Dokter RS Brawijaya Ungkap Peluang Keberhasilan Bayi Tabung Menurun Setelah Usia 35 Tahun

Dokter kandungan sekaligus ahli fertilitas dan endokrinologi reproduksi RS Brawijaya Antasari, dr. Mohammad Haekal, Sp.OG, Subsp.FER, FICS, MIGS

JAKARTA — Menunda program kehamilan hingga usia matang dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan suami istri yang mendambakan keturunan. Pasalnya, usia menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF), terutama bagi perempuan yang telah memasuki usia 35 tahun ke atas.

Dokter kandungan sekaligus ahli fertilitas dan endokrinologi reproduksi RS Brawijaya Antasari, dr. Mohammad Haekal, Sp.OG, Subsp.FER, FICS, MIGS, menjelaskan bahwa peluang keberhasilan program bayi tabung cenderung lebih tinggi pada pasangan yang menjalani prosedur tersebut ketika usia perempuan masih di bawah 35 tahun.

Bacaan Lainnya

Menurut dr. Haekal, peluang keberhasilan IVF pada kelompok usia di bawah 35 tahun dapat mencapai sekitar 65 persen. Sementara itu, pada usia 35 tahun ke atas, angka tersebut dapat menurun hingga sekitar 30 persen, bergantung pada kondisi pasien dan faktor medis lainnya.

“Kalau pasangan yang menjalani IVF di bawah 35 tahun, angkanya jauh lebih tinggi. Bisa mencapai 65 persen. Tapi kalau sudah mencapai 35 tahun, peluangnya bisa turun menjadi sekitar 30 persen,” jelas dr. Haekal dalam wawancara mengenai layanan fertilitas dan program kehamilan, Rabu (28/10/2026).

Ia menekankan bahwa pasangan yang berencana memiliki anak sebaiknya tidak menunda konsultasi terlalu lama. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mengidentifikasi masalah kesuburan sekaligus menentukan pilihan penanganan yang sesuai.

Siklus IVF Meningkat, Layanan Fertilitas Jadi Alternatif

Perkembangan layanan fertilitas menjadi salah satu pilihan bagi pasangan yang mengalami kesulitan memperoleh kehamilan secara alami. Salah satunya melalui layanan BNI IVF di Brawijaya Antasari, yang mulai beroperasi pada Oktober 2023.

Berdasarkan data yang disampaikan Haekal, layanan tersebut mencatat 45 siklus stimulasi IVF pada 2024. Jumlahnya tetap sebanyak 45 siklus pada 2025, kemudian meningkat menjadi 50 siklus hingga September pada tahun berikutnya.

Haekal menjelaskan bahwa angka tersebut mengacu pada siklus stimulasi IVF, bukan jumlah pasien secara keseluruhan maupun jumlah tindakan pengambilan sel telur dan pemindahan embrio. Dalam pelaksanaannya, tidak semua siklus stimulasi berlanjut ke tahap berikutnya karena kondisi medis tertentu.

Sebagai layanan fertilitas, BNI IVF menyediakan berbagai pilihan penanganan untuk pasangan yang merencanakan kehamilan. Layanan tersebut mencakup inseminasi, program bayi tabung, pembekuan embrio, pembekuan sel telur, pembekuan sperma, serta tindakan bedah minimal invasif seperti laparoskopi dan histeroskopi.

Menurut dr. Haekal, layanan fertilitas tidak hanya berfokus pada prosedur teknologi reproduksi berbantu, tetapi juga pada kualitas pelayanan, kompetensi dokter, tenaga embriologi, serta dukungan laboratorium.

Selama ini, diakui dr Haikal, persoalan sulit memperoleh keturunan kerap dikaitkan dengan kondisi kesehatan perempuan. Padahal, faktor laki-laki juga memiliki kontribusi yang besar terhadap masalah kesuburan pasangan. Ia menjelaskan bahwa secara umum, faktor perempuan dan laki-laki masing-masing berkontribusi sekitar 40 persen terhadap kasus infertilitas. Karena itu, pemeriksaan kesuburan sebaiknya dilakukan oleh kedua pasangan, bukan hanya perempuan.

Kualitas sperma, kondisi kesehatan reproduksi, dan gaya hidup laki-laki merupakan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi peluang terjadinya kehamilan. Sementara itu, pada perempuan, usia, cadangan sel telur, serta kondisi reproduksi turut menjadi pertimbangan dalam menentukan penanganan.

Dengan demikian, evaluasi medis terhadap pasangan secara menyeluruh menjadi langkah penting sebelum menentukan apakah kehamilan alami, inseminasi, atau program bayi tabung merupakan pilihan yang sesuai.

Kapan Pasangan Perlu Memeriksakan Kesuburan?

Lebih lanjut, dr. Haekal menyarankan pasangan suami istri untuk berkonsultasi apabila belum memperoleh kehamilan setelah 12 bulan melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan kontrasepsi.

Meski demikian, pasangan tidak perlu menunggu selama satu tahun apabila terdapat kondisi medis yang diketahui dapat memengaruhi kesuburan.

Perempuan dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS), gangguan menstruasi, atau endometriosis, misalnya, dapat mempertimbangkan pemeriksaan lebih awal. Hal serupa berlaku bagi pasangan yang memiliki riwayat penyakit tertentu atau masalah kesehatan reproduksi yang telah teridentifikasi.

Menurut Haekal, pemeriksaan sejak dini memungkinkan dokter menilai kondisi kedua pasangan dan menentukan langkah yang tepat berdasarkan hasil evaluasi.

Secara statistik, ia menyebut sekitar 85–90 persen pasangan dapat memperoleh kehamilan dalam 12 bulan, sedangkan angkanya dapat mencapai sekitar 95 persen dalam 24 bulan. Namun, angka tersebut merupakan gambaran umum dan tidak berarti setiap pasangan harus menunggu selama itu apabila terdapat faktor risiko infertilitas.

Proses Bayi Tabung Bisa Berlangsung Sekitar Dua Minggu

Dari sisi pelaksanaan, Haekal menjelaskan bahwa satu rangkaian stimulasi IVF umumnya membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk tahap awal, meskipun keseluruhan program dapat berlangsung lebih lama bergantung pada kondisi pasien dan rencana penanganan.

Dalam proses tersebut, pasien menjalani stimulasi ovarium menggunakan obat-obatan untuk membantu pematangan sejumlah sel telur. Setelah itu, dokter melakukan pengambilan sel telur atau ovum pick-up (OPU) untuk diproses bersama sperma di laboratorium.

Embrio yang terbentuk dapat dipindahkan ke rahim pada waktu yang sesuai atau dibekukan terlebih dahulu untuk digunakan pada kesempatan berikutnya. Keputusan tersebut disesuaikan dengan kondisi medis pasien dan strategi perawatan yang ditentukan oleh dokter.

Haekal juga menerangkan bahwa kebutuhan obat stimulasi dapat berbeda pada setiap pasien. Usia dan cadangan sel telur menjadi dua pertimbangan penting dalam menentukan dosis obat yang diperlukan.

Semakin bertambahnya usia perempuan, penanganan dapat menjadi lebih kompleks. Karena itu, konsultasi lebih awal dapat membantu pasangan memahami pilihan yang tersedia sebelum memutuskan menjalani program kehamilan.

Kehamilan Kembar Bukan Tujuan Utama IVF

Dalam program bayi tabung, pemindahan lebih dari satu embrio dapat meningkatkan peluang terjadinya kehamilan pada kondisi tertentu. Namun, langkah tersebut juga meningkatkan kemungkinan kehamilan kembar yang memiliki risiko medis lebih tinggi.

Kehamilan kembar dapat meningkatkan risiko komplikasi, termasuk tekanan darah tinggi pada ibu, kelahiran prematur, dan masalah kesehatan pada ibu maupun bayi.

Oleh sebab itu, tujuan utama program bayi tabung bukan semata-mata mendapatkan kehamilan kembar, melainkan mencapai kehamilan yang aman dengan mempertimbangkan kondisi ibu dan janin.

Selain IVF, teknologi reproduksi berbantu juga mencakup pembekuan sel telur atau egg freezing. Prosedur ini memungkinkan sel telur disimpan untuk digunakan pada masa mendatang sesuai indikasi dan kebutuhan pasien.

Angka Kehamilan Perlu Dilihat Berdasarkan Usia dan Kondisi Pasien

Haekal menyebut angka keberhasilan IVF yang terakhir tercatat di layanan tersebut berada di kisaran 45 persen. Namun, ia mengingatkan bahwa angka keberhasilan tidak dapat dibandingkan begitu saja antarklinik tanpa melihat karakteristik pasien dan metode pengukuran yang digunakan.

Perbedaan usia pasien, kondisi kesuburan, serta apakah angka tersebut dihitung berdasarkan siklus pengobatan, pemindahan embrio, atau kelahiran hidup dapat menghasilkan angka keberhasilan yang berbeda.

Karena itu, pasangan yang hendak menjalani program bayi tabung disarankan untuk meminta penjelasan mengenai peluang keberhasilan yang sesuai dengan kondisi medis masing-masing.

Pada akhirnya, keberhasilan memperoleh keturunan tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang tersedia, tetapi juga oleh ketepatan diagnosis, waktu penanganan, kondisi kesehatan kedua pasangan, serta pemilihan metode yang sesuai.

Haekal menegaskan pentingnya tidak menunda pemeriksaan ketika pasangan menghadapi kesulitan memperoleh kehamilan. Dengan evaluasi yang tepat sejak awal, pasangan dapat memahami kondisi kesuburan mereka dan menentukan langkah penanganan yang paling sesuai bersama dokter.

 

Pos terkait