JAKARTA – Indonesia kembali menorehkan capaian dalam pelestarian warisan dokumenter dunia. Sidang 11th UNESCO Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) General Meeting menetapkan tiga warisan dokumenter Indonesia ke dalam Memory of the World Committee for Asia and the Pacific Regional Register. Ketiganya adalah Bo’ Sangaji Kai, Kidung Bhuwana Wināśa, dan koleksi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin.
Penetapan tersebut menjadi pengakuan atas nilai penting ketiga warisan dokumenter dalam merekam perjalanan sejarah, tradisi intelektual, serta hubungan sosial dan budaya masyarakat Indonesia dengan kawasan Asia Tenggara. Capaian ini sekaligus menegaskan kontribusi Indonesia melalui Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dalam pelindungan dan promosi warisan dokumenter di kawasan Asia dan Pasifik.
Kepala ANRI selaku ketua Memory of the World Indonesia, Mego Pinandito menyampaikan bahwa capaian ini merupakan bentuk komitmen Indonesia dalam pelestarian warisan dokumenter. Ia juga menambahkan, kepercayaan UNESCO MoWCAP kepada Indonesia melalui ANRI untuk menjadi tuan rumah menjasi sebuah kehormatan dan bentuk penghargaan dunia terhadap pelestarian warisan dokumenter di Indonesia. Mego juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh nominator dan Sekretariat MoW Indonesia yang sudah berhasil memperjuangkan warisan dokumenter Indonesia dalam register UNESCO MoWCAP.
Adapun warisan dokumenter pertama yang ditetapkan adalah Bo’ Sangaji Kai, naskah yang merepresentasikan sumber primer penting mengenai sejarah Kesultanan Bima, hubungan diplomatik dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara, serta catatan autentik letusan Gunung Tambora pada 1815.
Naskah ini menyimpan informasi berharga mengenai tradisi pemerintahan Kesultanan Bima, termasuk keberadaan Sultanah dan perlindungan hukum bagi perempuan. Kandungan tersebut memberikan perspektif penting untuk memahami kehidupan sosial dan politik masyarakat Bima pada masa lalu.
Nominasi Bo’ Sangaji Kai diajukan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Samparaja Museum Foundation, dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pengakuan ini menegaskan nilai dokumenter naskah tersebut sebagai sumber sejarah lokal yang memiliki relevansi lebih luas bagi kajian sejarah Indonesia dan kawasan.
Warisan dokumenter kedua adalah Kidung Bhuwana Wināśa, yang menghadirkan perspektif lokal mengenai sejarah politik, diplomasi, dan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda yang melibatkan Kerajaan Bali dan Lombok.
Sebagai satu-satunya kidung tradisional Bali yang diketahui mendokumentasikan peristiwa tersebut, naskah ini memiliki nilai penting dari sisi sastra dan sejarah. Kidung ini juga merepresentasikan tradisi intelektual, spiritual, dan kepenulisan masyarakat Bali yang terus hidup hingga kini melalui praktik pelantunan pada Hari Raya Saraswati.
Nominasi ini diajukan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Badung, Griya Agung Mandara Pemaron, dan Griya Gede Belayu. Pengakuan MoWCAP terhadap Kidung Bhuwana Wināśa memperluas pemahaman tentang sejarah Bali dan Lombok melalui sumber dokumenter yang lahir dari tradisi sastra masyarakat.
Warisan dokumenter ketiga berasal dari Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, yakni arsip Jejaring Sastra Asia Tenggara dalam Koleksi Sastra Modern. Koleksi ini merekam perkembangan kesusastraan modern serta hubungan intelektual dan kultural antarsastrawan di kawasan Asia Tenggara.
Digagas oleh H.B. Jassin sejak 1930-an, koleksi tersebut menyimpan dokumentasi autentik berupa korespondensi, catatan kegiatan, dan berbagai arsip kesusastraan. Dokumen-dokumen itu menggambarkan keterhubungan sastrawan Indonesia dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, sekaligus memperlihatkan dinamika pertukaran gagasan dan perkembangan sastra modern.
Nominasi ini diajukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta. Pengakuan tersebut menjadi penguatan terhadap nilai koleksi PDS H.B. Jassin sebagai sumber dokumenter untuk menelusuri sejarah kesusastraan dan jejaring kebudayaan lintas negara.
Ketiga warisan dokumenter tersebut menghadirkan keragaman sumber sejarah dan pengetahuan Indonesia. Bo’ Sangaji Kai merekam sejarah pemerintahan dan hubungan antarkawasan, Kidung Bhuwana Wināśa menyimpan ingatan sejarah melalui tradisi sastra Bali, sedangkan koleksi PDS H.B. Jassin mendokumentasikan jejaring intelektual dan kesusastraan Asia Tenggara.
Pengakuan terhadap ketiganya secara bersama-sama menegaskan kontribusi Indonesia dalam memperkaya memori kolektif dunia, memperkuat pemahaman lintas budaya, serta melestarikan warisan dokumenter yang memiliki nilai penting bagi generasi mendatang.
Sebagai tuan rumah MoWCAP General Meeting ke-11, Indonesia melalui ANRI turut memperkuat kerja sama negara-negara Asia dan Pasifik dalam mengidentifikasi, melindungi, dan mempromosikan warisan dokumenter. Capaian ini diharapkan mendorong semakin luasnya pengenalan terhadap khazanah dokumenter Indonesia serta meningkatkan kesadaran bahwa arsip dan naskah bersejarah merupakan sumber pengetahuan yang perlu dijaga keberlanjutannya.
Sebagai informasi, Sidang MoWCAP ke-11 yang berlangsung di Jakarta menjadi forum bagi negara-negara anggota untuk membahas nominasi warisan dokumenter, laporan perkembangan program Memory of the World, serta menetapkan koleksi yang memenuhi kriteria untuk masuk dalam Register Regional Asia-Pasifik. Dalam sidang tersebut, sebanyak 21 warisan dokumenter dari 10 negara di kawasan Asia dan Pasifik berhasil diregistrasi. Indonesia mengusulkan lima warisan dokumenter dalam register MoWCAP kali ini, tiga dari lima usulan tersebut berhasil lolos dalam register MoWCAP.



















