Dokter RS Brawijaya Ingatkan Varises Rahim pada Perempuan Bisa Picu Nyeri Kronis

dr. William Makdinata, Sp.BTKV, Subsp.VE (K), FIATCVS, FICS (kiri) dan dr. Agatha Pradana, M.Si, Sp.OGSpesialis Obstetri & Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) RS Brawijaya saat media gathering

JAKARTA — Nyeri berulang di perut bagian bawah pada perempuan tidak selalu berkaitan dengan gangguan lambung, saluran pencernaan, infeksi saluran kemih, kista, ataupun miom. Pada sebagian pasien, keluhan tersebut dapat berhubungan dengan gangguan pembuluh darah di area rahim, yang dikenal sebagai varises rahim atau pelvic congestion syndrome (PCS).

Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah vena di sekitar rahim dan ovarium mengalami pelebaran dan aliran darah balik tidak berjalan dengan baik. Akibatnya, darah dapat berkumpul di pembuluh tersebut dan menimbulkan tekanan serta rasa tidak nyaman di area perut bagian bawah.

Bacaan Lainnya

Berbeda dengan varises pada kaki yang dapat terlihat jelas di permukaan kulit, varises rahim berada di dalam tubuh sehingga tidak mudah dikenali secara kasatmata. Gejalanya pun dapat menyerupai berbagai gangguan kesehatan lainnya. Kondisi tersebut membuat sebagian pasien menjalani pemeriksaan ke beberapa dokter sebelum penyebab keluhannya diketahui.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS Brawijaya Antasari, dr. Agatha Pradana, M.Si., Sp.OG, menjelaskan bahwa pasien dengan gangguan ini umumnya tidak langsung datang dengan dugaan adanya masalah pada organ reproduksi. Pasien biasanya terlebih dahulu merasakan pegal atau nyeri di perut bagian bawah yang muncul sesekali dan sulit dijelaskan penyebabnya.

“Pada tahap awal, keluhan tersebut sering dianggap sebagai gangguan ringan. Pasien mungkin mengira rasa tidak nyaman itu disebabkan oleh masalah pencernaan, kelelahan, atau kondisi lain yang tidak berbahaya. Ketika rasa sakit kembali muncul, pasien cenderung mengonsumsi obat pereda nyeri tanpa mengetahui penyebab utamanya,” ujar dr Agatha pada media gathering yang digelar Rabu (14/10/2026).

Padahal, apabila nyeri terus berulang selama berbulan-bulan, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian medis lebih lanjut.

Salah satu tantangan dalam mengenali varises rahim adalah gejalanya yang tidak selalu spesifik. Nyeri dapat terasa tumpul, seperti pegal atau berat di perut bagian bawah. Keluhan bisa muncul dan menghilang, kemudian kembali terasa ketika pasien menjalani aktivitas sehari-hari.

Dalam sejumlah kasus, nyeri dapat berlangsung lama dan mengganggu kualitas hidup. Rasa tidak nyaman juga bisa bertambah ketika seseorang berdiri atau duduk dalam waktu lama, melakukan aktivitas tertentu, maupun saat dan setelah berhubungan seksual.

Keluhan ketika menstruasi juga perlu diperhatikan, terutama apabila intensitas nyerinya tidak biasa atau jauh lebih berat dibandingkan yang selama ini dialami pasien.

Namun, gejala-gejala tersebut tidak secara otomatis menunjukkan varises rahim. Nyeri panggul kronis dapat disebabkan oleh beragam kondisi, termasuk endometriosis, adenomiosis, kista ovarium, miom, infeksi, maupun gangguan pada saluran kemih dan pencernaan. Karena itu, pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk membedakan penyebab nyeri dan menentukan penanganan yang sesuai.

Diakui dr. Agatha, pasien sering kali menjalani pemeriksaan awal ke dokter penyakit dalam untuk memastikan apakah terdapat gangguan pada saluran pencernaan. Jika tidak ditemukan penyebab yang jelas, pasien dapat menjalani pemeriksaan lanjutan sesuai dengan gejala yang dialami.

Dalam beberapa kasus, pasien juga berkonsultasi dengan dokter urologi karena nyeri dianggap berkaitan dengan saluran kemih.

Proses berpindah dari satu dokter ke dokter lain ini dikenal secara informal sebagai doctor shopping. Meski mencari pendapat medis tambahan dapat membantu, pemeriksaan yang terarah dan komunikasi antardokter penting agar pasien tidak menjalani pemeriksaan berulang tanpa mendapatkan gambaran penyebab penyakit yang lebih jelas.

Menurut dr. Agatha, perempuan yang mengalami nyeri berulang dan terlokalisasi di perut bagian bawah sebaiknya mempertimbangkan pemeriksaan ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi, terutama apabila keluhan tidak berkaitan jelas dengan buang air kecil atau buang air besar. Dokter kemudian akan mengevaluasi kemungkinan gangguan organ reproduksi maupun penyebab lain berdasarkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan.

Mengapa varises dapat terjadi di sekitar rahim?

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular, dr. William Makdinata, Sp.BTKV, Subsp.VE (K), FIATCVS, FICS, RS Brawijaya Sahardjo menjelaskan bahwa varises tidak hanya dapat terjadi di tungkai. Pelebaran pembuluh darah vena juga dapat ditemukan di area panggul, termasuk di sekitar organ reproduksi perempuan.

Untuk memahami kondisi ini, masyarakat perlu mengenal cara kerja pembuluh darah vena. Pembuluh darah tersebut bertugas mengembalikan darah dari jaringan tubuh menuju jantung. Pada pembuluh vena, terdapat katup yang membantu menjaga aliran darah agar bergerak ke arah yang semestinya.

Apabila katup tidak berfungsi dengan baik, atau terdapat hambatan pada jalur aliran darah, darah dapat mengalir kembali ke arah yang tidak semestinya dan terkumpul di bagian tertentu. Tekanan yang meningkat dapat menyebabkan pembuluh darah melebar dan berkelok-kelok.

Mekanisme tersebut serupa dengan yang terjadi pada varises kaki. Perbedaannya, varises rahim berada di dalam tubuh sehingga tidak selalu menimbulkan tanda yang mudah terlihat dari luar.

Pada sebagian pasien, gangguan aliran darah dapat berkaitan dengan kelainan anatomi atau penyempitan pembuluh darah yang menghambat aliran balik dari panggul. Salah satu kondisi yang dapat berhubungan dengan gangguan tersebut adalah nutcracker syndrome, yakni keadaan ketika pembuluh vena tertentu, terutama vena ginjal kiri, mengalami penekanan sehingga aliran darah terganggu.

Kondisi seperti ini memerlukan evaluasi khusus karena tidak semua varises panggul mempunyai penyebab yang sama. Dokter perlu menentukan apakah terdapat pelebaran vena, aliran balik yang abnormal, atau hambatan aliran darah yang membutuhkan tindakan tertentu.

Menurut dr. Agatha keluhan pada pembuluh darah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk kondisi anatomi dan perubahan hormonal. Akan tetapi, penyebabnya tidak dapat ditentukan hanya dari usia, jenis pekerjaan, atau kebiasaan aktivitas fisik seseorang.

Dengan demikian, seseorang yang mengalami nyeri di bagian perut bawah tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah varises. Diagnosis harus didasarkan pada evaluasi medis yang sesuai.

Nyeri saat berhubungan seksual dapat memengaruhi kualitas hidup

Selain rasa tidak nyaman di perut bagian bawah, nyeri saat atau setelah berhubungan seksual dapat menjadi salah satu keluhan pada gangguan vena panggul. Keluhan ini sering kali tidak dibicarakan secara terbuka karena dianggap sebagai persoalan pribadi. Padahal, nyeri yang berulang dapat memengaruhi kenyamanan, hubungan pasangan, dan kondisi psikologis pasien.

Lebih lanjut, dr. Agatha menjelaskan bahwa apabila aktivitas seksual selalu disertai rasa sakit, pasangan dapat mengalami kesulitan mempertahankan hubungan intim yang nyaman. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kehidupan seksual dan pada akhirnya memengaruhi upaya pasangan untuk memperoleh keturunan.

Meski demikian, varises rahim tidak serta-merta menyebabkan infertilitas atau ketidaksuburan. Kesuburan merupakan kondisi kompleks yang melibatkan berbagai faktor, mulai dari kualitas sel telur dan sperma, ovulasi, kondisi rahim, saluran tuba, hingga faktor kesehatan lainnya.

Oleh karena itu, apabila pasien mengalami kesulitan memperoleh kehamilan, pemeriksaan kesuburan tetap perlu dilakukan secara menyeluruh. Gangguan pembuluh darah panggul dapat dievaluasi apabila gejala dan temuan medis mengarah pada kondisi tersebut.

Pasien juga perlu menyampaikan keluhan nyeri saat berhubungan seksual kepada dokter. Informasi tersebut dapat membantu dokter menyusun dugaan diagnosis dan menentukan pemeriksaan lanjutan.

Pemeriksaan yang tepat membantu mempercepat diagnosis

Mengingat gejala varises rahim dapat menyerupai penyakit lain, proses diagnosis kata dr William, memerlukan pendekatan yang sistematis. Dokter biasanya memulai dengan menggali riwayat keluhan, termasuk lokasi nyeri, lama berlangsungnya gejala, frekuensi kemunculan, hubungan dengan menstruasi, aktivitas fisik, dan hubungan seksual. Riwayat kehamilan, persalinan, serta penyakit sebelumnya juga dapat menjadi pertimbangan.

Selanjutnya, dokter menentukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang berdasarkan kondisi pasien. Pemeriksaan ultrasonografi atau USG dapat digunakan untuk mengevaluasi organ reproduksi serta, dengan teknik yang sesuai, menilai pembuluh darah panggul dan arah aliran darah. Pada kasus tertentu, dokter dapat mempertimbangkan CT scan, MRI, atau pemeriksaan vena menggunakan kontras untuk mendapatkan gambaran anatomi dan aliran darah yang lebih terperinci.

Tidak semua pasien membutuhkan seluruh pemeriksaan tersebut. Pemilihan metode bergantung pada gejala, dugaan penyebab, hasil pemeriksaan awal, dan apakah tindakan medis lanjutan sedang dipertimbangkan.

Hal penting lainnya adalah membedakan temuan pelebaran pembuluh darah dari penyebab nyeri yang benar-benar dialami pasien. Pelebaran vena pada pemeriksaan pencitraan tidak selalu berarti bahwa kondisi tersebut merupakan sumber utama keluhan.

Karena itu, hasil pemeriksaan harus ditafsirkan bersama riwayat gejala dan temuan klinis. Dokter juga perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya lebih dari satu kondisi yang menyebabkan nyeri panggul.

Pemeriksaan yang terarah diharapkan membantu pasien memperoleh diagnosis yang lebih tepat tanpa mengabaikan kemungkinan penyakit lain yang memerlukan penanganan berbeda.

Tidak semua pasien membutuhkan operasi

Salah satu hal yang perlu dipahami masyarakat adalah bahwa varises Rahim tidak selalu harus ditangani melalui operasi besar. Menurut dr. Agatha, pilihan penanganan ditentukan berdasarkan tingkat keparahan, jenis gangguan, dampak gejala terhadap kehidupan sehari-hari, kondisi kesehatan pasien, serta tujuan pengobatan yang ingin dicapai.

Pada pasien tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pengobatan konservatif, termasuk pemberian obat untuk membantu mengendalikan gejala. Pemilihan obat harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan dilakukan di bawah pengawasan dokter.

Apabila keluhan menetap atau ditemukan kelainan pembuluh darah yang membutuhkan tindakan, dokter dapat mempertimbangkan prosedur intervensi minimal invasif.

Sementara itu, tindakan pembedahan tertentu dapat diperlukan apabila terdapat indikasi yang jelas atau apabila masalah yang ditemukan tidak dapat ditangani secara memadai dengan pendekatan lain.

Agatha menegaskan pentingnya mendiskusikan manfaat, risiko, dan kemungkinan keberhasilan setiap pilihan terapi bersama pasien. Keputusan pengobatan tidak semata-mata didasarkan pada keberadaan varises, tetapi juga pada seberapa besar kondisi tersebut memengaruhi kesehatan dan kualitas hidup.

Pertimbangan untuk mempertahankan organ reproduksi juga menjadi bagian penting dalam perencanaan terapi, terutama bagi pasien yang masih ingin hamil.

Pada pasien usia reproduktif, dokter perlu mempertimbangkan pilihan yang dapat menangani sumber masalah sekaligus mempertahankan fungsi organ apabila secara medis memungkinkan. Sebaliknya, tindakan yang lebih luas hanya dipertimbangkan apabila terdapat alasan klinis yang kuat.

Dengan pendekatan tersebut, pengobatan diharapkan tidak berlebihan, tetapi tetap efektif sesuai kebutuhan pasien.

Kateterisasi sebagai pilihan tindakan minimal invasif

Dalam penanganan gangguan pembuluh darah tertentu, teknologi kateterisasi dapat menjadi salah satu pilihan. Menurut dr. William, pada kasus yang sesuai, dokter dapat memasukkan kateter, yaitu selang medis berukuran kecil, melalui pembuluh darah untuk mencapai bagian yang mengalami kelainan. Prosedur ini dikenal sebagai pendekatan minimal invasif karena tidak memerlukan sayatan besar seperti pada operasi terbuka.

Pada kasus varises rahim yang disebabkan oleh aliran balik vena abnormal, salah satu tindakan yang dapat dipertimbangkan adalah embolisasi. Prosedur tersebut bertujuan menutup pembuluh darah yang menjadi sumber aliran balik abnormal dengan menggunakan bahan atau perangkat medis khusus.

Tujuannya adalah mengurangi aliran darah yang tidak semestinya, sehingga tekanan pada pembuluh vena yang bermasalah dapat berkurang dan gejala pasien berpotensi membaik.

Namun, kateterisasi tidak dapat diterapkan pada semua pasien. Jika penyebab utama keluhan adalah penekanan atau penyempitan pembuluh darah, pendekatan penanganannya dapat berbeda. Pada kondisi tertentu, dokter perlu menilai apakah hambatan aliran darah tersebut membutuhkan tindakan khusus selain embolisasi.

Begitu pula apabila ditemukan penyakit lain pada organ reproduksi, pasien mungkin membutuhkan terapi yang berbeda, termasuk tindakan laparoskopi atau pembedahan sesuai indikasi.

Oleh sebab itu, pemilihan prosedur harus dilakukan setelah dokter memastikan sumber masalah dan menilai anatomi pembuluh darah pasien.

Pendekatan minimal invasif memiliki potensi mengurangi kebutuhan sayatan besar, tetapi tetap merupakan tindakan medis yang mempunyai risiko dan memerlukan evaluasi sebelum serta pemantauan setelah prosedur.

Kolaborasi dokter kandungan dan spesialis vaskular

Agatha dan dr. William menekankan pentingnya kolaborasi lintas spesialis dalam menangani kasus varises rahim. Dokter kandungan memiliki peran dalam mengevaluasi organ reproduksi dan membedakan varises rahim dari gangguan ginekologis lainnya. Sementara itu, dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular dapat membantu mengevaluasi kelainan pembuluh darah serta menentukan apakah diperlukan intervensi vaskular.

Kolaborasi menjadi penting karena nyeri Rahim dan panggul tidak selalu berasal dari satu organ. Pada pasien tertentu, masalah pembuluh darah dapat muncul bersamaan dengan gangguan lain sehingga memerlukan perencanaan pengobatan yang terkoordinasi.

Dalam proses tersebut, keputusan medis perlu melibatkan pasien. Dokter menjelaskan hasil pemeriksaan, pilihan terapi yang tersedia, manfaat dan risikonya, serta kemungkinan dampak terhadap fungsi organ dan rencana kehamilan. Pasien kemudian dapat berdiskusi bersama tim medis untuk menentukan pilihan yang paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

Pendekatan multidisiplin juga membantu menghindari tindakan yang tidak diperlukan. Tidak setiap pasien yang mempunyai varises pada tungkai atau rahim otomatis membutuhkan prosedur pada pembuluh darah panggul. Hubungan antara keluhan, hasil pencitraan, dan sumber masalah harus dipastikan terlebih dahulu.

Varises rahim berbeda dengan tumor rahim

Baik dr Agatha maupun dr William juga menyoroti pentingnya membedakan varises rahim dari tumor atau benjolan pada organ reproduksi. Varises merupakan masalah pada pembuluh darah, sedangkan tumor berkaitan dengan pertumbuhan jaringan yang tidak normal. Keduanya mempunyai mekanisme, pemeriksaan, dan pilihan pengobatan yang berbeda.

Tumor sendiri tidak selalu bersifat ganas. Sebagian tumor bersifat jinak, sedangkan sebagian lainnya dapat bersifat ganas dan memerlukan penanganan khusus.

Sebaliknya, varises rahim bukanlah tumor dan tidak berarti pasien mengalami kanker. Gangguan ini terutama berkaitan dengan pelebaran pembuluh vena, aliran balik darah, atau hambatan aliran darah.

Meski demikian, bukan berarti nyeri bagian pert bawah boleh diabaikan. Keluhan yang menetap tetap perlu diperiksa agar penyebab yang sebenarnya dapat diketahui, termasuk kemungkinan adanya penyakit lain yang membutuhkan penanganan segera.

Pemeriksaan yang tepat membantu dokter menghindari kesalahan dalam menentukan sumber keluhan dan memilih terapi yang sesuai.

Kebiasaan sehari-hari dan faktor risiko

Dalam pembahasan mengenai pencegahan, dr. Agatha dan dr. William menyinggung pentingnya memperhatikan aktivitas sehari-hari, khususnya bagi orang yang harus duduk atau berdiri dalam waktu lama.

Pekerjaan yang menuntut seseorang berada pada posisi yang sama selama berjam-jam dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan memengaruhi sirkulasi pada tungkai. Karena itu, menyelingi pekerjaan dengan perubahan posisi dan aktivitas ringan merupakan kebiasaan yang baik untuk kesehatan secara umum.

Meski demikian, kebiasaan duduk lama atau berlari tidak dapat langsung dinyatakan sebagai penyebab varises panggul pada setiap orang. Gangguan vena dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi anatomi, fungsi katup vena, riwayat kehamilan, dan faktor hormonal.

Aktivitas olahraga juga tidak perlu dihindari hanya karena kekhawatiran terhadap varises. Olahraga sebaiknya dilakukan sesuai kemampuan, dengan peningkatan intensitas secara bertahap. Apabila aktivitas tertentu memicu nyeri panggul yang berulang, pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.

Perubahan hormonal dapat berperan dalam kesehatan pembuluh darah. Namun, hubungan antara hormon, usia, dan varises rahim tidak sederhana. Gangguan ini tidak hanya dapat terjadi pada perempuan menjelang menopause, sehingga keluhan tetap perlu dievaluasi berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

Tidak ada satu kebiasaan atau metode pencegahan yang dapat menjamin seseorang terbebas dari varises rahim. Langkah yang lebih realistis adalah menjaga aktivitas fisik, menghindari posisi statis terlalu lama, dan memeriksakan gejala yang menetap.

Langkah sederhana untuk menjaga kesehatan

Bagi pekerja yang menghabiskan banyak waktu di depan komputer atau harus duduk lama, beberapa kebiasaan dapat diterapkan untuk mendukung kesehatan secara umum. Pertama, luangkan waktu untuk berdiri, berjalan sebentar, atau melakukan peregangan secara berkala. Pengingat setiap satu hingga dua jam dapat membantu seseorang mengubah posisi apabila pekerjaan mengharuskannya duduk dalam waktu lama.

Kedua, lakukan aktivitas fisik secara teratur sesuai kemampuan. Pilih olahraga yang nyaman dan tingkatkan intensitas secara bertahap, terutama bagi orang yang baru mulai berolahraga.

Ketiga, perhatikan pola gejala tubuh. Catat kapan nyeri muncul, berapa lama berlangsung, apakah berkaitan dengan menstruasi atau aktivitas tertentu, serta apakah terdapat keluhan lain. Informasi ini dapat membantu dokter memahami pola keluhan saat konsultasi.

Keempat, jangan terus-menerus mengandalkan obat pereda nyeri tanpa mengevaluasi penyebab keluhan yang berulang. Obat mungkin mengurangi rasa sakit untuk sementara, tetapi tidak selalu mengatasi sumber masalahnya.

Kelima, jangan ragu berkonsultasi apabila nyeri panggul berlangsung lama, semakin sering muncul, atau mulai mengganggu pekerjaan, aktivitas, tidur, maupun hubungan seksual.

Langkah-langkah tersebut bukan jaminan untuk mencegah varises rahim tetapi dapat membantu menjaga kesehatan dan mendorong deteksi masalah medis secara lebih dini.

Kapan harus segera mencari pertolongan medis?

Nyeri perut bagian bawah yang berulang sebaiknya tidak diabaikan, tetapi tidak semua keluhan menunjukkan keadaan darurat. Pasien perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami nyeri perut atau panggul yang mendadak dan sangat berat, pingsan, perdarahan banyak, demam tinggi disertai nyeri, atau nyeri yang disertai kemungkinan kehamilan. Gejala tersebut dapat menandakan kondisi serius yang memerlukan evaluasi segera dan tidak boleh langsung dianggap sebagai varises.

Apabila nyeri bersifat kronis tetapi tidak disertai tanda darurat, pasien tetap dianjurkan membuat janji pemeriksaan, terutama jika keluhan berulang selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Pemeriksaan lebih dini dapat membantu mengidentifikasi penyebab, mengurangi ketidakpastian, dan mencegah pasien terus menjalani pengobatan yang tidak sesuai dengan sumber masalah.

“Pasien bisa mendatangi Rumah Sakit Brawijaya untuk mendapatkan penanganan yang tepat,” tutup dr William.

Pos terkait