Daya Beli Lesu, Menu Mewah Nasi Padang Mulai Ditinggalkan Pelanggan demi Opsi Murah Meriah

JAKARTA – Hidangan ikonik seperti daging rendang, tunjang, hingga gulai cincang tampaknya mulai kehilangan takhtanya sebagai pilihan utama di warung Nasi Padang. Di tengah tekanan ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat, para pelanggan kini beralih ke deretan menu paket hemat yang lebih ramah di kantong.

Para pemilik rumah makan Padang di Jakarta mengonfirmasi adanya pergeseran perilaku konsumen yang cukup signifikan. Paket makanan berharga miring berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000 kini jauh lebih laku dibandingkan menu premium berharga Rp 20.000-an ke atas.

Ijan, seorang pengusaha rumah makan Padang di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, menuturkan bahwa banyak pelanggannya yang secara khusus mencari paket hemat Rp 15.000, yang biasanya berisi nasi, telur dadar atau ayam, beserta sayur. Dampak penurunan daya beli ini sangat terasa pada omzet usahanya yang merosot hingga lebih dari 10 persen.

“Dulu, jam makan siang selalu ramai dan lauk-lauk biasanya sudah ludes sekitar jam dua siang. Sekarang situasinya sepi-sepi saja, tidak seperti dulu lagi,” ungkap Ijan kepada CNBC Indonesia.

Strategi Hemat di Tengah Bulan

Fenomena serupa juga dirasakan oleh Ridwan, pemilik warung Padang lain di area Tebet. Ia mengamati tren pengetatan anggaran belanja makanan ini semakin mencolok begitu memasuki pertengahan hingga akhir bulan. Pada periode tersebut, menu ekonomis seharga Rp 18.000 seperti nasi telur, nasi perkedel, atau nasi terong menjadi primadona.

Bahkan, demi berhemat, tidak jarang ada konsumen yang hanya membeli kuah sayur dan sambal saja untuk dibawa pulang tanpa memesan nasi atau lauk. Sebaliknya, pemesanan menu-menu mewah baru akan meningkat sesaat pada awal bulan atau setelah periode gajian tiba. Namun, begitu memasuki tanggal tua, pelanggan cenderung menyiasatinya dengan meminta tambahan bumbu rendang dan kuah santan melimpah di atas menu murah yang mereka beli.

Porsi Menu Mahal Mulai Dipangkas

Kondisi lesunya penjualan menu premium juga merembet ke kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Taufik, seorang pedagang di sana, mengaku terpaksa mengubah strategi berjualan karena menu bermodal besar seperti gulai kepala kakap dan cumi sangat sulit laku secara optimal.

Untuk menyiasatinya, Taufik memotong porsi penyediaan harian demi menghindari kerugian. “Biasanya saya menyiapkan 6 sampai 7 porsi kepala kakap per hari, sekarang dikurangi setengahnya, jadi hanya menyediakan 3 porsi saja,” katanya. Diketahui, satu porsi nasi dengan lauk kepala kakap di tempatnya dibanderol seharga Rp 50.000.

Di sisi lain, Andi, salah satu penikmat setia Nasi Padang, mengakui dirinya harus berkompromi dengan situasi ekonomi saat ini. Meskipun kuah melimpah dan porsi besar menjadi alasan utama ia tetap setia membeli Nasi Padang, ia kini lebih memilih mengandalkan kombinasi menu yang paling murah.

“Sekarang harus lebih hemat karena kebutuhan hidup yang lain ikut naik. Memilih menu nasi pakai telur saja menurut saya sudah cukup, yang penting porsi nasinya besar dan sudah dapat kuah serta sayur gratis,” pungkas Andi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *