Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak
DRESS CODE, NYAWAKU CEMAS DI UJUNG AKHIR TAHUN
dress code, nyawaku cemas
di ujung akhir tahun ini-
seperti api penyiksaan
membakar otak depan
sungguh keterlaluan
penyair tanpa sayap burung rajawali
terbang di atas tanah perjanjian
singgah di gedung-gedung plaza tua
pusat perbelanjaan ibukota
gemerlap asesoris natal
tak ditemukan
gaun ibadah
ketika matahari sudah terbenam
masih diliputi kegelisahan
dress code,menjelma jadi ujian iman
sangat brutal
kering
keras
membaca kitab suci
membaca buku roh nubuat
tentang pandai besi dan ahli tembikar
terperangkap
dalam sarang burung liar
bernyanyi tanpa kidung matahari
dress code, akankah sajak ini diselesaikan
dengan amarah bebatuan
kepada sepasang pengantin
yang lahir membawa janin
untuk dikubur tanpa roh pertobatan
dress code, sesungguhnya hanya jubah kebenaran
yang harus digunakan
ketika masih bergulat dengan mata uang
bercumbu dengan dewa mamon
dalam lembaran mata uang
makin terpuruk
hari-hari buruk
dress code, menempuh perjalanan panas
membara ketakutan
membawa oma tua
sepanjang malam
nyaris tergelincir
amukan berakhir
di pintu gua kegelapan
sambil menunggu
tutup dan buka bahtera
bukan kematian kekal
Jakarta, Minggu 28 Desember 2025
RUMAH SENGKETA LUAR KOTA
rumah sengketa luar kota
masih berdiri
makin menua
nyaris mata kirinya
buta-
dihuni sepasang pengantin
tak punya spermatozoa
dulu rumah sengketa ini
dibangun dengan tiang-tiang
pondasi batu berhala
kini hanya terdengar
suara koor masa kanak-kanak
makin mengerikan
teriakan melengking
perempuan yang menularkan
penyakit persungutan
paling menyebalkan
gentengnya dari tanah iman
pagarnya air mata penderitaan
kamarnya dipenuhi ranjang kematian
seperti nyanyian putus asa
kapan berakhir
nafas kehidupan
dari bawah tanah
kekekalan
sampai hari ini
kita masih jadi pejalan kaki
sepanjang ribuan kilometer
menyusuri angan-angan kumal
terus mendaki
ke negeri-negeri
sampai cakrawala ketiga
tanpa ada airmata
tanpa ada matahari
tanpa ada duka cita
rajin terbang dengan dua sayap
kian kemari
bersembunyi di taman kaca pohon kehidupan
o, ternyata,
rumah sengketa luar kota
masih ada di sini
Jakarta, Senin 1 Desember 2025
GURU DALAM PUISIKU
guru dalam puisiku
ia sesosok pejuang mulia
yang mengajarkan aku melek
untuk berhitung cepat
untuk menulis huruf-huruf kapital
dan angka-angka digital
untuk persiapan masa depan
sampai aku punya
sandang dan pangan
guru dalam puisiku
telah mengajarkan aku
untuk lebih pintar
dari mesin-mesin kecerdasan
sejak belum punya kecemasan
sampai menutup akhir zaman
guru dalam puisiku
lihatlah anakmu yang dulu lugu
kini akal budiku
sudah dapat terbang
hingga tiba di awan kemuliaan
guru dalam puisiku
llihatlah anakmu yang dulu jenaka
kini sudah pandai mengajar
menulis sebuah puisi
seperti pujangga dan pewarta
guruku juga adalah pahlawan
tanpa tulisan
tanpa lukisan
tanpa perang
dan tanpa tanda jasa
Jakarta, Kamis 20 November 2025
SAJAKKU TERBANG BERSAMA POHON NATAL
sajakku terbang liar
bersama pohon natal
padahal tadi malam
baru kunikmati
perkawinan memanjang
dengan sepucuk bunga matang
dibalut gaun merah
bertebaran di atas kasur hitam
nafas-nafas kehidupan
kembali menggairahkan
sajakku terbang bersama pohon natal
tak ada kado
tak ada sinterklas
hanya kecupan salju
bintang-bintang bertebaran
lalu menyatu dengan alam liar
di sini
aku seperti pengembara asing
hiruk.pikuk orang-orang lalu lalang
membawa koper kemewahan
kepelesiran kemiskinan
sambil ucapkan; haleluya, telah datang
raja damai
putera gembala agung
membawa obor iman
kasih dan pengharapan
Pacific Place, Hotel Ritz Carlton, Jakarta Minggu 30 November 2025
HUJAN DERAS
hujan deras
mengejar diriku
sejak subuh hari
telah menjelma jadi mata air
aliran sungai tangisan
tak berkesudahan
tengoklah sampai langit ketiga
makin menghitam
bobot tubuhmu terlihat kian kurus
digerogoti ribuan kuman dan virus
seperti terbungkus kecemasan
perbuatan masa lalu
tak punya malu
hujan deras kadang disertai petir
suaranya meledak
seperti amarah hewan liar
masuk mezbah baal
sungguh sangat mengerikan
biarkan hujan deras ini
terus bertumbuh
seperti benih yang ditabur
di hamparan tanah kekal
sampai juru kabar surga datang
membawa satu pengharapan
keabadian yang memanjang
Jakarta, Rabu 1 Maret 2023
HARI PERHENTIAN DIBUNGKUS AIR HUJAN
hari perhentian dibungkus air hujan
seperti aku tak punya
pengharapan
berkobar-kobar dalam pelayanan
menetes air
sepanjang sungai kehidupan
aku terus bertukar cakap
setelah kemarau
cuaca makin terbakar
dengan air rawa
yang juga kepahitan
jadi kemelaratan
pada awal
tahun-tahun paling mencemaskan
haruskah tubuhku terbang sendirian
ke tingkap langit keempat
sambil minta hujan
jadi berkat kenyataan
membasahi mata kiriku
berkemas menuju
pembaringan
tempat mimpi-mimpi teduh
tak mungkin berubah lagi
oh, kesunyian ini
sungguh melelahkan
Jakarta, Minggu, 15 Januari 2023
BADAI BERSAYAP
puisiku bersilancar terang
ke bumi akhir zaman
terbungkus amarah merah
menyala-nyala
angan-angan terbang
kian kemari
membelah bencana
silih berganti
” tengoklah, ini peristiwa paling memalukan
di wajah kaum perempuan puisimu jadi
terhina untuk dibacakan,” teriakmu sambil terus berdansa dengan tubuh mau meledak di bangku rumah ibadah
aku terjaga
karena telah bercerita
kepada penjaga pintu mata uang
disodorkan tangisan purba
hari ini kembali puisiku
terjebak dalam ribuan kantong
orang-orang miskin menyebar
dalam peta perjalanan
bangsa persungutan
aku harus bangkit
memunguti satu per satu
badai bersayap
yang selalu datang
silih berganti
biarlah namaku
dicatat
dalam kitab kehidupan
Jakarta, Selasa 28 Februari 2023
MENUNGGU TELEPON DARI TUHAN
pagi ini,
saya masih menunggu
telepon dari Tuhan
karena perut mulai
kelaparan
mau minta makan
adakah lagi
seekor burung gagak
terbang membawa sari makanan
yang bisa dihisap
siang dan malam
ataukah
dari seberang lautan
ada kapal datang
membawa muatan gandum atau ilalang
untuk disajikan di meja makan
seperti menu saudagar dan bangsawan
zaman kegelapan
pagi ini,
saya masih menunggu
telepon dari Tuhan
di tengah berita kepalsuan
siapa kalah atau menang
dihitung dengan jari tangan
jadilah kelaparan
makin memanjang
Jakarta, Kamis 15 Februari 2024
**/Biodata : Pulo Lasman Simanjuntak, penyair, wartawan, dan rohaniawan bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.


