JAKARTA — Rumah Sakit Kanker Dharmais menandai satu dekade pelayanan transplantasi sumsum tulang atau transplantasi sel punca hematopoietik pada 2026. Perjalanan sejak 2016 tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan kanker darah di Indonesia sekaligus mengurangi kebutuhan pasien untuk menjalani pengobatan di luar negeri.
Perayaan satu dekade layanan transplantasi sumsum tulang yang digelar pada Rabu (30/9/2026) itu dihadiri Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, jajaran manajemen Rumah Sakit Kanker Dharmais, dokter dan tenaga kesehatan, pasien penyintas, donor, serta keluarga pasien.
Perjalanan satu dekade transplantasi di rumah sakit kanker nasional itu tidak hanya ditandai dengan bertambahnya pengalaman klinis, tetapi juga pengembangan teknologi dan metode transplantasi. Salah satu yang tengah dipersiapkan adalah transplantasi haploidentik, yakni transplantasi dengan donor yang memiliki kecocokan HLA sekitar 50 persen dengan pasien.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat menjawab salah satu persoalan terbesar dalam transplantasi alogenik, yakni sulitnya memperoleh donor yang benar-benar cocok.
Dalam sambutannya, Wamenkes Dante menekankan pentingnya penguatan layanan kanker, khususnya kanker darah, mengingat tingginya beban penyakit kanker di Indonesia. Data kanker 2024 menunjukkan terdapat sekitar 474.000 kasus kanker baru setiap tahun di Indonesia. “Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang harus dihadapi sistem kesehatan nasional” kata Wamenkes Dante.
Menurut Wamenkes Dante, kanker bukan semata persoalan statistik. Di balik angka tersebut terdapat pasien yang berasal dari berbagai kelompok usia dan latar belakang, termasuk anak-anak, orang tua, serta anggota keluarga yang harus menghadapi perubahan besar dalam kehidupannya akibat penyakit tersebut. “Ini bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah anak-anak, orang tua, serta saudara-saudara kita yang kehidupannya berubah karena penyakit ini,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah bersama rumah sakit dan seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan tersedianya strategi penanganan kanker yang semakin kuat, mulai dari deteksi, diagnosis, pengobatan hingga perawatan lanjutan.
Dante mengatakan tantangan tersebut juga harus dijawab melalui penguatan rumah sakit kanker nasional dan pengembangan layanan yang mampu menangani kasus-kasus kompleks di dalam negeri.
RS Kanker Dharmais kembangkan transplantasi sumsum tulang
Dalam satu dekade terakhir, Rumah Sakit Kanker Dharmais terus mengembangkan layanan transplantasi sumsum tulang. Layanan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan pasien dengan kanker darah tertentu yang memiliki indikasi untuk menjalani transplantasi.
Menurut Wamenkes Dante, kemampuan rumah sakit dalam menyediakan terapi yang sebelumnya lebih banyak dicari di luar negeri dapat memberikan pilihan pengobatan bagi pasien Indonesia.
Ia menjelaskan, sumsum tulang memiliki fungsi penting dalam pembentukan sel-sel darah. Ketika proses produksi sel darah mengalami gangguan, berbagai penyakit dapat muncul, termasuk keganasan pada sistem pembentukan darah. “Di dalam tulang tersebut ada pabrik yang spesifik yang memproduksi sel-sel darah,” kata Dante.
Ketika “pabrik” tersebut mengalami kesalahan dalam menghasilkan sel, gangguan yang ditimbulkan dapat berkembang menjadi penyakit serius. Karena itu, penanganan kanker darah membutuhkan strategi yang komprehensif, termasuk penguatan fasilitas dan kemampuan rumah sakit dalam memberikan terapi definitif.
Beban kanker terus menjadi tantangan
Ia juga menyinggung perkembangan metode transplantasi yang telah dilakukan di Indonesia, termasuk pergeseran dari transplantasi autologus menuju transplantasi alogenik pada kondisi tertentu. Transplantasi autologus menggunakan sel punca pasien sendiri, sedangkan transplantasi alogenik menggunakan sel punca dari donor yang sesuai. Perkembangan tersebut, kata Dante, menunjukkan bahwa kemampuan tenaga medis dan fasilitas kesehatan Indonesia terus mengalami kemajuan.
Ia mengapresiasi para dokter, perawat, tenaga kesehatan, peneliti, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan layanan transplantasi. Menurutnya, semakin kuatnya layanan di dalam negeri diharapkan membuat pasien tidak selalu harus mencari pengobatan ke luar negeri. “Pasien sebenarnya tidak perlu pergi ke luar negeri untuk melakukan terapi,” ujar Dante.
Lebih lanjut Dante menilai pengembangan transplantasi sumsum tulang perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yakni penguatan ekosistem pelayanan kanker nasional. Pemerintah telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat penanggulangan kanker di Indonesia. Dalam kerangka tersebut, rumah sakit kanker nasional memiliki peran penting dalam mengembangkan layanan rujukan, inovasi terapi, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta penyebaran pengetahuan dan pengalaman kepada fasilitas kesehatan lainnya.
Dharmais juga diharapkan terus berkontribusi dalam pengembangan standar pelayanan kanker dan menjadi salah satu pusat rujukan untuk kasus-kasus kanker yang membutuhkan penanganan kompleks.
Pembiayaan masih menjadi tantangan
Meski kemampuan klinis dan teknologi transplantasi sumsum tulang terus berkembang, Dante mengakui masih terdapat tantangan yang perlu diselesaikan, terutama dari sisi pembiayaan. Mengingat untuk satu pasien transplantasi sumsum tulang dibutuhkan setidaknya Rp1,2 miliar.
Ketersediaan dan akses pembiayaan ini menjadi kunci penting keberlanjutan layanan transplantasi selain kemampuan rumah sakit dan tenaga medis. Dante mendorong agar persoalan pembiayaan terapi transplantasi dapat terus dibahas sehingga pasien yang membutuhkan terapi tersebut memiliki akses terhadap pembiayaan yang memadai. “Kalau masalah pembiayaan tidak bisa selesai, maka tentu kita akan menghadapi tantangan,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa sejumlah perusahaan asuransi swasta telah memberikan dukungan pembiayaan untuk jenis transplantasi tertentu. Namun, menurut Dante, cakupan pembiayaan perlu terus diperkuat agar semakin banyak pasien yang memenuhi indikasi medis dapat memperoleh terapi tanpa terbebani biaya yang sangat besar.
Dante menegaskan bahwa penguatan layanan kanker harus dilakukan secara berkelanjutan, termasuk dari sisi teknologi, sumber daya manusia, riset dan pembiayaan. Dengan semakin berkembangnya layanan transplantasi sel punca di Indonesia, pasien diharapkan memiliki semakin banyak pilihan terapi di dalam negeri.
Pengembangan layanan haploidentical
Pada kesempatan yang sama Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., MMR., QHIA, menyampaikan apresiasi kepada para perintis program, dokter senior, dokter spesialis, tenaga kesehatan lintas disiplin, pasien, donor, keluarga pasien, serta pihak lain yang telah mendukung pengembangan layanan transplaantasi sumsum tulang. “Perjalanan ini mencerminkan dedikasi dan kerja sama para perintis, tenaga kesehatan lintas disiplin, pasien, donor, keluarga, serta seluruh pihak yang telah mendukung tumbuh dan berkembangnya layanan transplantasi di Rumah Sakit Kanker Dharmais,” kata Eniarti.
Menurut Eniarti, hingga 2026 telah dilakukan 16 transplantasi sel punca hematopoietik di Rumah Sakit Kanker Dharmais. “Hari ini kita lakukan transplantasi sumsum tulang pasien ke-17,” jelasnya.
Ia mengatakan layanan yang telah terstandarisasi saat ini mencakup transplantasi alogenik dengan donor yang memiliki kecocokan penuh. Ke depan, rumah sakit juga mempersiapkan pengembangan transplantasi haploidentical. Dengan transplantasi haploidentical ini memungkinkan penggunaan donor dengan tingkat kecocokan sekitar 50 persen. Melalui pendekatan tersebut, pilihan donor bagi pasien dapat menjadi lebih luas dibandingkan hanya mengandalkan donor dengan kecocokan penuh.
“Secara teoritis, tidak ada pasien kanker darah yang memiliki indikasi transplantasi yang tidak memiliki calon donor,” ujar Eniarti.
Meski demikian, setiap keputusan transplantasi tetap harus mempertimbangkan kondisi medis pasien, jenis penyakit, risiko terapi, kesesuaian donor, serta pertimbangan klinis lainnya.
Diakui, transplantasi sel punca hematopoietik merupakan salah satu pilihan terapi bagi pasien dengan kondisi kanker darah tertentu. Prosedur tersebut membutuhkan persiapan yang panjang dan penanganan komprehensif. Pasien dan keluarga juga perlu mendapatkan edukasi mengenai tahapan pengobatan, manfaat, risiko, serta proses pemulihan.
Karena kompleksitasnya, layanan transplantasi membutuhkan kolaborasi multidisiplin yang melibatkan dokter dari berbagai bidang, perawat, tenaga laboratorium, farmasi, ahli gizi, serta tenaga kesehatan lainnya. RS Dharmais menempatkan pengembangan layanan tersebut sebagai bagian dari mandatnya sebagai pusat kanker nasional.
Eniarti mengatakan rumah sakit berkomitmen mengembangkan pelayanan kanker yang bermutu, aman, komprehensif, serta berorientasi pada keselamatan dan kualitas hidup pasien. Komitmen tersebut, harus berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi tenaga kesehatan, inovasi, penelitian, serta kemitraan.
Perayaan satu dekade transplantasi sumsum tulang lanjut Eniarti, menjadi momentum bagi Rumah Sakit Kanker Dharmais untuk mengevaluasi perjalanan layanan sekaligus melihat kebutuhan pengembangan pada masa mendatang. Selain memperingati perjalanan layanan transplantasi, rangkaian kegiatan juga menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman antara tenaga kesehatan, pasien penyintas, donor, dan keluarga.
Dua penyintas transplantasi turut hadir dan membagikan pengalaman perjalanan pengobatan mereka. Kehadiran pasien dan penyintas tersebut menjadi pengingat bahwa di balik pengembangan teknologi dan layanan medis terdapat perjalanan panjang pasien dan keluarga dalam menghadapi penyakit.
Bagi Rumah Sakit Kanker Dharmais, keberlanjutan program transplantasi bukan hanya mengenai bertambahnya jumlah tindakan medis, tetapi juga mengenai kemampuan menyediakan layanan yang aman, bermutu dan dapat diakses oleh masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut dr. Dwi Wahyunianto Hadisantoso, Sp.PD, K-HOM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi-Onkologi Medik (Kanker Darah dan Onkologi) RS Kanker Dharmais sekaligus Kepala Departemen Hematologi dan Terapi Sel Rumah Sakit Kanker Dharmais juga menyampaikan perkembangan kondisi para pasien yang telah menjalani transplantasi. Dari rangkaian pasien yang telah menjalani prosedur tersebut, terdapat satu pasien yang meninggal delapan bulan setelah transplantasi akibat infeksi paru. Kematian tersebut, tidak disertai tanda kegagalan transplantasi maupun kekambuhan penyakit leukemia yang sebelumnya diderita pasien.
Sementara itu, pasien-pasien lainnya hingga kini masih dapat berkumpul bersama keluarga. “Sebagian penyintas bahkan hadir dalam kegiatan peringatan satu dekade transplantasi sumsum tulang, baik secara langsung maupun daring,” katanya.
Kehadiran para penyintas menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut karena memperlihatkan perjalanan panjang pasien setelah menjalani transplantasi. “Pasien-pasien lainnya, alhamdulillah, masih bisa berkumpul hingga saat ini bersama keluarga tercinta,” ujar dr Wahyu.
Perubahan golongan darah setelah transplantasi
Salah satu pengalaman menarik yang terjadi dalam layanan transplantasi tersebut adalah perubahan golongan darah pada salah seorang pasien. Pasien tersebut mengalami perubahan golongan darah dari golongan O menjadi A, mengikuti golongan darah pendonornya setelah transplantasi.
Perubahan tersebut dapat terjadi pada transplantasi sel punca hematopoietik alogenik karena sistem pembentukan darah pasien pada akhirnya dapat berasal dari sel punca donor. Dengan keberhasilan engraftment atau proses sel donor menetap dan membentuk sistem darah baru, karakteristik golongan darah dapat mengikuti sistem hematopoietik donor.
Fenomena tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai bagaimana transplantasi sel punca dapat menggantikan sistem pembentukan darah pasien dengan sistem pembentukan darah yang berasal dari donor.
Diakui dr Wahyu, tantangan utama transplantasi alogenik adalah menemukan donor dengan kecocokan HLA yang memadai. Peluang menemukan donor full match dari saudara kandung tidak selalu besar. Secara umum, kemungkinan seorang pasien memiliki saudara kandung dengan kecocokan HLA penuh berada di kisaran 25 persen.
Sementara itu, apabila pencarian dilakukan terhadap individu yang tidak memiliki hubungan keluarga, peluang menemukan donor yang sesuai dapat menjadi jauh lebih kecil, tergantung pada karakteristik HLA populasi dan ukuran registri donor. Persoalan tersebut semakin kompleks karena jumlah anak dalam keluarga modern cenderung lebih sedikit. Akibatnya, pilihan donor dari saudara kandung juga semakin terbatas.
Indonesia juga masih menghadapi tantangan dalam pengembangan sistem registri HLA dan basis data donor yang luas. Kondisi tersebut mendorong tim transplantasi Rumah Sakit Kanker Dharmais untuk mengembangkan alternatif donor.
Tim Dharmais belajar teknik haploidentik di Singapura
Pada Agustus 2026, tim transplantasi Rumah Sakit Kanker Dharmais disebut kembali ke Singapore General Hospital untuk mempelajari teknik transplantasi haploidentik. Berbeda dengan transplantasi yang membutuhkan donor full match, transplantasi haploidentik memungkinkan donor dengan kecocokan HLA sekitar 50 persen.
Dengan pendekatan tersebut, orang tua maupun anak pasien secara teori dapat menjadi kandidat donor karena hubungan biologis tersebut memungkinkan adanya kecocokan HLA sekitar separuh. “Teknik ini membuka pilihan donor yang jauh lebih luas,” jelasnya.
Jika sebelumnya pasien harus menunggu pencarian donor yang memiliki kecocokan penuh, pendekatan haploidentik memungkinkan keluarga inti menjadi sumber donor alternatif apabila donor full match tidak ditemukan atau tidak dapat digunakan.
“Dengan teknik transplantasi haploidentik, secara teoritis tidak ada lagi pasien kanker darah yang memerlukan transplantasi tetapi tidak memiliki calon donor,” kata dr Wahyu.
Meski demikian, penggunaan donor haploidentik tetap memerlukan evaluasi medis yang ketat. Kecocokan HLA bukan satu-satunya faktor yang menentukan kelayakan donor, dan prosedur transplantasi memiliki risiko yang harus diperhitungkan oleh tim medis.
Rumah Sakit Kanker Dharmais berkomitmen memulai pelayanan transplantasi haploidentik dalam waktu dekat. Pengembangan transplantasi tersebut juga akan didukung oleh fasilitas laboratorium baru di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Rumah sakit menyiapkan Regenerative Advanced Laboratory (RAL) yang akan digunakan untuk pengolahan produk sel, termasuk sel punca yang digunakan dalam layanan transplantasi. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan membuka babak baru pengembangan transplantasi dan terapi berbasis sel di Indonesia.
Laboratorium tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan pengolahan sel donor dengan pendekatan tertentu, termasuk pengurangan komponen sel imun yang berpotensi menimbulkan komplikasi setelah transplantasi.
Salah satu tujuannya adalah membantu mempercepat proses pemulihan pasien sekaligus menekan risiko komplikasi tertentu setelah transplantasi. Pengembangan laboratorium ini juga tidak hanya ditujukan untuk transplantasi sumsum tulang.
Dalam jangka lebih panjang, fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan terapi sel untuk pasien kanker darah, termasuk terapi berbasis chimeric antigen receptor (CAR).
Menjajaki CAR-T dan CAR-NK
Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah CAR-T cell therapy, yaitu terapi yang memodifikasi sel T pasien agar memiliki kemampuan mengenali dan menyerang sel kanker. Selain CAR-T, terdapat pula pengembangan CAR-NK, yakni pendekatan yang menggunakan sel natural killer (NK) yang dimodifikasi dengan reseptor CAR. Terapi berbasis CAR telah berkembang sebagai salah satu pilihan terapi untuk kondisi kanker darah tertentu, khususnya beberapa jenis keganasan sel B.
Namun, penerapan terapi tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Teknologinya kompleks, membutuhkan fasilitas khusus, sumber daya manusia dengan kompetensi tertentu, serta biaya yang tinggi.
Karena itu, pengembangan kemampuan produksi dan pengolahan sel di dalam negeri dipandang penting untuk membuka peluang agar terapi berbasis sel dapat semakin berkembang di Indonesia.
Apabila Rumah Sakit Kanker Dharmais mampu mengembangkan pelayanan CAR-T secara berkelanjutan melalui fasilitas RAL, layanan tersebut berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan terapi kanker berbasis sel. Perkembangan layanan Rumah Sakit Kanker Dharmais menunjukkan bahwa terapi kanker darah tidak lagi hanya bertumpu pada kemoterapi konvensional. Transplantasi sel punca hematopoietik telah menjadi salah satu pilihan terapi bagi pasien dengan penyakit tertentu. Di sisi lain, perkembangan terapi berbasis sel membuka peluang baru untuk menangani kanker secara lebih terarah.

















