarta, Selasa 28 Februari 2023
 
MENUNGGU TELEPON DARI TUHAN
 
pagi ini,
saya masih menunggu 
telepon dari Tuhan
karena perut mulai
kelaparan
mau minta makan
 
adakah lagi
seekor burung gagak
terbang membawa sari makanan
yang bisa dihisap
siang dan malam
 
ataukah
dari seberang lautan
ada kapal datang
membawa muatan gandum atau ilalang
untuk disajikan di meja makan
seperti menu saudagar dan bangsawan
zaman kegelapan
 
pagi ini, 
saya masih menunggu
telepon dari Tuhan
di tengah berita kepalsuan
siapa kalah atau menang
dihitung dengan jari tangan
jadilah kelaparan
makin memanjang
 
Jakarta, Kamis 15 Februari 2024
**/Biodata : Pulo Lasman Simanjuntak, penyair, wartawan, dan rohaniawan bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *