ANRI Gelar Sidang Umum ke-11 Komite Memori Dunia Asia Pasifik, Angkat Pelestarian Warisan Maritim

Kepala ANRI Mego Pinandito memberikan keterangan pers

JAKARTA – Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menjadi tuan rumah Sidang Umum ke-11 Komite Memori Dunia untuk Asia dan Pasifik (Memory of the World Committee for Asia and the Pacific/MOWCAP) dan Seminar Internasional “Dunia Air: Pengembara Laut, Warisan Dokumenter, dan Memori Dunia” (11th UNESCO MOWCAP General Meeting and the International Seminar “The World of Water: Sea Nomads, Documentary Heritage, and Memory of the World”) yang berlangsung di Jakarta pada 3–6 November 2026. Kegiatan ini diikuti lebih dari 100 peserta dari 23 negara di kawasan Asia dan Pasifik serta sekitar 40 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Kepala ANRI, Mego Pinandito, saat membuka acara menyampaikan bahwa penyelenggaraan Sidang Umum tersebut merupakan momentum penting untuk memperkuat kerja sama internasional dalam pelestarian warisan dokumenter. Ia menyambut kehadiran para delegasi, ahli internasional, perwakilan UNESCO, serta berbagai pemangku kepentingan yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Bacaan Lainnya

Menurut Mego, terselenggaranya pertemuan internasional ini merupakan hasil sinergi antara ANRI, Komite Memori Dunia Asia dan Pasifik, Institut Studi Korea (KSI), Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta dukungan berbagai pihak dari sektor pemerintah maupun swasta.

Salah satu agenda penting dalam Sidang Umum ke-11 ini adalah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Arsip Nasional Republik Indonesia dan Institut Studi Korea (KSI). Kerja sama tersebut berfokus pada pelestarian warisan dokumenter dan arsip, termasuk upaya penemuan, perlindungan, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya warisan dokumenter.

Mego menjelaskan bahwa kerja sama tersebut menjadi bagian dari implementasi Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia dan Korea yang ditandatangani pada 1 April 2026 di Seoul. Melalui kemitraan ini, kedua lembaga diharapkan dapat memperkuat hubungan kelembagaan dan mengembangkan kolaborasi dalam bidang kearsipan.

Selain Sidang Umum, kegiatan ini juga menghadirkan seminar internasional bertema “Dunia Air: Warisan Dokumenter Pengembara Laut dan Memori Dunia”. Seminar tersebut membahas pentingnya mendokumentasikan dan melestarikan warisan maritim masyarakat pengembara laut, termasuk komunitas Orang Laut dan Bajau.

Mego menyoroti bahwa kehidupan masyarakat pengembara laut memiliki sejarah dan pengetahuan leluhur yang tidak selalu terdokumentasi dalam bentuk tulisan. Pengetahuan tersebut diwariskan melalui ingatan, tradisi lisan, lagu, angin, gelombang, hingga berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya.

Di tengah perkembangan modernisasi dan perubahan iklim, warisan pengetahuan masyarakat maritim menghadapi tantangan dalam pelestariannya. Oleh karena itu, dokumentasi berbasis komunitas menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keberlangsungan memori dan identitas budaya masyarakat pesisir.

Melalui seminar internasional ini, ANRI bersama para peserta dari 23 negara berupaya mendorong tiga hal utama, yakni mendokumentasikan dan melestarikan warisan maritim takbenda masyarakat pengembara laut, berbagi praktik terbaik dalam pengarsipan berbasis komunitas dan masyarakat adat, serta memperkuat jejaring global untuk melindungi warisan dan memori samudra.

Mego berharap kegiatan ini dapat menjadi jembatan kolaborasi antara berbagai negara, komunitas, dan lembaga dalam menjaga warisan dokumenter dunia.

“Seminar ini merupakan janji kolektif kita untuk memastikan bahwa komunitas yang hidup tanpa batas wilayah daratan tidak dibiarkan kehilangan sejarahnya,” menjadi pesan penting dalam sambutan tersebut.

Melalui penyelenggaraan Sidang Umum ke-11 MOWCAP, Indonesia menegaskan perannya dalam mendorong pelestarian warisan dokumenter, khususnya kekayaan sejarah dan budaya maritim yang menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat dunia.

Lestarikan Warisan Dokumenter Dunia melalui Kerja Sama

Sementara itu, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon melalui video sambutannya menegaskan pentingnya penguatan kerja sama regional dalam melestarikan warisan dokumenter dunia, khususnya yang berkaitan dengan sejarah maritim dan budaya masyarakat di kawasan Asia dan Pasifik.

Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada ANRI, UNESCO, dan MOWCAP atas terselenggaranya pertemuan yang mempertemukan para ahli serta lembaga dari berbagai negara untuk memperkuat kolaborasi regional, pertukaran pengetahuan, dan pelestarian warisan dokumenter bagi generasi mendatang.

Mengangkat tema “Dunia Air, Orang Laut, Sejarah Dokumenter, dan Memori Dunia”, Fadli menjelaskan bahwa air dan laut tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga ruang yang menghubungkan masyarakat, kebudayaan, serta sejarah lintas negara.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki hubungan erat dengan tradisi maritim. Jalur laut selama berabad-abad telah menjadi sarana migrasi, pertemuan budaya, perdagangan, serta pertukaran pengetahuan antarmasyarakat di kawasan Asia dan Pasifik.

Ia juga menyoroti komunitas maritim seperti Bajau dan Moken yang memiliki pengetahuan, tradisi, serta ingatan kolektif mengenai kehidupan laut yang diwariskan secara turun-temurun.

Fadli menegaskan bahwa berbagai peninggalan dokumenter, seperti manuskrip, foto, rekaman audiovisual, dan tradisi lisan, merupakan sumber penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat. Pelestarian dokumen sejarah juga dapat memberikan pembelajaran dalam menghadapi berbagai tantangan masa kini, termasuk perubahan iklim dan bencana alam.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Indonesia memiliki 16 koleksi warisan dokumenter yang tercatat dalam Memory of the World International Register UNESCO, termasuk lima inskripsi baru pada 2025.

Fadli turut menyinggung pentingnya warisan sejarah Konferensi Asia-Afrika sebagai simbol solidaritas, perdamaian, dan kerja sama antarnegara. Warisan dokumenter tersebut menjadi bukti perjalanan sejarah sekaligus fondasi dalam membangun hubungan regional yang lebih kuat.

Di tengah tantangan perubahan iklim, bencana alam, konflik, serta perkembangan teknologi yang semakin pesat, Fadli menilai pelestarian warisan dokumenter membutuhkan sistem penyelamatan yang kuat, digitalisasi yang bertanggung jawab, perluasan akses publik, dan kolaborasi internasional.

Sebagai Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Fadli menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mendukung misi UNESCO dan memperkuat kerja sama regional melalui penelitian bersama, peningkatan kapasitas, pertukaran pengetahuan, serta nominasi lintas negara.

Ia berharap pertemuan tersebut dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab bersama dalam menjaga warisan dokumenter, khususnya sejarah masyarakat maritim di kawasan Asia dan Pasifik.

Melalui upaya pelestarian tersebut, warisan sejarah dan pengetahuan masyarakat diharapkan tetap terjaga serta dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Kegiatan ini diikuti lebih dari 100 peserta dari 23 negara di kawasan Asia dan Pasifik serta sekitar 40 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Peran Arsip sebagai Penghubung Masa Lalu

Pada kesempatan yang sama, Presiden Korean Studies Institute, Jungsuk Jeon, menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam menjaga dan melestarikan warisan dokumenter sebagai bagian dari sejarah, identitas, dan ingatan kolektif masyarakat.  Jungsuk Jeon menyampaikan apresiasi kepada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Pemerintah Indonesia, UNESCO, serta seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Menurutnya, arsip dan dokumen sejarah memiliki peran penting sebagai penghubung antara masa lalu dan masa depan. Melalui berbagai rekaman dokumenter, masyarakat dapat memahami perjalanan sejarah, pengalaman, pengetahuan, serta ingatan dari berbagai komunitas untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia juga menyoroti keberagaman sejarah, budaya, dan bahasa di kawasan Asia-Pasifik. Dalam hal ini, MOWCAP dinilai memiliki peran strategis dalam mengidentifikasi, melindungi, dan melestarikan warisan dokumenter sekaligus memperkuat kerja sama antarnegara.

Mengangkat tema dunia air dan masyarakat maritim, Jungsuk Jeon mengajak para peserta untuk memperluas perspektif dalam memahami sejarah peradaban yang berkembang melalui laut dan sungai. Menurutnya, wilayah perairan telah menjadi ruang penting bagi kehidupan masyarakat, perkembangan peradaban, serta pertukaran budaya antarkomunitas.

Ia menambahkan bahwa tradisi lisan dan kebudayaan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir maupun sepanjang sungai menyimpan pengetahuan lokal, pengalaman interaksi budaya, serta nilai-nilai kehidupan yang perlu dijaga keberlangsungannya.

Lebih lanjut, Jungsuk Jeon menekankan bahwa pelestarian ingatan kolektif masyarakat tidak hanya bertujuan menjaga dokumen sejarah, tetapi juga memastikan suara dan pengalaman berbagai komunitas dapat dikenal oleh generasi mendatang.

Salah satu momentum penting dalam kegiatan tersebut adalah penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Korean Studies Institute dan Arsip Nasional Republik Indonesia.

Melalui kerja sama tersebut, kedua institusi diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam penelitian, pengembangan publikasi akademis, serta pertukaran dan pemanfaatan dokumen-dokumen bersejarah.

Korean Studies Institute sendiri memiliki kegiatan pengumpulan, pelestarian, penelitian, dan penyebarluasan berbagai material dokumenter yang berasal dari masyarakat, komunitas, maupun individu di Korea. Pengalaman tersebut diharapkan dapat dibagikan kepada para mitra di Indonesia sebagai bagian dari penguatan kapasitas kelembagaan.

Jungsuk Jeon juga berharap kerja sama ini dapat membuka peluang nominasi bersama untuk koleksi dokumenter penting dalam berbagai program Memory of the World di tingkat internasional maupun regional.

Ia optimistis kemitraan antara Korean Studies Institute dan ANRI dapat menjadi langkah penting dalam memperkuat hubungan kelembagaan serta kerja sama pelestarian warisan dokumenter di kawasan Asia-Pasifik.

Jungsuk Jeon berharap pertemuan dan seminar internasional tersebut menghasilkan kolaborasi nyata yang mampu menjaga pengetahuan, sejarah, dan ingatan kolektif masyarakat demi masa depan warisan dokumenter di Asia dan Pasifik.

Pos terkait